Sienna Spiro: Nodul Vokal Hampir Membungkamnya Selama Setahun, Begini Cara Sang Penyanyi Bertahan
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi 20 tahun itu mengaku hampir kehilangan suara selama setahun akibat nodul vokal yang dideritanya sejak kecil.
- Rambut besar dan sepatu bot menjadi 'tameng' kepercayaan diri Sienna saat tampil di atas panggung, terutama di tengah kelelahan atau nyeri haid.
- Perjalanan Sienna melawan insecurity dan masalah vokal menyoroti tekanan fisik dan mental yang dihadapi musisi muda di industri musik.

Penyanyi muda Sienna Spiro membuka lembaran kelam dalam kariernya: ia nyaris kehilangan kemampuan bicara selama satu tahun penuh akibat nodul vokal yang telah bersarang di pita suaranya sejak kecil. Kondisi ini, yang ia sebut sebagai 'berkah sekaligus kutukan', tidak hanya mewarnai warna vokalnya yang khas, tetapi juga menguji ketahanan mentalnya di tengah sorotan industri musik.
Pelantun 'Die on This Hill' ini mengaku baru mengetahui secara resmi tentang nodul tersebut dua tahun lalu, meski ia meyakini gejalanya sudah muncul sejak usia muda. "Saya hampir bisu selama setahunโhampir tidak berbicara sama sekali dua tahun lalu. Itu sangat sulit dan sangat mengisolasi," ungkapnya dalam wawancara dengan Variety. Nodul vokal, yang merupakan jaringan tumbuh berlebih pada pita suara, memang kerap menjadi momok bagi para penyanyi karena dapat mengganggu produksi suara secara signifikan.
Di balik panggung, Sienna mengaku sering tampil jauh berbeda dari persona panggungnya yang identik dengan rambut besar dan sepatu hak tinggi. Transformasi ini, menurutnya, bukan sekadar gaya, melainkan kebutuhan psikologis untuk memisahkan diri dari emosi mendalam yang ia tuangkan dalam lagu-lagunya. "Terkadang saya bangun dalam keadaan menstruasi dan harus tampil di atas panggung. Rambut yang berbeda dari rambut sehari-hari atau saat saya memakai sepatu bot memungkinkan saya masuk ke dalam suatu peran dan memiliki tingkat kepercayaan diri serta pemisahan dari perasaan saat menulis lagu-lagu itu," jelasnya.
Kisah Sienna menyoroti tekanan ganda yang dihadapi musisi muda: tuntutan untuk tampil sempurna di panggung sambil bergulat dengan masalah kesehatan dan citra diri. Di Indonesia, fenomena serupa juga dialami oleh banyak penyanyi pendatang baru yang harus berjuang melawan kelelahan vokal dan tekanan mental. Industri musik Tanah Air, yang semakin kompetitif dengan maraknya platform digital, menuntut para musisi untuk terus produktif tanpa memperhatikan batas fisik mereka.
Para ahli kesehatan vokal menekankan pentingnya deteksi dini dan manajemen stres bagi para penyanyi. Nodul vokal, jika tidak ditangani dengan baik, dapat berujung pada kerusakan permanen. "Penyanyi harus belajar mengenali batas suaranya dan tidak memaksakan diri, terutama saat kondisi fisik sedang tidak prima," ujar seorang terapis vokal yang enggan disebutkan namanya. Istirahat vokal yang cukup dan teknik pernapasan yang benar menjadi kunci pencegahan.
Ke depan, Sienna berharap dapat terus berkarya dengan suara yang ia miliki, meski harus hidup berdampingan dengan nodul vokalnya. Ia mengaku tidak punya pilihan selain menulis dengan jujur dan tampil sebagai dirinya sendiri. "Saya tidak punya filter, itu hal yang baik dan buruk. Tetapi saya tidak punya pilihan selain menulis dengan jujur dan tampil sebagai diri saya sendiri," tegasnya. Pertanyaannya, akankah industri musik memberikan ruang yang lebih sehat bagi para musisi muda untuk berkarya tanpa mengorbankan kesehatan mereka?



