Resep Rahasia Sambal Jadi Jembatan Rehabilitasi: Kisah Eks-Narapidana yang Belajar Meracik Hidup Baru
Baca dalam 60 detik
- Shaly Farid, yang menghabiskan separuh hidupnya di penjara, kini magang di kios ayam penyet untuk menguasai resep sambal legendaris yang tak pernah dibagikan sang mentor.
- Di balik warisan kuliner, program magang ini menjadi ujian kepercayaan dan ketahanan mental bagi mantan narapidana yang berjuang melepaskan stigma masa lalu.
- Keberhasilan Shaly membuka peluang besar bagi reintegrasi sosial mantan narapidana di Asia Tenggara, sekaligus menyoroti pentingnya dukungan komunitas dalam proses pemulihan.

Di tengah hiruk-pikuk Bedok Food Centre, Singapura, sebuah kisah tentang kedua kalinya sedang berlangsung. Shaly Farid, pria 50 tahun yang menghabiskan separuh hidupnya di balik jeruji besi, kini berdiri di depan wajan panas, bertekad menguasai resep sambal yang selama 20 tahun dijaga ketat oleh seorang juru masak kawakan. Ini bukan sekadar belajar memasak; ini adalah pertaruhan terakhir untuk merebut kembali kepercayaan diri dan masa depan yang sempat hilang.
Shaly bukan nama asing bagi sistem pemasyarakatan Singapura. Sejak usia 17 tahun, ia keluar-masuk penjara dengan vonis terkait perkelahian, penganiayaan, dan penyalahgunaan narkoba. Setelah bebas untuk kesembilan kalinya pada Mei 2023, ia mencoba bekerja di hotel dan restoran, namun selalu gagal bertahan. Kecemasan kronis yang dipicu oleh pengalaman isolasi di sel tunggal membuatnya sulit berinteraksi dengan rekan kerja. "Saya tidak bisa akur dengan orang lain," akunya, menggambarkan luka psikologis yang tak kunjung sembuh.
Jalan keluar muncul dari sang pendamping, Ayu Suparman, yang menyarankan agar Shaly membuka usaha kuliner sendiri. Pada September 2024, ia mendirikan gerai nasi lemak "Parut" di Amoy Street Food Centre. Namun, tanpa pengetahuan manajemen bisnis, gerai itu justru menggerus kantongnya hingga S$1.000โ1.500 per bulan. "Saya memilih jadi penjual makanan, tapi saya tidak tahu cara menjalankan bisnis," keluhnya. Di tengah keterpurukan, ia memutuskan untuk belajar dari ahlinya: Roziah Adon, perempuan 66 tahun dengan 42 tahun pengalaman di balik gerai Nur Indah Kitchen.
Roziah, yang dikenal dengan ayam penyet dan nasi ayam panggangnya, telah lama mencari penerus. Anak-anaknya tak tertarik melanjutkan usaha, sehingga ia kerap menerima murid magang. Ketika Shaly datang, Roziah tidak ragu. "Mantan narapidana juga manusia," ujarnya tegas. Namun, ia menetapkan satu syarat: Shaly harus mengikuti semua ajarannya. Perjalanan magang pun dimulai, bukan dengan langsung memasak, melainkan dengan belajar menyajikan makanan yang menggugah selera. "Presentasi itu penting," kata Roziah, mengajarkan bahwa warna dan kesegaran bahan adalah kunci.
Rutinitas magang dimulai pukul 3 pagi. Shaly belajar memotong, merendam ayam, memasak sup, dan nasi. Suatu hari, ia harus menggoreng 150 kilogram ayam sendirian karena rekan kerjanya absen. Di tengah tekanan, kecemasannya kambuh. Ia meletakkan pisau dan pergi, membuat Roziah kecewa. "Ini pertama kalinya saya punya murid yang seperti ini," kata Roziah. Namun, ia tidak menyerah. Beberapa hari kemudian, Shaly kembali dan meminta maaf. Ia mengaku lupa minum obat penenang. Sejak itu, Roziah mewajibkannya minum obat sebelum bekerja, dan pelatihan dilanjutkan.
Puncak magang terjadi ketika Shaly meminta diajari resep sambal andalan Roziahโsesuatu yang tak pernah diajarkan kepada siapa pun. Awalnya, Roziah menolak, mengingat pesan suaminya, Sakuwan Jumangin, agar merahasiakan resep tersebut. Namun, melihat kesungguhan Shaly, Roziah akhirnya luluh setelah tiga hari membujuk suaminya. "Dia benar-benar ingin memulai hidup baru," ujar Roziah. Shaly pun merasa tersentuh: "Mengajarkan resep rahasia itu sesuatu yang luar biasa. Saya merasa, 'alamak, ada yang mempercayai saya'."
Ujian akhir magang berupa uji rasa di hadapan juri: Roziah, blogger kuliner Leslie Tay, penulis makanan Annette Tan, dan penjual makanan generasi kedua Melvin Chew. Bagi Shaly, ini bukan sekadar ujian keterampilan, tetapi juga hak untuk menggunakan nama sang mentor di gerainya. "Kamu tidak hanya mengambil resep, tetapi juga reputasi," jelas Annette Tan. Hasilnya, sambal Shaly mendapat pujian: "Sambal ini pemenangnya. Ini rahasia utamanya," kata Leslie Tay. Semua juri meluluskannya, dan Roziah pun memberikan restu: "Saya izinkan kamu meneruskan nama saya di geraimu."
Kisah Shaly dan Roziah bukan sekadar tentang kuliner. Di Indonesia, fenomena serupa mulai mengemuka: program pelatihan kerja bagi mantan narapidana di sektor kuliner, seperti yang digagas oleh beberapa lembaga pemasyarakatan di Jawa dan Bali. Namun, tantangan terbesar tetap pada stigma sosial dan rendahnya kepercayaan diri. Kisah Shaly menunjukkan bahwa dengan pendampingan yang tepat, mereka bisa bangkit dan bahkan menjadi pewaris warisan budaya. Pertanyaannya, mampukah Indonesia meniru model magang seperti ini untuk mempercepat reintegrasi sosial?
Kini, Shaly tengah mencari lokasi baru untuk gerainya, dengan mimpi meneruskan warisan Roziah. Setiap Sabtu, ia menjual ayam penyet bimbingan sang mentor di gerai lamanya. "Insya Allah, saya akan mencari gerai yang saya impikan," ujarnya penuh harap. Di balik sambal pedas yang ia racik, ada kisah tentang kepercayaan yang diberikan, dan sebuah kehidupan yang perlahan kembali menemukan arti.



