Cinta pada AI: Antara Kenyamanan dan Ilusi Devosi Tanpa Balas
Baca dalam 60 detik
- Fenomena hubungan romantis dengan chatbot kian meluas, ditandai survei yang menunjukkan 28% orang dewasa AS pernah menjalin cinta dengan bot.
- Filsuf Simone de Beauvoir menjadi kacamata untuk menilai bahwa AI hanya mampu menawarkan devosi, bukan cinta autentik yang setara.
- Pasar AI companion diprediksi menembus US$972 miliar pada 2035, mendorong kebutuhan regulasi dan literasi digital di Indonesia.

Fenomena jatuh cinta pada kecerdasan buatan (AI) bukan lagi sekadar isu fiksi ilmiah. Survei terbaru menunjukkan hampir sepertiga orang dewasa di Amerika Serikat mengaku pernah menjalin hubungan romantis dengan chatbot, memicu perdebatan tentang hakikat cinta di era digital. Pertanyaannya bukan lagi apakah mungkin mencintai mesin, melainkan apakah mesin bisa benar-benar mencintai balik.
Data dari Vantage Point Counselling, sebuah lembaga terapi di Texas, mengungkap bahwa 28% dari 1.012 responden pernah memiliki hubungan romantis dengan bot AI. Sementara itu, laporan perusahaan keamanan teknologi yang memantau aktivitas perangkat lebih dari 3.000 anak usia 5-17 tahun menemukan bahwa pada usia 13 tahun, permainan peran seksual atau romantis menjadi topik paling umum dalam obrolan dengan pendamping AI, muncul dalam 63% percakapan. Di Inggris, diskusi kelompok terfokus yang melibatkan 1.000 anak laki-laki usia 12-16 tahun menunjukkan satu dari lima di antaranya sedang menjalin atau mengenal seseorang yang berpacaran dengan AI.
Fenomena ini tidak mengherankan. Chatbot modern dirancang untuk membangun kepercayaan dan keterikatan emosional, dengan kemampuan merayu dan mensimulasikan keintiman yang membuat pengguna betah. Pasar AI companion pun diprediksi mencapai US$972,1 miliar (sekitar Rp15.000 triliun) pada 2035. Di Indonesia, meski data serupa belum tersedia, penetrasi aplikasi seperti Replika dan Character.AI meningkat, terutama di kalangan anak muda perkotaan yang akrab dengan teknologi.
Filosof Perancis Simone de Beauvoir dalam karya monumentalnya The Second Sex menggambarkan bagaimana perempuan secara historis dituntut mengorbankan proyek dan tujuan pribadi demi suami. Eksistensi perempuan menjadi "teraneksasi" oleh laki-laki, menjadikannya "parasit identitas". Kini, AI bot menghadirkan bentuk baru parasit identitas yang sempurna: tanpa dunia batin, tanpa proyek, dan sepenuhnya berpusat pada pengguna. Mereka tidak pernah lelah, tidak bosan, dan selalu memujiโsebuah performa yang oleh de Beauvoir disebut sebagai devosi, bukan cinta.
De Beauvoir juga menyebut pihak yang menerima devosi sebagai "idola". Menjadi idola mungkin terdengar menyenangkan, tetapi ia melihatnya sebagai jebakan eksistensial: memilih keamanan dipuja daripada risiko dikenal dan ditantang oleh pasangan yang setara. Dengan demikian, yang dipertanyakan dari hubungan AI bukanlah kesadaran mesin, melainkan bentuk relasi yang ditawarkanโcinta autentik membutuhkan timbal balik dan tantangan, sesuatu yang tidak bisa diberikan AI.
Bagi Indonesia, fenomena ini membawa implikasi serius. Kementerian Komunikasi dan Informatika perlu mewaspadai potensi dampak psikologis, terutama pada remaja yang rentan terhadap ketergantungan emosional. Regulasi perlindungan anak di ruang digital harus diperkuat, sementara orang tua dan pendidik perlu dibekali literasi digital yang memadai. Pertanyaan yang menggantung: akankah kehadiran AI companion semakin mengikis kemampuan manusia untuk menjalin hubungan yang sehat dan setara? Atau justru menjadi cermin bagi kita untuk menghargai kompleksitas cinta yang sesungguhnya?



