Buttler Pecahkan Rekor T20 Berkat Saran Teknis Trescothick
Baca dalam 60 detik
- Buttler kini mengoleksi 14.833 run T20, melampaui rekor Pollard.
- Perubahan teknis kecil yang disarankan Trescothick disebut menjadi kunci kebangkitan performanya.
- Konsistensi Buttler di The Hundred 2026 menempatkannya sebagai kandidat kuat top skor musim ini.

Jos Buttler, kapten Inggris yang juga penjaga gawang, resmi mencatatkan namanya sebagai pencetak run terbanyak sepanjang sejarah format T20. Dengan total 14.833 run dari 492 inning, ia menggeser rekor sebelumnya milik Kieron Pollard yang bertengger di angka 14.803. Momen bersejarah itu terjadi saat ia membukukan 51 run dari 20 bola untuk Manchester Super Giants pada Rabu lalu, sekaligus menjadi skor 50+ ketiganya dalam empat inning terakhir.
Kebangkitan performa Buttler tidak lepas dari peran Marcus Trescothick, pelatih batting timnas Inggris. Dalam wawancara terbaru, Buttler mengungkapkan bahwa diskusi mendalam dengan Trescothick membantunya keluar dari periode paceklik run. Ia sempat tampil buruk di Piala Dunia T20 tahun ini dengan rata-rata hanya 10,87 dari delapan pertandingan, yang berujung pada kegagalan Inggris melaju ke final. Namun, sejak menerapkan saran teknis dari Trescothick, performanya meroket, termasuk mencetak 131 run dari 64 bola melawan India di Southampton bulan lalu.
Buttler menjelaskan bahwa masalah utamanya adalah posisi tubuh saat menghadapi bola. "Saya merasa tidak bisa melihat bola dengan baik ketika performa saya menurun. Saya mulai menganalisis posisi trigger movement saya, yang ternyata cenderung memutar alih-alih tetap sejajar. Saya ingin berada dalam posisi di mana sudut bat mengarah ke second slip atau third slip, bukan ke arah wicketkeeper," ujarnya. Setelah memperbaiki detail teknis ini, ia merasa lebih nyaman dan percaya diri di lapangan.
Perubahan ini tidak hanya memengaruhi performa internasionalnya, tetapi juga konsistensinya di The Hundred 2026. Saat ini, Buttler menempati posisi kedua dalam daftar pencetak run terbanyak dengan 277 run, hanya terpaut 13 run dari Mitch Marsh yang memimpin dengan 290 run. Ia juga mencatatkan 20 six, kedua terbanyak setelah Marsh yang memiliki 23 six. Statistik ini menunjukkan bahwa perbaikan teknis yang ia lakukan berdampak langsung pada produktivitasnya di lapangan.
Menariknya, Trescothick tidak hanya berperan sebagai pelatih batting, tetapi juga akan mengambil alih posisi pelatih sementara untuk tim Test Inggris dalam seri melawan Pakistan, menyusul pemecatan Brendon McCullum. Situasi ini menambah dimensi baru dalam dinamika tim, di mana sosok yang sama kini dipercaya untuk memimpin dua format berbeda. Bagi Buttler, kehadiran Trescothick di ruang ganti memberikan ketenangan tersendiri, terutama karena ia merasa teknik yang diajarkan mampu membebaskan pikirannya dari tekanan.
Bagi penggemar kriket di Indonesia, pencapaian Buttler ini menjadi pengingat bahwa kriket adalah olahraga yang mengandalkan detail teknis dan mental yang kuat. Meski popularitas kriket di Indonesia masih terbatas, prestasi seperti ini bisa menjadi inspirasi bagi atlet muda yang menekuni olahraga ini. Dengan semakin berkembangnya turnamen seperti The Hundred yang menawarkan format cepat dan menarik, diharapkan minat terhadap kriket di Indonesia juga ikut meningkat.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Buttler mampu mempertahankan performa ini hingga akhir musim dan membawa Manchester Super Giants meraih gelar. Dengan dukungan teknis yang solid dan mental yang semakin matang, ia tampaknya berada di jalur yang tepat untuk terus mencetak rekor-rekor baru. Namun, seperti yang ia akui sendiri, kriket adalah permainan yang dinamis dan selalu ada ruang untuk evolusi.



