Spalletti Sindir Italia: 'Ganti Pelatih Seperti Update HP Usang'
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Juventus, Luciano Spalletti, melontarkan kritik tajam terhadap federasi Italia yang dianggapnya gagal melakukan perubahan fundamental setelah kepergiannya.
- Ia membandingkan situasi timnas Italia dengan ponsel usang yang tidak pernah di-update, merujuk pada kembalinya Roberto Mancini dan penunjukan Claudio Ranieri.
- Di sisi lain, Spalletti membeberkan rencana taktiknya di Juventus, termasuk peran baru untuk Kerim Alajbegovic dan Randal Kolo Muani.

Luciano Spalletti, pelatih Juventus, melontarkan kritik pedas terhadap federasi sepak bola Italia (FIGC) yang dianggapnya gagal melakukan pembaruan fundamental. Dalam pernyataannya usai laga uji coba melawan OGC Nice, ia mengibaratkan situasi timnas Italia seperti mencoba memperbarui perangkat lunak pada ponsel yang sudah ketinggalan zaman. "Alih-alih membeli ponsel baru, mereka malah bertahan dengan yang lama tanpa pernah memperbaruinya," ujarnya, menyindir keputusan FIGC yang baru saja mengembalikan Roberto Mancini sebagai pelatih.
Kritik Spalletti muncul di tengah gejolak internal federasi yang terjadi setelah ia dipecat dari kursi pelatih timnas pada Oktober 2025. Sejak kepergiannya, Italia sempat ditangani Gennaro Gattuso dan Silvio Baldini, namun hasilnya tetap mengecewakan. Kini, Mancini—yang pernah membawa Italia juara Euro 2020—kembali dipercaya, sementara Claudio Ranieri ditunjuk sebagai direktur teknis setelah Paolo Maldini mengundurkan diri hanya dalam tiga minggu.
Menurut Spalletti, kehadiran Maldini seharusnya menjadi angin segar bagi federasi. "Maldini mewakili sesuatu yang baru, yang sangat dibutuhkan. Itu seperti mencoba memperbarui firmware pada ponsel yang sudah usang, tapi tidak berhasil. Alih-alih membeli ponsel baru, kita malah bertahan dengan yang lama dan tidak pernah memperbaruinya," tuturnya. Ia bahkan menambahkan, "Maldini mewakili gigi keempat dan melaju kencang di jalan raya, tapi kita malah kembali ke gigi kedua."
Di sisi lain, Spalletti juga membahas persiapan Juventus yang masih jauh dari sempurna. Klub tengah dalam tahap lanjut negosiasi untuk mendatangkan Randal Kolo Muani dari Paris Saint-Germain dan Kerim Alajbegovic dari Bayer Leverkusen. Kehadiran dua pemain ini diharapkan bisa mengisi kekosongan di lini depan yang selama ini kurang tajam. "Kami saat ini kekurangan penyerang tengah yang bisa menahan bola dan seorang trequartista yang bisa memberi umpan kepadanya," jelas Spalletti.
Spalletti memandang Kolo Muani sebagai striker yang lengkap—bisa turun ke belakang untuk berkolaborasi dengan gelandang, menusuk ruang, dan juga bermain melebar. Sementara itu, ia melihat Alajbegovic lebih cocok sebagai trequartista di belakang penyerang. Ini mengindikasikan formasi 4-2-3-1 dengan Kenan Yildiz di sisi kiri, meskipun Alajbegovic juga bisa dimainkan di posisi sayap.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kritik Spalletti menyoroti pentingnya stabilitas dan visi jangka panjang dalam pengelolaan tim nasional. Indonesia sendiri tengah berbenah dengan program naturalisasi pemain dan pembinaan usia muda. Pelajaran dari Italia adalah bahwa perubahan yang setengah hati—seperti mengganti pelatih tanpa perombakan struktural—hanya akan menghasilkan kebuntuan. Pertanyaannya, apakah PSSI mampu mengambil langkah berani seperti yang disarankan Spalletti, atau justru terjebak dalam pola yang sama?
Ke depan, Juventus akan menjadi sorotan dengan skuad baru yang sedang dibentuk. Spalletti tampaknya ingin membangun tim yang dinamis dan ofensif, dengan Alajbegovic sebagai kreator utama. Namun, tantangan terbesarnya adalah menyatukan pemain-pemain baru dengan cepat agar kompetitif di Serie A dan Liga Champions. Sementara itu, Italia harus membuktikan bahwa keputusan FIGC—kembali ke masa lalu—adalah langkah yang tepat, atau justru menjadi bumerang yang semakin menjauhkan mereka dari kejayaan.



