Romesh Ranganathan Bergabung Celebrity Traitors: Tekanan Keluarga dan Strategi Hiburan
Baca dalam 60 detik
- Komika asal Inggris Romesh Ranganathan mengungkap alasan di balik keputusannya tampil di musim kedua The Celebrity Traitors BBC.
- Keputusan ini mengejutkan lingkaran terdekatnya, terutama sang ibu yang menuntut kemenangan, berbeda dari sikap santai Romesh.
- Fenomena ini menyoroti bagaimana acara realitas berbasis strategi semakin menjadi tontonan keluarga yang memengaruhi keputusan publik figur.

Romesh Ranganathan, komedian berusia 48 tahun asal Inggris, secara mengejutkan menerima tawaran untuk tampil di musim kedua acara realitas BBC, The Celebrity Traitors. Keputusan ini tidak hanya mengejutkan publik, tetapi juga keluarga dan teman-temannya yang selama ini mengenalnya sebagai penonton setia, bukan peserta.
Dalam wawancara dengan BBC, Romesh mengaku bahwa dirinya sendiri tidak pernah membayangkan akan bergabung. "Saya pikir semua orang terkejut karena banyak teman dan keluarga saya tidak menyangka saya akan muncul di acara seperti ini," ujarnya. Ia menjelaskan bahwa The Celebrity Traitors telah menjadi tontonan keluarga yang rutin dinantikan, momen langka di tengah kesibukan. "Bertentangan dengan anggapan umum, saya menonton banyak hal dan tidak serta-merta meminta ikut serta," tambahnya.
Dorongan terbesar justru datang dari putra bungsunya yang sangat ingin melihat sang ayah beraksi. "Jadi, ini semacam kesalahannya," canda Romesh. Meski begitu, ia menegaskan niatnya untuk bersenang-senang, bukan mengejar kemenangan. Namun, sang ibu memiliki ekspektasi berbeda. "Ibu saya klasik. 'Kamu harus menang. Kamu wajib menang!' Itu bukan kata-kata penyemangat, melainkan tuntutan," tuturnya.
Perbedaan sikap antara Romesh dan ibunya mencerminkan dinamika yang sering terjadi dalam keluarga penonton acara realitas. Sang ibu bahkan mengaku akan memikirkan kemenangan Romesh setiap hari. "Dia bilang, 'Kamu harus menang. Saya akan berdoa setiap hari semoga kamu menang.' Padahal tidak perlu seperti itu. Kita hanya akan bersenang-senang," kata Romesh.
Romesh juga menyoroti bahwa ibunya tidak pernah menonton penampilannya di Live at the Apollo karena bukan penggemar komedi stand-up. "Tapi untuk acara ini, dia peduli. Ini acara yang benar-benar dia tonton," jelasnya. Fenomena ini menunjukkan bagaimana acara realitas seperti The Traitors telah menjadi budaya populer yang menjangkau demografi luas, termasuk orang tua yang biasanya tidak mengikuti dunia hiburan arus utama.
"Saya hanya ingin bermain dengan menyenangkan, tetapi ibu saya ingin saya menang. Itu dua hal yang berbeda," ujar Romesh menggambarkan tekanan yang ia hadapi.
Di Indonesia, fenomena serupa terlihat pada acara realitas seperti Indonesian Idol atau The Voice yang sering menjadi tontonan keluarga. Partisipasi publik figur dalam acara semacam itu tidak hanya meningkatkan rating, tetapi juga memperkuat ikatan keluarga melalui aktivitas menonton bersama. Namun, tekanan dari keluarga untuk meraih kemenangan bisa menjadi pedang bermata dua, memengaruhi pengalaman peserta.
Kehadiran Romesh di The Celebrity Traitors juga menandai pergeseran karier komedian yang biasanya identik dengan panggung stand-up. Ia mengakui bahwa keputusan ini lebih didorong oleh faktor emosional dan keluarga ketimbang ambisi profesional. Hal ini sejalan dengan tren global di mana selebritas semakin terbuka untuk menunjukkan sisi personal mereka melalui acara realitas.
Ke depan, apakah partisipasi Romesh akan mengubah persepsi publik terhadap dirinya sebagai komedian? Atau justru memperkuat citranya sebagai figur yang relatable? Yang jelas, The Celebrity Traitors musim kedua akan menjadi ajang pembuktian bagi Romesh, tidak hanya di mata penonton tetapi juga di hadapan ibunya yang menuntut kemenangan.



