Gelombang Panas Ekstrem Landa Semenanjung Korea, 14 Tewas dan Rekor Suhu 42,5 Derajat Tercatat
Baca dalam 60 detik
- Rekor suhu tertinggi dalam 122 tahun terakhir tercatat di Korea Selatan, mencapai 42,5 derajat Celsius, memicu status siaga darurat.
- Otoritas di kedua Korea memperluas langkah penanganan, termasuk pusat pendinginan dan pengawasan pasokan listrik, seiring konsumsi energi yang melonjak.
- Fenomena ini berpotensi mengganggu rantai pasok global dan menjadi peringatan bagi negara tropis seperti Indonesia untuk memperkuat mitigasi perubahan iklim.

Gelombang panas ekstrem yang melanda Semenanjung Korea telah menewaskan sedikitnya 14 orang dan menyebabkan hampir 1.900 kasus penyakit terkait suhu tinggi sejak pertengahan Mei, mendorong pemerintah setempat menaikkan status siaga ke level tertinggi kedua. Di kota Yangsan, Korea Selatan, termometer mencatat 42,5 derajat Celsius pada akhir pekan lalu—angka terpanas dalam 122 tahun pencatatan meteorologi negeri itu.
Fenomena ini tidak lagi hanya berkutat di wilayah tenggara yang selama ini menjadi episentrum panas. Badan meteorologi Korea Selatan (KMA) memperingatkan bahwa suhu ekstrem kini merambat ke kawasan metropolitan Seoul dan wilayah barat lainnya. Bahkan, media pemerintah Korea Utara melaporkan suhu mendekati 40 derajat Celsius di sejumlah daerah serta malam tropis kelima berturut-turut di Pyongyang. Kondisi ini memaksa otoritas di kedua negara mengaktifkan langkah darurat, mulai dari membuka shelter pendingin hingga mengawasi ketat pasokan listrik yang diprediksi mencapai rekor konsumsi akibat penggunaan AC yang masif.
Perdana Menteri Korea Selatan, Han Seong-sook, telah memerintahkan mobilisasi seluruh sumber daya untuk merespons risiko panas dan kekeringan. Langkah ini menyusul keputusan pemerintah menaikkan level respons gelombang panas ke tingkat kedua tertinggi, yang membuka akses pendanaan untuk bantuan dan inspeksi lebih sering di daerah terdampak. Sementara itu, KMA untuk pertama kalinya mengeluarkan peringatan panas ekstrem level tertinggi untuk sebagian wilayah Seoul dan Provinsi Gyeonggi, seiring peringatan serupa yang masih berlaku di kawasan selatan seperti Busan, Ulsan, dan Gyeongsang Selatan.
Dampaknya terasa hingga ke sektor publik dan kegiatan sehari-hari. Organisasi Baseball Korea terpaksa membatalkan sejumlah pertandingan di Busan dan Changwon, dengan kemungkinan penyesuaian jadwal lebih lanjut jika kondisi berbahaya berlanjut. Warga berbondong-bondong ke pantai, taman air, dan area rekreasi tepi sungai untuk melepas gerah. Di Cheonggyecheon, Seoul, festival air musim panas yang menampilkan kolam renang sementara dan area bermain air menjadi pelarian utama keluarga. "Empat puluh derajat bukan angka yang biasa kami lihat di Korea, tapi sekarang rasanya seperti melihatnya setiap saat," ujar Park Jin-woo, seorang pengunjung berusia 39 tahun, kepada Reuters.
Bagi Indonesia, gelombang panas ekstrem di Semenanjung Korea menjadi pengingat akan kerentanan negara tropis terhadap perubahan iklim. Meski Indonesia tidak mengalami suhu setinggi itu, pola cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi—seperti fenomena El Nino yang memicu kekeringan dan kebakaran hutan—menuntut kesiapsiagaan serupa. Para ahli memperkirakan bahwa frekuensi dan intensitas gelombang panas akan terus meningkat seiring pemanasan global, sehingga investasi dalam infrastruktur adaptasi, seperti sistem peringatan dini dan ruang publik yang tahan panas, menjadi mendesak.
Langkah Korea Selatan yang menaikkan status siaga dan mengerahkan sumber daya secara cepat dapat menjadi contoh bagi negara-negara berkembang dalam merancang respons terhadap bencana iklim. Namun, pertanyaan yang menggantung adalah: apakah negara-negara di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sudah memiliki sistem yang cukup tangguh untuk menghadapi skenario suhu ekstrem yang lebih sering terjadi di masa depan? Dengan tren yang mengkhawatirkan ini, jawabannya mungkin akan menentukan ketahanan jutaan penduduk di kawasan.



