Federasi Atletik Rusia Ajukan Gugatan Baru ke CAS, Tantang Sanksi World Athletics
Baca dalam 60 detik
- Rusia kembali mengajukan banding ke CAS setelah sanksi World Athletics dinilai menghambat hak dan perkembangan atletik domestik.
- Langkah ini mengikuti pelonggaran sanksi oleh IOC dan federasi lain, namun atletik tetap menjadi pengecualian di tengah normalisasi olahraga Rusia.
- Keputusan CAS akan menentukan nasib partisipasi Rusia di Olimpiade Los Angeles 2028 dan menjadi preseden bagi cabang olahraga lain.

Federasi Atletik Rusia (RusAF) kembali mengajukan gugatan ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) untuk menantang sanksi yang dijatuhkan World Athletics sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022. Langkah ini menjadi batu ujian bagi konsistensi kebijakan olahraga global di tengah tren pelonggaran sanksi terhadap atlet Rusia dan Belarusia.
Dalam pernyataan resminya, RusAF menilai sanksi yang berlangsung lebih dari tiga tahun itu melanggar hak organisasi dan menghalangi upaya mewakili kepentingan atlet Rusia di pentas internasional. Direktur Eksekutif RusAF, Boris Yaryshevskiy, menyebut sanksi tersebut 'belum pernah terjadi sebelumnya' dan tidak dialami federasi olahraga lain. Menurutnya, pembatasan ini tidak hanya mengganggu operasional federasi, tetapi juga menghambat perkembangan atletik di Rusia, terutama di kalangan atlet muda.
Gugatan terbaru ini diajukan setelah RusAF melayangkan banding terpisah pada 9 Juli lalu, yang menentang keputusan Dewan World Athletics untuk memperpanjang larangan atlet Rusia dari ajang internasional. Sebelumnya, Komite Olimpiade Internasional (IOC) pada Juli tahun ini secara tentatif mencabut skorsing Rusia, membuka peluang bagi negara tersebut untuk tampil di Olimpiade Los Angeles 2028. Namun, World Athletics hingga kini belum mengikuti jejak tersebut.
Kebijakan World Athletics kontras dengan sejumlah federasi internasional lain yang mulai melonggarkan pembatasan. Federasi Senam Dunia, Akuatik Dunia, dan Tinju Dunia telah mengizinkan atlet Rusia dan Belarusia untuk berkompetisi kembali, meski dengan status netral. Sebagian atlet dari kedua negara itu juga tampil sebagai netral di Olimpiade Paris 2024 dan Olimpiade Musim Dingin Milan tahun ini.
Keputusan CAS nantinya akan menjadi preseden penting bagi dunia olahraga. Jika gugatan RusAF dikabulkan, tekanan terhadap World Athletics untuk mencabut sanksi akan semakin besar. Sebaliknya, jika ditolak, Rusia harus menerima kenyataan pahit bahwa atletik tetap menjadi pengecualian di tengah normalisasi hubungan olahraga internasional.
Bagi Indonesia, dinamika ini relevan mengingat posisi negara sebagai anggota aktif dalam berbagai federasi olahraga internasional. Sikap yang diambil World Athletics dan CAS dapat memengaruhi cara federasi nasional menyikapi isu politik dalam olahraga. Selain itu, keputusan ini juga berpotensi berdampak pada partisipasi atlet-atlet dari negara yang terkena sanksi dalam ajang seperti Asian Games atau SEA Games, di mana Rusia dan Belarusia tidak terlibat langsung, namun prinsip yang dipegang dapat menjadi acuan.
Pertanyaan besarnya kini: apakah CAS akan mempertahankan sikap tegas World Athletics atau justru mengikuti arus pelonggaran yang dilakukan IOC dan federasi lain? Jawabannya akan menentukan arah kebijakan olahraga global dalam beberapa tahun ke depan, sekaligus menguji independensi badan arbitrase tertinggi dalam menyelesaikan sengketa yang sarat muatan politik.



