Eropa Terbakar: Rekor Panas dan Kekeringan Picu Kebakaran Hutan di Yunani, Prancis, dan Inggris
Baca dalam 60 detik
- Gelombang panas ekstrem melanda Eropa, memicu kebakaran hutan besar di Yunani dan Prancis serta kekeringan terparah di Inggris dalam dua abad.
- Perubahan iklim disebut sebagai faktor utama, dengan Eropa memanas dua kali lebih cepat dari rata-rata global, meningkatkan risiko kebakaran di kawasan Mediterania.
- Para ahli memperingatkan bahwa negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, perlu mengantisipasi pola cuaca ekstrem serupa yang dapat mempengaruhi ketahanan pangan dan energi.

Eropa sedang dilanda musim panas yang memecahkan rekor, dengan kebakaran hutan yang melanda Yunani dan Prancis serta kekeringan ekstrem di Inggris. Kondisi ini memicu evakuasi massal dan kerusakan lingkungan yang luas, menyoroti dampak nyata perubahan iklim di benua yang memanas tercepat di dunia.
Di Yunani, kebakaran yang melanda area barat Athena telah memaksa lebih dari seribu orang mengungsi. Insiden tragis terjadi ketika dua helikopter pemadam bertabrakan di udara, menewaskan dua kru. Petugas pemadam kebakaran terus berjuang melawan api yang dipicu oleh kabel listrik yang rusak dari pembangkit listrik tenaga angin, dengan dua kontraktor ditahan atas tuduhan kelalaian.
Sementara itu, Prancis mencatat kebakaran hutan terbesar dalam sejarahnya, menghanguskan 420 kilometer persegi lahan di dekat Bordeaux. Lebih dari 224.000 orang sempat dievakuasi, menjadikannya evakuasi sipil terbesar di negara itu di luar masa perang. Meskipun api telah terkendali, risiko penyalaan kembali masih tinggi, dan petugas masih berjaga di area yang terdampak.
Inggris mengalami Juli terkering dalam hampir dua abad, dengan Wales dan sebagian besar Inggris secara resmi memasuki status kekeringan. Suhu panas yang menyengat menyertai kekeringan ini, memicu kekhawatiran akan krisis air dan gagal panen. Belanda juga berjuang melawan kebakaran hutan di provinsi Limburg, dengan bantuan helikopter militer dikerahkan untuk memadamkan api.
Para ilmuwan menegaskan bahwa perubahan iklim memperpanjang musim kebakaran dan meningkatkan intensitasnya. Vegetasi yang lebih kering akibat suhu tinggi dan kurangnya hujan menjadi bahan bakar yang mudah terbakar, mempercepat penyebaran api. Uni Eropa telah meningkatkan kerja sama dan deteksi dini, namun negara-negara Mediterania tetap menjadi zona paling rentan.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem. Meskipun secara geografis berbeda, pola kekeringan dan kebakaran hutan yang terjadi di Eropa dapat menjadi preseden bagi negara tropis seperti Indonesia, terutama dalam pengelolaan lahan gambut dan hutan. Langkah-langkah mitigasi dan adaptasi menjadi semakin krusial untuk mengurangi risiko bencana serupa.
"Ini adalah api yang sulit dan telah meresahkan kami," ujar juru bicara dinas pemadam kebakaran Yunani, Yiannis Artopios, saat mengoordinasikan operasi pemadaman yang melibatkan 12 pesawat dan 11 helikopter.
Ke depan, Eropa perlu memperkuat strategi pengelolaan kebakaran jangka panjang, termasuk investasi dalam pencegahan dan teknologi pemadaman. Pertanyaannya, apakah negara-negara lain, termasuk Indonesia, akan belajar dari krisis ini untuk membangun ketahanan iklim yang lebih baik? Tanpa aksi nyata, risiko kebakaran hutan dan kekeringan ekstrem diprediksi akan semakin sering terjadi di berbagai belahan dunia.



