Kementerian Pendidikan Singapura Perluas Program Bahasa Ibu: Peluang Baru bagi Siswa pada 2027
Baca dalam 60 detik
- Mulai 2027, akses program bahasa ibu di Singapura diperluas lewat pendekatan berbasis pusat dan penambahan sekolah mitra.
- Inisiatif ini menyasar siswa berbakat bahasa serta membuka jalur bagi mereka yang ingin mendalami sastra dan budaya.
- Singapura juga menguji sistem AI untuk menilai esai bahasa Mandarin, menandai langkah integrasi teknologi dalam pendidikan bahasa.

Mulai 2027, Kementerian Pendidikan Singapura (MOE) akan memperluas program elektif bahasa ibu di tingkat sekolah menengah dan junior college, membuka akses lebih luas bagi siswa yang ingin mendalami bahasa Mandarin, Tamil, dan Melayu. Pengumuman ini disampaikan Menteri Pendidikan Desmond Lee dalam Simposium Bahasa Ibu ke-14 pada Sabtu (1/8), menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat penguasaan bahasa dan apresiasi budaya di kalangan pelajar.
Perluasan ini mencakup tiga jalur utama. Untuk bahasa Tamil, MOE akan mengadopsi pendekatan berbasis pusat melalui Umar Pulavar Tamil Language Centre, sehingga siswa dari sekolah yang sebelumnya tidak menawarkan program ini tetap bisa berpartisipasi. Saat ini, program Tamil hanya tersedia di dua junior college—Anderson Serangoon dan National—serta tiga sekolah menengah: Commonwealth, Riverside, dan Yishun Town. Dengan mekanisme baru, transisi dari sekolah menengah ke junior college menjadi lebih mulus bagi siswa yang berminat.
Sementara itu, program elektif bahasa Mandarin di tingkat junior college akan bertambah satu sekolah, menjadikan Anderson Serangoon Junior College sebagai lembaga keenam yang terlibat. Adapun Malay (Special Programme), yang memungkinkan siswa non-Melayu mempelajari bahasa Melayu sebagai bahasa ketiga, akan memperluas jangkauannya dengan menjadikan National Junior College sebagai pusat kelima mulai 2027. Langkah ini dinilai strategis untuk memperkenalkan budaya Melayu di tingkat regional.
Menurut Desmond Lee, kebijakan ini dirancang untuk menciptakan jalur belajar yang lebih dalam bagi siswa yang memiliki minat kuat terhadap bahasa ibu. "Kami ingin membuka jalan bagi siswa yang ingin mempelajari bahasa ibu secara lebih mendalam," ujarnya. Selain itu, MOE juga tengah menguji coba penambahan durasi pembelajaran bahasa ibu di enam taman kanak-kanak, dari satu jam menjadi 1,5 jam per hari. Hasil awal disebut menggembirakan, dan pihaknya sedang mengkaji kemungkinan perluasan program tersebut.
Di sisi lain, MOE berencana meluncurkan sistem penilaian esai berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk bahasa Mandarin di sekolah menengah mulai September. Sistem yang terintegrasi dengan platform Singapore Student Learning Space ini akan membantu guru menangani tugas koreksi rutin seperti tata bahasa, ejaan, dan struktur kalimat, baik untuk esai tulisan tangan maupun ketikan. Lee menekankan bahwa guru tetap memegang kendali penuh dalam meninjau dan mengkurasi umpan balik yang dihasilkan sistem, serta dapat menyesuaikan pengaturannya sesuai tingkat kemampuan siswa.
Inisiatif ini tidak hanya berdampak pada sistem pendidikan Singapura, tetapi juga relevan bagi Indonesia yang tengah berupaya melestarikan bahasa daerah dan meningkatkan kualitas pengajaran bahasa. Model Singapura yang memadukan pendekatan berbasis pusat, integrasi teknologi, dan kolaborasi dengan komite bahasa dapat menjadi referensi bagi kebijakan pendidikan di tanah air. Namun, tantangan yang dihadapi Indonesia lebih kompleks mengingat keberagaman bahasa daerah yang jauh lebih banyak.
Ke depan, keberhasilan program ini akan bergantung pada kesiapan infrastruktur, pelatihan guru, dan adopsi teknologi. Pertanyaan yang muncul: apakah model serupa dapat diadaptasi di Indonesia, khususnya untuk bahasa daerah yang terancam punah? Dengan komitmen politik yang kuat, bukan tidak mungkin langkah Singapura menjadi inspirasi bagi penguatan pendidikan bahasa di kawasan.



