Gempa Kumamoto Tewaskan 35 Orang, Rantai Pasok Otomotif dan Chip Jepang Terancam
Baca dalam 60 detik
- Gempa berkekuatan 7,1 SR di Kumamoto, Jepang, menewaskan sedikitnya 35 orang dan memicu ledakan di pusat perbelanjaan Aeon Mall.
- Pabrik otomotif dan semikonduktor di kawasan tersebut terhenti, mengancam rantai pasok global, termasuk ke Indonesia.
- Pemulihan diperkirakan bertahap, dengan pabrik seperti Renesas baru beroperasi penuh pada Agustus, sementara Toyota menutup sejumlah lini produksinya.

Gempa bumi berkekuatan 7,1 skala Richter yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang barat daya, pada Selasa (28/7) lalu telah menewaskan sedikitnya 35 orang. Tim penyelamat dengan bantuan anjing pelacak masih melakukan pencarian terakhir di reruntuhan Aeon Mall, yang hancur akibat ledakan gas diduga terjadi lebih dari satu jam setelah guncangan utama. Jumlah korban diperkirakan masih akan bertambah seiring proses evakuasi di sejumlah titik terdampak.
Juru bicara pemerintah Jepang, Minoru Kihara, mengonfirmasi bahwa dari 11 orang yang berhasil dievakuasi dari Aeon Mall, tujuh di antaranya ditemukan meninggal. Sementara itu, di lokasi pabrik kertas yang juga menjadi lokasi bencana utama, sembilan jenazah telah ditemukan dan operasi pencarian resmi dihentikan. Dua korban selamat lainnya berhasil ditarik dari reruntuhan cerobong asap yang ambruk.
Dampak gempa tidak hanya berhenti pada korban jiwa. Sekitar 4.500 rumah tangga di Kumamoto masih belum mendapatkan aliran listrik, dan 79.000 rumah tangga lainnya kekurangan air bersih. Situasi ini diperparah dengan perkiraan suhu yang mendekati 40 derajat Celsius pada akhir pekan ini, memaksa ribuan warga, terutama lansia, mengungsi ke tempat penampungan darurat. Sebanyak 5.100 personel militer telah dikerahkan untuk membantu proses evakuasi dan distribusi bantuan.
Di tengah upaya penyelamatan, kabar baik datang dari 25 ekor kucing yang berhasil diselamatkan dari 'cat cafe' di dalam Aeon Mall dan dipindahkan ke Hiroshima. Kisah ini menjadi perhatian luas di media sosial dan sedikit meringankan suasana duka.
Gempa ini juga menghentikan operasi sejumlah pabrik otomotif dan semikonduktor di kawasan Kumamoto, yang dikenal sebagai 'Silicon Valley'-nya Jepang karena konsentrasi perusahaan chip. Menurut para ekonom, gangguan kali ini mungkin tidak separah gempa 2016, tetapi dampaknya terhadap rantai pasok global patut diwaspadai. Toyota, misalnya, telah menangguhkan produksi di tiga pabrik di Fukuoka hingga 5 Agustus, dan bahkan satu pabrik di Aichi yang berjarak lebih dari 600 kilometer akan berhenti beroperasi pekan depan. Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan keselamatan dan situasi di perusahaan distribusi serta pemasok.
Denso, produsen komponen otomotif terbesar kedua di dunia, melaporkan bahwa salah satu pemasoknya di area terdampak terkena imbas, sementara 13 pemasok lainnya masih melakukan penilaian. Beberapa pemasok tier-2 dan tier-3 yang memasok komponen ke pemasok tier-1 juga dilaporkan terdampak. Sementara itu, TSMC, pembuat chip kontrak terbesar di dunia, telah mengevakuasi personel dari pabriknya di Kumamoto segera setelah gempa, tetapi beberapa jam kemudian mulai melanjutkan operasi. Renesas, produsen chip asal Jepang, baru akan melanjutkan operasi di salah satu pabriknya di Kumamoto secara bertahap mulai 5 Agustus, setelah memperbaiki langit-langit yang runtuh, retakan dinding, dan kebocoran air.
Bagi Indonesia, gangguan rantai pasok ini berpotensi berdampak pada industri otomotif dan elektronik dalam negeri yang bergantung pada komponen impor dari Jepang. Meskipun Jepang telah berupaya memperkuat ketahanan pasokan selama puluhan tahun, gempa ini menjadi ujian nyata. Jepang, yang terletak di Cincin Api Pasifik, memang akrab dengan gempa. Pada 2016, Kumamoto dilanda dua gempa dahsyat yang menewaskan 273 orang. Kenangan pahit gempa 2011 berkekuatan 9,0 SR yang memicu tsunami dan meluluhlantakkan Fukushima juga masih membekas.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah seberapa cepat industri dapat pulih dan apakah pelajaran dari gempa 2016 telah cukup untuk memitigasi risiko. Dengan puluhan ribu warga yang masih mengungsi dan infrastruktur yang rusak, pemulihan penuh diperkirakan memakan waktu berminggu-minggu. Apakah rantai pasok global, termasuk ke Indonesia, akan mengalami gejolak berkepanjangan? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun kewaspadaan tetap diperlukan.



