El Nino Ekstrem Menguat, PBB Peringatkan Dunia Masuki 'Wilayah Tak Bertanda'
Baca dalam 60 detik
- Fenomena El Nino yang sedang menguat telah mencatat rekor suhu tertinggi di Pasifik, memicu kekhawatiran akan cuaca ekstrem global.
- Sekretaris Jenderal PBB menyebut krisis iklim 'berakselerasi' dan menyerukan aksi nyata, bukan sekadar retorika.
- Indonesia berpotensi mengalami kekeringan dan kebakaran hutan, sementara belahan bumi utara berisiko menghadapi musim panas yang belum pernah terjadi.

Fenomena iklim El Nino yang tengah menguat telah memecahkan rekor intensitas pada tahap awal pembentukannya, mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengeluarkan peringatan keras bahwa dunia akan menghadapi cuaca yang lebih ekstrem, seolah "menambahkan bahan bakar ke planet yang sudah terbakar". Peringatan ini disampaikan langsung oleh Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, dalam konferensi pers di New York pada Jumat (1/8/2026).
Para ilmuwan dari Columbia University melaporkan bahwa area kunci di Samudra Pasifik yang menjadi indikator kekuatan El Nino telah mencapai suhu tertinggi yang pernah tercatat untuk minggu ke-15 sejak fenomena ini terbentuk. Angka ini mengindikasikan bahwa El Nino tahun ini berpotensi menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah, melampaui rekor-rekor sebelumnya.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), badan khusus PBB, memperkirakan El Nino ini akan terus menguat dan mencapai puncaknya pada akhir tahun, serta bertahan hingga musim semi 2027. Dampaknya, gelombang panas ekstrem, kekeringan parah, dan curah hujan yang tidak menentu diprediksi akan melanda berbagai belahan dunia hingga tahun depan. Guterres, dengan nada tegas, menyatakan bahwa dunia telah memasuki "wilayah yang belum pernah dipetakan" dan krisis iklim kini berada dalam "mode overdrive".
"Dua bulan lalu, saya memperingatkan bahwa El Nino akan tiba di depan pintu kita. Sekarang, ia sudah masuk ke dalam rumah dan menaikkan suhu," ujar Guterres. Ia menambahkan bahwa musim panas yang baru saja berlalu telah menjadi saksi gelombang panas yang memecahkan rekor, kebakaran hutan yang mengerikan di Spanyol, Prancis, dan wilayah lainnya, serta ribuan nyawa melayang akibat suhu yang membakar. "Namun menurut ilmu pengetahuan terbaru, ini hanyalah pemanasan," tegasnya.
Para ahli iklim, termasuk Jeffrey Shaman dari Columbia University, memperingatkan bahwa kombinasi antara El Nino dan pemanasan global akibat pembakaran bahan bakar fosil akan menciptakan dampak yang belum pernah terjadi sebelumnya. "Kita menyaksikan Juli terpanas yang pernah tercatat di wilayah tersebut. Setahun dari sekarang, belahan bumi utara akan mengalami musim panas yang mungkin belum pernah kita alami secara global," kata Shaman. Ia menjelaskan bahwa panas yang terperangkap di lautan akan dilepaskan kembali ke atmosfer selama El Nino, dan panas tersebut akan tetap bertahan bahkan setelah fenomena ini berakhir.
Bagi Indonesia, peringatan ini menjadi sinyal bahaya yang tidak bisa diabaikan. WMO secara spesifik menyebut Indonesia sebagai salah satu wilayah yang berisiko tinggi mengalami kekeringan dan kebakaran hutan akibat El Nino. Kondisi ini tentu akan memperparah kualitas udara, mengancam ketahanan pangan, dan meningkatkan risiko bencana asap lintas batas. Pemerintah dan masyarakat perlu menyiapkan langkah mitigasi yang lebih proaktif, mulai dari pengelolaan air, sistem peringatan dini, hingga kesiapsiagaan menghadapi potensi gagal panen.
Guterres juga menyoroti bahwa dunia terlalu terfokus pada konflik-konflik besar seperti perang di Ukraina, Timur Tengah, dan Sudan, sehingga mengabaikan ancaman eksistensial dari perubahan iklim. Ia bahkan menuding adanya kampanye terorganisir dari industri bahan bakar fosil dan sejumlah negara untuk mengaburkan fakta bahwa krisis ini didorong oleh aktivitas manusia. "Kita mendengar banyak tentang rekor panas, kekeringan, dan kebakaran, tetapi tidak cukup tentang perubahan nyata yang mendorong peristiwa-peristiwa itu: krisis iklim yang semakin cepat yang digerakkan oleh bahan bakar fosil," tegasnya.
Menanggapi situasi ini, Guterres menyerukan penguatan sistem peringatan dini dan sistem pendinginan untuk menghadapi panas ekstrem. Ia juga menyoroti industri garmen yang mempekerjakan 90 juta pekerja, mayoritas perempuan, di mana 17 dari 23 pusat produksi terbesar mengalami peningkatan hari panas berbahaya lebih dari 10% dalam dua dekade terakhir, namun sebagian besar merek global tidak menetapkan standar panas untuk pabrik-pabrik pemasok mereka. "Dunia harus berhenti memicu krisis ini. Lebih banyak batu bara, minyak, dan gas hanya akan mengarah pada masa depan yang lebih mudah terbakar," pungkas Guterres.
Pertanyaan yang kini menggantung: apakah peringatan ini akan cukup untuk mendorong aksi nyata, atau justru tenggelam dalam hiruk-pikuk geopolitik yang masih mendominasi panggung dunia? Satu hal yang pasti, setiap keterlambatan dalam mengurangi emisi hanya akan memperdalam luka yang ditimbulkan oleh krisis iklim, dan Indonesia, sebagai salah satu negara yang paling rentan, akan merasakan dampaknya paling awal.



