Pemilu Negeri Sembilan: 401 TPS Dibuka Serentak, Target Partisipasi 75 Persen
Baca dalam 60 detik
- Seluruh 401 tempat pemungutan suara untuk pemilu negara bagian Negeri Sembilan telah beroperasi sejak pukul 08.00 waktu setempat, Sabtu (1/8), dengan 859.760 pemilih terdaftar.
- Komisi Pemilihan Umum Malaysia menargetkan tingkat partisipasi pemilih antara 72 hingga 75 persen, dan hasil awal diperkirakan keluar sekitar pukul 22.00 malam ini.
- Peta persaingan diwarnai dominasi Pakatan Harapan yang bertarung di 36 kursi, disusul Barisan Nasional (25), dan Perikatan Nasional (11), dengan total 103 kandidat.

Seremban, 1 Agustus 2026 โ Sebanyak 401 tempat pemungutan suara (TPS) untuk pemilihan umum negara bagian (PRN) Negeri Sembilan ke-16 resmi dibuka serentak pada pukul 08.00 pagi tadi. Sebanyak 859.760 pemilih terdaftar, termasuk 7.391 pemilih pos, memiliki hak untuk menentukan wakil mereka di 36 kursi Dewan Undangan Negeri (DUN). Proses pencoblosan akan berlangsung hingga pukul 18.00 di berbagai lokasi seperti sekolah, balai raya, dan perguruan tinggi.
Komisi Pemilihan Umum (EC) Malaysia menargetkan partisipasi pemilih mencapai 72 hingga 75 persen, sejalan dengan tren pemilu negara bagian sebelumnya. Hasil awal diperkirakan mulai diumumkan sekitar pukul 22.00 malam ini, dengan hasil lengkap ditargetkan tuntas sebelum tengah malam. Angka ini menjadi perhatian karena tingkat partisipasi yang tinggi sering kali menjadi indikator legitimasi pemerintahan yang terbentuk.
Menariknya, pada pemungutan suara awal yang digelar 28 Juli lalu, partisipasi mencapai 91,06 persen, melampaui target EC sebesar 90 persen. Dari total 14.995 pemilih awal, angka ini menunjukkan antusiasme yang cukup tinggi, meski cuaca diprediksi kurang bersahabat pada sore hari. Badan Meteorologi Malaysia memperkirakan hujan lebat dan badai petir akan melanda sebagian besar wilayah Negeri Sembilan pada siang hingga sore, setelah cuaca cerah di pagi hari.
Peta persaingan politik di Negeri Sembilan kali ini diwarnai oleh 103 kandidat yang bertarung. Pakatan Harapan (PH) menguasai seluruh 36 kursi yang diperebutkan, diikuti Barisan Nasional (BN) dengan 25 kandidat, dan Bersatu dengan 24 calon. Perikatan Nasional (PN) menempatkan 11 kandidat, sementara empat calon independen turut meramaikan kontestasi. Partai-partai kecil seperti Berjasa, Parti Orang Asli Malaysia (ASLI), dan Parti Sosialis Malaysia (PSM) masing-masing hanya menurunkan satu calon.
Bagi Indonesia, dinamika pemilu di Negeri Sembilan memiliki relevansi tersendiri. Negeri Sembilan merupakan salah satu negara bagian dengan populasi etnis Minangkabau yang signifikan, yang memiliki ikatan historis dan kultural dengan masyarakat Sumatera Barat. Hasil pemilu ini dapat menjadi indikator stabilitas politik Malaysia, yang merupakan mitra dagang utama Indonesia di ASEAN. Perubahan komposisi politik di tingkat negara bagian berpotensi memengaruhi kebijakan ekonomi dan investasi di kawasan tersebut, yang pada gilirannya berdampak pada hubungan bilateral kedua negara.
Pengamat politik menilai bahwa persaingan di Negeri Sembilan kali ini cukup ketat, terutama antara PH dan PN. PH yang berkuasa di tingkat federal berusaha mempertahankan dominasinya, sementara PN mencoba merebut basis dukungan dengan isu-isu lokal dan nasional. Kehadiran calon independen dan partai kecil menambah kompleksitas peta politik, meski secara matematis mereka sulit memenangkan kursi.
Cuaca menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Jika hujan deras mengguyur pada sore hari, partisipasi pemilih bisa menurun, terutama di daerah pedesaan yang aksesnya sulit. EC telah menyiapkan langkah antisipasi, termasuk memastikan TPS tetap beroperasi meski cuaca buruk. Namun, pengalaman pemilu sebelumnya menunjukkan bahwa cuaca jarang mengubah hasil akhir secara signifikan.
Dengan proses pemungutan suara yang masih berlangsung, semua mata kini tertuju pada penghitungan suara malam ini. Pertanyaan besarnya adalah apakah PH mampu mempertahankan mayoritas di Negeri Sembilan, atau justru PN berhasil menembus dominasi mereka. Hasilnya akan menjadi sinyal penting bagi peta politik Malaysia menjelang pemilu federal berikutnya, sekaligus menjadi pelajaran bagi Indonesia dalam mengelola pemilu yang kredibel dan partisipatif.



