Olahraga Tak Sama Efeknya: Studi Ungkap Latihan Terbaik untuk Tekanan Darah, Gula Darah, dan Kolesterol
Baca dalam 60 detik
- Riset terbaru di jurnal iScience menegaskan tidak ada satu jenis olahraga yang mampu memperbaiki seluruh komponen sindrom metabolik sekaligus.
- Latihan isometrik seperti plank dan wall sit terbukti paling efektif menurunkan tekanan darah, sementara latihan aerobik dan resistensi unggul untuk gula darah dan profil lipid.
- Para ahli mendorong resep latihan yang dipersonalisasi berdasarkan kondisi pasien, bukan sekadar anjuran umum 'perbanyak gerak'.

Sekitar seperempat hingga sepertiga populasi dunia diperkirakan hidup dengan sindrom metabolik, sekumpulan kondisi yang meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes tipe 2. Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal iScience mengungkap temuan penting: tidak ada satu pun jenis olahraga yang menjadi solusi tunggal untuk mengatasi semua komponen sindrom metabolik. Sebaliknya, efektivitas latihan sangat bergantung pada masalah metabolik spesifik yang ingin diperbaiki.
Penelitian yang menganalisis data dari hampir 3.000 partisipan melalui enam database medis utama ini membandingkan sepuluh jenis latihan, mulai dari aerobik, latihan interval intensitas tinggi (HIIT), latihan resistensi, hingga latihan isometrik seperti plank dan wall sit. Hasilnya, setiap jenis latihan memberikan dampak yang berbeda terhadap tekanan darah, gula darah, kadar kolesterol, dan lingkar perut. Misalnya, latihan isometrik terbukti paling efektif menurunkan tekanan darah, sementara latihan aerobik dan resistensi lebih unggul dalam mengontrol gula darah dan profil lipid.
Yaqi Xue, peneliti dari Beijing Normal University yang menjadi penulis utama studi ini, menjelaskan bahwa sindrom metabolik bukanlah satu masalah kesehatan tunggal. "Ini mencakup beberapa kondisi terkait seperti hipertensi, hiperglikemia, dislipidemia, dan obesitas abdominal. Berbagai jenis olahraga mungkin memengaruhi kondisi ini dengan cara yang berbeda," ujarnya. Namun, ia mengakui bahwa bukti ilmiah yang ada masih terbatas untuk membantu dokter memilih latihan yang paling tepat bagi setiap pasien.
Craig Basman, ahli jantung dari Hackensack University Medical Center yang tidak terlibat dalam penelitian, menilai studi ini sangat praktis dan menyegarkan. "Dalam kardiologi, kami sering memberi tahu pasien dengan sindrom metabolik untuk 'lebih banyak berolahraga', padahal kondisi ini merupakan kumpulan masalah yang kompleks," katanya. Menurut Basman, temuan ini memberikan peta jalan berbasis bukti untuk beralih dari rekomendasi generik menuju resep latihan yang sangat personal.
Senada dengan itu, Mir Ali, ahli bedah bariatrik dari MemorialCare Surgical Weight Loss Center, menegaskan bahwa tidak ada satu latihan yang sempurna untuk semua orang. "Resep latihan harus diindividualisasi tergantung pada usia pasien, tingkat mobilitas, dan faktor-faktor yang ingin diatasi," jelasnya. Ia menambahkan bahwa konsistensi adalah kunci: "Saya menyarankan pasien untuk berolahraga setidaknya lima hari seminggu selama 30 menit."
Bagi masyarakat Indonesia, temuan ini relevan mengingat prevalensi sindrom metabolik yang cukup tinggi. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 3 orang dewasa di Indonesia mengalami obesitas sentral, salah satu komponen utama sindrom metabolik. Dengan memahami bahwa berbagai jenis olahraga memiliki efek yang berbeda, masyarakat dapat memilih latihan yang paling sesuai dengan kondisi kesehatannya. Misalnya, bagi mereka yang memiliki tekanan darah tinggi, latihan isometrik seperti wall sit bisa menjadi pilihan; sementara untuk mengontrol gula darah, kombinasi aerobik dan latihan resistensi lebih dianjurkan.
Para peneliti berencana untuk meneliti lebih lanjut bagaimana dosis latihan yang berbeda memengaruhi hasil kesehatan, dengan harapan dapat mendukung resep latihan yang lebih presisi. Pertanyaan yang muncul kemudian: akankah dokter di Indonesia mulai meresepkan jenis olahraga tertentu berdasarkan profil metabolik pasien, alih-alih sekadar menyarankan "perbanyak gerak"? Jika ya, ini bisa menjadi langkah maju dalam pencegahan dan pengelolaan penyakit tidak menular di tanah air.



