Era Derek McInnes di Rangers: Awal yang Hambar, tetapi Janji Perbaikan Menggantung
Baca dalam 60 detik
- Rangers hanya bermain imbang 1-1 di kandang Dundee United pada laga perdana Liga Skotlandia, menandai awal yang belum meyakinkan bagi era Derek McInnes.
- Pelatih anyar itu menegaskan butuh waktu dan tambahan pemain, terutama di sektor sayap, untuk membangun tim yang kompetitif musim ini.
- Debut sejumlah pemain baru dan cedera Ben Godfrey menambah pekerjaan rumah bagi McInnes menjelang laga kualifikasi Europa League melawan Jagiellonia Bialystok.

Laga pembuka Liga Skotlandia musim 2025/2026 belum memberikan senyum bagi para pendukung Rangers. Bertandang ke Tannadice, markas Dundee United, tim asal Glasgow itu hanya mampu membawa pulang satu poin setelah ditahan imbang 1-1, Jumat (2/8) dini hari WIB. Hasil ini menjadi ujian pertama bagi Derek McInnes, pelatih anyar yang ditunjuk untuk membangun kembali kejayaan The Gers setelah dua musim penuh kekecewaan.
Jalannya pertandingan memperlihatkan pekerjaan rumah yang belum beres. Rangers tertinggal lebih dulu lewat gol Lachlan Rose pada babak pertama, sebelum Thelo Aasgaard menyamakan kedudukan setelah jeda. Namun, penyelesaian akhir yang buruk membuat tim tamu gagal memanfaatkan peluang, bahkan nyaris kebobolan lagi di menit akhir. Kiper debutan Ivor Pandur sempat menyelamatkan gawangnya dari tendangan lemah Jesse Randall.
McInnes, yang sebelumnya menukangi Aberdeen, Kilmarnock, dan Hearts, tidak menampik kekecewaan tersebut. "Kami kehilangan dua poin, tapi kami memang belum cukup baik untuk meraih tiga poin," ujarnya kepada Sky Sports. Ia menekankan bahwa timnya akan terus berkembang seiring waktu. "Ini baru satu pertandingan. Saya tidak terlalu memikirkan apa yang terjadi sebelumnya, tapi dari sudut pandang saya, kami akan menjadi lebih baik."
Mantan penyerang Rangers, Steven Thompson, menilai hasil imbang di laga tandang perdana bukanlah sebuah bencana. "Ini bukan hasil yang diinginkan, tapi satu poin di kandang lawan yang sulit adalah hal yang wajar. Tim lain juga akan kesulitan di sini," katanya di BBC Radio Scotland. Thompson mengingatkan agar tidak ada reaksi berlebihan, mengingat musim baru saja dimulai dan McInnes masih membutuhkan waktu untuk meracik tim idealnya.
Namun, kritik tajam datang dari Andy Halliday, mantan pemain Rangers yang kini menjadi pengamat. Ia menyoroti masalah kompak tidaknya lini pertahanan. "Tidak peduli berapa banyak bek yang dipasang, fundamental utamanya adalah kekompakan. Menurut saya, Rangers justru tidak kompak sama sekali," ujarnya di Sportsound. Halliday menambahkan bahwa pemain terbaik di lapangan, selain Aasgaard, semuanya berasal dari kubu tuan rumah.
Pertandingan ini juga menjadi ajang unjuk kemampuan bagi para pemain anyar. Pandur, Godfrey, serta mantan duet Hearts, Cammy Devlin dan Lawrence Shankland, langsung dipercaya mengisi posisi inti. Sementara itu, Dan Neil dan Ross McCrorie baru dimasukkan di babak kedua. McInnes mengisyaratkan akan ada tambahan amunisi baru dalam beberapa pekan ke depan, sejalan dengan rencana transisi yang tengah berjalan di Ibrox.
Fokus perekrutan tampaknya akan diarahkan ke sektor sayap. Penampilan Djeidi Gassama di sisi kiri kurang meyakinkan dan diganti saat turun minum. McInnes mengakui timnya kekurangan pemain yang mampu melewati lawan satu lawan satu. "Di babak kedua, saat permainan terbuka, kami punya peluang untuk memanfaatkan ruang. Kami butuh pemain yang bisa melewati bek lawan," katanya. "Kami masih mencari winger yang bisa membuat perbedaan dan menekan pertahanan lawan. Striker kami sangat bergantung pada suplai bola."
Kabar buruk lainnya datang dari cedera hamstring yang dialami Ben Godfrey. Belum jelas pula apakah rekrutan anyar Olwethu Makhanya akan mendapatkan visa untuk memperkuat tim pada laga kualifikasi Europa League melawan Jagiellonia Bialystok, Kamis (7/8) mendatang. Situasi ini memaksa Rangers bergerak cepat di bursa transfer, tidak hanya untuk menambal lini belakang, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan utama di posisi sayap.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, dinamika yang terjadi di Rangers menarik untuk dicermati. Klub sebesar Rangers dengan basis suporter fanatik di seluruh dunia, termasuk Indonesia, selalu menjadi sorotan. Keputusan McInnes untuk memberikan kesempatan kepada banyak pemain baru di laga perdana menunjukkan keberaniannya dalam membangun skuad. Namun, hasil imbang ini juga mengingatkan bahwa transformasi tidak terjadi dalam semalam. Pertanyaan besarnya, akankah McInnes mendapatkan waktu dan dukungan yang cukup untuk mewujudkan visinya? Atau justru tekanan akan semakin besar jika hasil buruk terus berlanjut? Musim baru Liga Skotlandia masih panjang, dan perjalanan Rangers baru saja dimulai.



