Alexandra Eala Ukir Sejarah: Gelar WTA Pertama untuk Filipina, Peringkat ke-20 Dunia
Baca dalam 60 detik
- Petenis Filipina Alexandra Eala menaklukkan unggulan teratas Jessica Pegula di final Washington Open yang sempat tertunda hujan, sekaligus menjadi juara WTA pertama dari negaranya.
- Kemenangan ini memperpanjang rekor Eala atas lawan-lawan top-10 menjadi lima pertandingan beruntun, menegaskan statusnya sebagai kekuatan baru di sirkuit putri.
- Dengan hasil ini, peringkat Eala diproyeksikan melonjak ke posisi 20 besar dunia, membuka peluang besar untuk turnamen Grand Slam mendatang.

Alexandra Eala, petenis berusia 21 tahun asal Filipina, mengukir namanya dalam buku sejarah tenis Asia Tenggara dengan merebut gelar tunggal putri WTA pertamanya di Washington Open, Senin (3/8). Kemenangan dramatis atas unggulan teratas Jessica Pegula dengan skor 4-6, 6-4, 6-0 tidak hanya menghentikan laju petenis tuan rumah, tetapi juga mengantarkan Eala ke peringkat tertinggi sepanjang kariernya, yakni posisi 20 dunia, saat peringkat WTA terbaru dirilis.
Pertandingan final yang sempat tertunda akibat hujan deras ini menyajikan drama tersendiri. Saat laga dihentikan, Eala tertinggal satu set namun unggul 2-1 di set kedua. Setelah restart, ia tampil agresif dan mendominasi, memenangi 10 dari 13 game yang dimainkan. Servis kidalnya yang mematikan dan pukulan baseline yang berani menjadi kunci kebangkitannya, sekaligus membungkam dukungan publik yang memihak Pegula di kandang sendiri.
Bagi Eala, kemenangan ini adalah buah dari kerja keras dan kepercayaan diri yang terus tumbuh. "Saya merasa sangat dicintai. Ini kesempatan pertama saya meraih gelar, dan saya tahu ini bukan yang terakhir. Mencapai tonggak sejarah ini untuk karier saya adalah sesuatu yang luar biasa," ujarnya di lapangan, seperti dikutip media internasional. Ia juga menambahkan bahwa apa pun hasilnya, baginya ini sudah menjadi kemenangan.
Di sisi lain, Pegula, yang memburu gelar Washington ketiganya setelah sukses pada 2019 dan 2021, mengakui keunggulan lawannya. "Saya ingin mengucapkan selamat kepada Alex atas turnamen yang luar biasa. Melihat perkembanganmu selama beberapa tahun terakhir, sejak kita pertama kali bertanding, dan melihat para penggemar yang selalu mengikutimu ke mana pun, itu luar biasa. Meski tidak menyenangkan melawanmu, tapi saya rasa ini hebat," puji petenis peringkat tiga dunia tersebut.
Kemenangan ini juga memperpanjang rekor impresif Eala atas lawan-lawan top-10 menjadi lima kemenangan beruntun. Sebelumnya, ia telah mengalahkan Elena Rybakina, Elina Svitolina (dua kali), dan Iga Swiatek. Rentetan hasil ini menegaskan bahwa Eala bukan sekadar kejutan, melainkan kekuatan baru yang patut diperhitungkan di tur putri.
Sementara itu, di sektor putra, Taylor Fritz berhasil meraih gelar pertamanya tahun ini setelah mengalahkan remaja Spanyol, Rafa Jodar, 7-6(2), 6-4. Pertandingan ini juga sempat tertunda karena hujan yang sama. Fritz, yang tidak kehilangan servis di set pertama, tampil dominan di tiebreak dan mampu mempertahankan keunggulannya di set kedua meski sempat mendapat tekanan dari Jodar. Kemenangan ini memberi modal berharga bagi Fritz menjelang Kanada Terbuka, turnamen ATP Masters 1000 terakhir sebelum AS Terbuka. Sebagai salah satu harapan utama tuan rumah, ia diharapkan mampu mengakhiri paceklik gelar Grand Slam tunggal putra Amerika yang telah berlangsung sejak Andy Roddick menang di New York pada 2003.
Bagi Indonesia, kesuksesan Eala menjadi cermin bahwa petenis Asia Tenggara mampu bersaing di level tertinggi. Prestasi ini diharapkan menjadi inspirasi bagi petenis muda Indonesia yang kerap kesulitan menembus babak utama turnamen WTA. Dengan semakin banyaknya turnamen yang digelar di Asia, termasuk Indonesia, diharapkan muncul bakat-bakat baru yang mampu mengikuti jejak Eala. Pertanyaannya, mampukah Indonesia melahirkan petenis dengan prestasi serupa dalam waktu dekat?



