FIFA Batalkan Rencana Investasi Swasta di Piala Dunia Setelah Gelombang Penolakan
Baca dalam 60 detik
- FIFA menghentikan wacana pembentukan anak usaha komersial yang sempat ditaksir bernilai US$20 miliar.
- Rencana itu memicu ancaman boikot dari UEFA serta pengunduran diri penasihat senior FIFA, Carlos Cordeiro.
- Keputusan ini menyelamatkan tata kelola sepak bola global dari potensi konflik kepentingan, namun memunculkan pertanyaan soal sumber pendanaan baru.

FIFA resmi mengubur wacana keterlibatan investor swasta dalam turnamen-turnamen andalannya, termasuk Piala Dunia, menyusul rentetan penolakan keras dari berbagai federasi sepak bola dunia. Keputusan yang diumumkan Jumat (31/7) itu menjadi kekalahan diplomatis bagi presiden Gianni Infantino, yang sebelumnya mengusung rencana tersebut sebagai jalan memperkuat keuangan organisasi.
Gagasan yang dilontarkan awal pekan itu membayangkan pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE), sebuah anak usaha komersial dengan valuasi US$20 miliar. Lewat skema ini, FIFA berharap mengumpulkan dana hingga US$4,2 miliar yang kemudian didistribusikan ke 211 asosiasi anggota. Setiap federasi bakal menerima US$20 juta pada awal 2027, plus kenaikan alokasi dana untuk periode 2027โ2030 dari US$8 juta menjadi US$20 juta.
Namun, respons di lapangan jauh dari harapan. UEFA, otoritas sepak bola Eropa, dengan tegas menyatakan tidak akan mengirim tim nasionalnya ke kompetisi FIFA selama proposal itu masih hidup. AFC dan CONCACAF, yang mewakili Asia serta Amerika Utara dan Karibia, juga melontarkan kecaman serupa. Yang lebih memukul Infantino, penasihat seniornya sendiri, Carlos Cordeiro, memilih mundur sambil menyebut rencana itu sebagai "kesepakatan buruk bagi asosiasi anggota, buruk bagi sepak bola, dan buruk bagi masa depan jangka panjang olahraga ini".
Dalam pernyataan resminya, Infantino mengklaim proyek tersebut dirancang untuk memperkuat asosiasi anggota dan hanya akan dieksekusi jika didukung mayoritas. Namun setelah mendengarkan masukan, ia mengakui bahwa proyek itu justru menciptakan perpecahan yang tidak lagi sejalan dengan tujuan awal. "Setelah mendengarkan dengan saksama semua pandangan, menjadi jelas bahwa proyek ini telah menciptakan perpecahan yang, apa pun tingkat dukungannya, tidak lagi sejalan dengan tujuan yang ditetapkan sejak awal," ujarnya.
Keputusan ini menjadi sorotan bagi tata kelola sepak bola global, terutama di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang komersialisasi berlebihan. Bagi Indonesia, yang tengah giat membenahi sepak bola nasional, dinamika ini memberikan pelajaran berharga. Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, yang juga menjabat anggota Dewan FIFA, tentu mencermati bagaimana keputusan ini memengaruhi arah kebijakan FIFA ke depan. Meski PSSI tidak secara langsung terlibat dalam polemik ini, stabilitas keuangan FIFA akan berdampak pada program pengembangan sepak bola di negara berkembang, termasuk Indonesia.
Kegagalan rencana ini juga membuka pertanyaan besar: dari mana FIFA akan mendapatkan pemasukan tambahan di tengah meningkatnya biaya penyelenggaraan turnamen? Infantino sebelumnya bersikeras melanjutkan konsultasi meski mendapat kecaman, namun tekanan dari federasi-federasi kunci terbukti terlalu kuat. Langkah ini bisa menjadi titik balik bagi Infantino, yang kini harus mencari cara lain untuk memenuhi janji peningkatan pendanaan bagi asosiasi anggota tanpa mengorbankan independensi FIFA.
Ke depan, keputusan ini berpotensi memperkuat posisi UEFA dalam negosiasi dengan FIFA, terutama terkait kalender pertandingan internasional yang padat. Bagi pengamat, ini adalah pengingat bahwa sepak bola bukan sekadar bisnis; ia tetap memiliki akar komunitas yang kuat. Pertanyaannya, akankah FIFA belajar dari pengalaman ini untuk lebih transparan dan inklusif dalam merumuskan kebijakan strategisnya? Atau justru akan mencari celah lain untuk menarik investasi swasta dengan cara yang lebih halus?



