Kebakaran Hutan Landa Kawasan Bromo, 60 Hektare Lahan Hangus
Baca dalam 60 detik
- Luas lahan terbakar di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru setara 80 lapangan sepak bola, memicu penutupan sebagian area wisata.
- Medan terjal dan angin kencang menghambat pemadaman, mendorong penggunaan helikopter water bombing dan teknologi modifikasi cuaca.
- Peristiwa ini menambah daftar panjang karhutla di Sumatra dan Kalimantan yang kerap memicu kabut asap lintas batas.

Kebakaran hutan dan lahan kembali melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) di Jawa Timur, menghanguskan lebih dari 60 hektare area yang setara dengan 80 lapangan sepak bola. Peristiwa ini memaksa otoritas setempat menutup sebagian kawasan wisata Bromo hingga batas waktu yang belum ditentukan, menyusul meluasnya titik api yang sulit dijangkau tim darat.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam keterangan resminya, Kamis (8/8), mengungkapkan bahwa medan yang terjal menjadi kendala utama dalam upaya pemadaman. Sejumlah titik panas berada di lereng curam Gunung Bromo, membuat petugas kesulitan melakukan pendekatan langsung. Kondisi ini diperparah oleh hembusan angin kencang yang berpotensi mempercepat perambatan api ke area lain.
Juru Bicara BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa pihaknya telah mengerahkan dua helikopter water bombing untuk menjangkau titik-titik api di lereng yang sulit diakses. Selain itu, operasi modifikasi cuaca seperti teknologi hujan buatan juga disiapkan sebagai langkah antisipasi tambahan. "Sejumlah titik panas berada di lereng Bromo yang curam dan sulit dijangkau petugas pemadam di darat. Angin kencang juga berpotensi memperluas sebaran api," ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan otoritas setempat. Namun, pola kemunculan karhutla di kawasan ini kerap dikaitkan dengan musim kemarau panjang dan aktivitas manusia, seperti pembukaan lahan atau puntung rokok yang dibuang sembarangan.
Peristiwa ini tidak hanya berdampak pada ekosistem dan sektor pariwisata, tetapi juga menyoroti kerentanan Indonesia terhadap kebakaran hutan yang berulang setiap musim kemarau. Di Pulau Sumatra dan Kalimantan, sejumlah titik api juga dilaporkan muncul sejak awal bulan ini. Di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, seorang warga dilaporkan meninggal dunia akibat kehabisan oksigen saat mencoba menyelamatkan diri dari kepungan asap.
Bagi Indonesia, karhutla bukan sekadar bencana ekologis, melainkan juga masalah kesehatan masyarakat dan hubungan diplomatik. Kabut asap yang dihasilkan kerap menyebar hingga ke negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, memicu protes dan ketegangan regional. Pada 2019, kebakaran hutan yang meluas di Sumatra dan Kalimantan menyebabkan kerugian ekonomi hingga miliaran dolar dan memicu krisis kesehatan di sejumlah kota.
Langkah BNPB yang melibatkan teknologi modifikasi cuaca menunjukkan adanya upaya adaptasi terhadap tantangan medan yang ekstrem. Namun, para ahli lingkungan mengingatkan bahwa solusi jangka panjang harus berfokus pada pencegahan, seperti pengelolaan lahan gambut yang berkelanjutan dan penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku pembakaran lahan.
Penutupan sementara kawasan wisata Bromo, yang merupakan salah satu destinasi andalan Jawa Timur, diperkirakan akan berdampak pada pendapatan masyarakat lokal yang menggantungkan hidup pada sektor pariwisata. Pertanyaannya, akankah otoritas mampu memadamkan api sebelum musim kemarau mencapai puncaknya, atau justru membiarkan bencana ini menjadi siklus tahunan yang terus berulang?



