FIFA Batalkan Rencana Investasi Swasta di Piala Dunia: Kekalahan Politik Infantino
Baca dalam 60 detik
- Gianni Infantino menghentikan rencana penjualan saham turnamen FIFA setelah mendapat tentangan luas dari konfederasi regional.
- Skema yang menawarkan 40 juta dolar AS ke 211 asosiasi anggota ini memicu krisis kepercayaan, bahkan memaksa salah satu penasihat seniornya mundur.
- Keputusan ini menjadi pukulan telak bagi Infantino menjelang kongres pemilihan presiden FIFA pada Maret 2025.

Presiden FIFA, Gianni Infantino, secara resmi mengubur rencana kontroversial untuk menjual sebagian hak kepemilikan turnamen utama kepada investor swasta. Langkah ini diambil setelah gelombang penolakan dari berbagai konfederasi sepak bola dunia, yang menilai skema tersebut mengancam independensi olahraga ini. Dalam pernyataannya, Infantino mengakui bahwa proyek yang semula digadang-gadang sebagai sumber pendanaan baru itu justru "menciptakan perpecahan" dan tidak lagi sejalan dengan tujuan awalnya.
Rencana yang bocor ke publik beberapa pekan lalu itu menawarkan insentif sebesar 40 juta dolar AS (sekitar Rp 620 miliar) kepada masing-masing dari 211 asosiasi anggota FIFA jika mereka mendukung usulan investasi swasta di turnamen, termasuk Piala Dunia pria dan wanita. Namun, tawaran yang tampak menggiurkan itu justru memicu reaksi berantai. Uni Sepak Bola Eropa (UEFA) menjadi pihak pertama yang secara tegas menyatakan akan memboikot Piala Dunia jika rencana tersebut direalisasikan. Sikap UEFA kemudian diikuti oleh Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (CONCACAF) serta Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC).
Yang lebih mengejutkan, manajemen internal FIFA pun ikut terguncang. Kepala Operasional FIFA, Kevin Lamour, mengungkapkan bahwa administrasi FIFA merasa "tertipu" oleh proyek tersebut. Sementara itu, Carlos Cordeiro, penasihat senior Infantino untuk strategi global dan tata kelola, memilih mundur dari jabatannya. Cordeiro menilai proposal itu sebagai "kesepakatan buruk bagi sepak bola" yang akan "menggadaikan masa depan sepak bola". Ia menegaskan bahwa menjual hak turnamen kepada investor swasta sama saja dengan menyerahkan kendali olahraga ini kepada kepentingan komersial jangka pendek.
Konteks Indonesia: Meski Indonesia tidak secara langsung terlibat dalam dinamika internal FIFA, keputusan ini memiliki implikasi bagi sepak bola nasional. Sebagai salah satu negara dengan basis penggemar sepak bola terbesar di dunia, Indonesia berkepentingan untuk memastikan FIFA tetap dikelola secara transparan dan akuntabel. Rencana investasi swasta yang batal ini seharusnya menjadi pelajaran bagi PSSI untuk tidak tergoda oleh tawaran pendanaan instan yang dapat mengorbankan kedaulatan olahraga. Selain itu, dengan adanya potensi perubahan kepemimpinan FIFA, Indonesia perlu mencermati arah kebijakan global yang akan berdampak pada alokasi dana pengembangan sepak bola di negara berkembang.
Penolakan yang meluas ini menunjukkan melemahnya posisi Infantino di dalam FIFA. Dengan 136 dari 211 suara yang berpotensi menentang, rencana tersebut tidak akan pernah mendapatkan persetujuan mayoritas. Infantino sendiri mengakui bahwa ia membutuhkan dukungan setidaknya 106 suara untuk meloloskan proposal, sebuah angka yang mustahil dicapai setelah AFC bergabung dengan kubu penentang. Bahkan, Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, secara terbuka menyebut Infantino sebagai "orang yang salah" untuk memimpin FIFA, sebuah pernyataan yang menambah tekanan politik terhadap presiden berusia 56 tahun itu.
Meskipun FIFA sempat bersikukuh melanjutkan rencana tersebut pada Jumat lalu dengan dalih "tidak ada yang menjual sepak bola", akhirnya Infantino menyerah. Ia kini berjanji untuk "menyatukan kembali semua pihak yang berkepentingan" demi kepentingan bersama. Namun, pertanyaannya adalah apakah langkah ini cukup untuk menyelamatkan kursinya? Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) dan Oseania (OFC) masih akan membahas rencana ini pada Agustus mendatang, sementara CONMEBOL, konfederasi Amerika Selatan, masih meminta klarifikasi lebih lanjut dari FIFA. Ketidakpastian ini menandakan bahwa krisis kepercayaan terhadap Infantino belum sepenuhnya reda.
Keputusan untuk membatalkan rencana investasi swasta ini merupakan kemenangan bagi mereka yang memperjuangkan tata kelola sepak bola yang lebih bersih dan transparan. Namun, ini juga menjadi sinyal bahwa era Infantino mungkin sedang menuju akhir. Dengan kongres pemilihan presiden yang tinggal beberapa bulan lagi, tekanan terhadap Infantino akan semakin besar. Apakah ia mampu bertahan, atau justru menjadi presiden FIFA pertama yang gagal mempertahankan kursinya karena oposisi internal? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal yang pasti: sepak bola dunia telah bersuara, dan mereka menolak komersialisasi yang mengorbankan integritas.



