PDIP Perkenalkan Metode 'CUP' untuk Perkuat Bonding Ibu-Anak di Tengah Gempuran Era Digital
Baca dalam 60 detik
- PDIP memperkenalkan metode 'CUP' (Cium, Usap, Peluk) sebagai cara sederhana memperkuat ikatan emosional ibu-anak di tengah era digital.
- Dalam peringatan Hari ASI Internasional, kader partai menekankan kolostrum tidak boleh dibuang dan ASI eksklusif tetap tak tergantikan oleh susu formula.
- Para kader juga menyoroti pentingnya program KB di tengah kondisi ekonomi yang menantang, mengingat banyak ibu belum mengatur jarak kelahiran.

Di tengah derasnya arus digital yang kerap menggeser interaksi orang tua dan anak, Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Perempuan dan Anak, Bintang Puspayoga, mengingatkan pentingnya membangun ikatan emosional yang kuat. Ia memperkenalkan metode sederhana bernama 'CUP' โ singkatan dari Cium, Usap, Peluk โ sebagai kunci menjaga kedekatan orang tua dengan buah hati di tengah kesibukan dan distraksi teknologi.
Pernyataan itu disampaikan Bintang dalam peringatan Hari ASI Internasional yang digelar partainya di Lapangan Sekarwangi, Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat, Kamis (7/8). Mengusung tema 'ASI Eksklusif: Perjuangan Dimulai dari Pelukan Ibu', kegiatan ini menghadirkan dialog interaktif bersama puluhan ibu yang membawa bayi di bawah enam bulan. Bintang menegaskan bahwa di era sekarang, selain pemberian ASI eksklusif, sentuhan fisik seperti mencium, mengusap, dan memeluk menjadi elemen yang tidak kalah penting.
โPada era digital sekarang ini, selain ASI eksklusif, istilahnya 'CUP'. Itu harus, supaya kita bonding-nya ketemu sama anak-anak kita. 'CUP' itu apa? 'Cium, Usap, Peluk'. Itu akan menjadi penting bagi ibu-ibu semuanya,โ ujar Bintang dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta.
Hadir pula Ketua DPP Bidang Kesehatan, Ribka Tjiptaning, yang memberikan pemaparan ilmiah mengenai pentingnya kolostrum โ ASI pertama yang berwarna kekuningan. Ribka, yang berprofesi sebagai dokter, menekankan bahwa kolostrum kaya antibodi dan daya tahan tubuh, sehingga tidak boleh dibuang. Ia juga membantah mitos yang kerap membuat ibu takut menyusui, seraya menegaskan bahwa tidak ada susu produksi mana pun yang lebih baik dari ASI eksklusif.
โTidak ada susu produksi mana saja yang lebih bagus dari ASI eksklusif. Jadi jangan takut,โ tegas Ribka. Ia juga mengingatkan pentingnya program Keluarga Berencana (KB) untuk mengatur jarak kelahiran, terutama di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan. Dalam interaksinya, Ribka mendapati masih banyak ibu yang memiliki anak lebih dari dua dan belum mengikuti program KB.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa di tengah modernisasi, peran ibu tetap fundamental. Bagi masyarakat Indonesia, pesan ini relevan mengingat angka partisipasi ASI eksklusif yang masih fluktuatif dan penetrasi digital yang semakin masif di kalangan orang tua muda. Para ahli kesehatan anak pun kerap mengingatkan bahwa stimulasi sentuhan sejak dini berpengaruh pada perkembangan psikologis anak, sehingga metode 'CUP' bisa menjadi pengingat sederhana di tengah rutinitas.
Ke depan, pertanyaannya adalah bagaimana pesan-pesan semacam ini dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang lebih konkret, misalnya dalam bentuk dukungan ruang laktasi di tempat kerja atau edukasi berkelanjutan di posyandu. Apakah partai politik akan terus mendorong agenda kesehatan ibu dan anak ini di luar momen seremonial? Publik tentu berharap agar perhatian terhadap isu ini tidak berhenti pada peringatan tahunan, melainkan menjadi gerakan yang berkelanjutan.



