Tidur Pelajar Singapura Masih Kurang: Hanya Bertambah 15 Menit, Kualitas Belum Terukur
Baca dalam 60 detik
- Rata-rata durasi tidur siswa kelas 5 SD dan 3 SMP di Singapura pada hari sekolah baru mencapai sekitar tujuh jam, masih di bawah rekomendasi medis.
- Meski ada peningkatan 15 menit dibanding 2023, Kementerian Pendidikan Singapura belum memiliki instrumen untuk mengukur kualitas tidur pelajar.
- Wacana penundaan jam masuk sekolah ditolak karena berpotensi mengganggu kegiatan ekstrakurikuler dan efektivitas belajar di siang hari yang panas.

Rata-rata durasi tidur pelajar kelas 5 sekolah dasar dan kelas 3 sekolah menengah pertama di Singapura pada hari sekolah baru mencapai sekitar tujuh jam, masih jauh dari rekomendasi medis. Temuan ini disampaikan Kementerian Pendidikan (MOE) Singapura dalam survei terbarunya, yang juga mencatat adanya tambahan waktu tidur 15 menit dibandingkan dua tahun sebelumnya.
Angka tersebut diungkapkan Sekretaris Parlemen Senior untuk Pendidikan, Syed Harun Alhabsyi, dalam sesi tanya jawab di parlemen, Rabu (5/8). Ia menjawab pertanyaan anggota parlemen Choo Pei Ling dari Partai Aksi Rakyat (PAP) yang menanyakan tentang pemantauan tren tidur anak sekolah dan langkah-langkah perbaikan yang sedang dipertimbangkan pemerintah.
Padahal, berdasarkan panduan Kementerian Kesehatan Singapura melalui laman HealthHub, kebutuhan tidur anak usia 11โ13 tahun adalah 9โ11 jam per hari, sementara usia 14โ17 tahun membutuhkan 8โ10 jam. Dengan rata-rata tujuh jam, sebagian besar pelajar masih mengalami defisit tidur yang berisiko terhadap konsentrasi, daya tahan tubuh, dan kesehatan mental.
Menanggapi pertanyaan lanjutan, Syed Harun mengakui bahwa MOE belum memiliki data tentang kualitas tidur pelajar. Ia juga menegaskan bahwa sekolah sebenarnya memiliki otonomi untuk mengatur jam mulai pelajaran, asalkan tidak lebih awal dari pukul 07.30. Namun, wacana untuk memundurkan jam masuk sekolah bagi pelajar yang lebih tua dinilai memiliki konsekuensi yang tidak sederhana.
โKetika kita memundurkan jam mulai sekolah, pelajaran bisa berlanjut hingga sore hari, yang cuacanya panas dan lembap, sehingga kurang ideal untuk belajar,โ ujarnya. Selain itu, jam pulang yang lebih siang berpotensi mengganggu program setelah sekolah. Karena itu, ia meminta agar kebijakan jam sekolah diambil secara seimbang dan tetap memberikan keleluasaan bagi masing-masing sekolah.
Sejumlah langkah telah diterapkan untuk memperbaiki kebiasaan tidur pelajar. Sejak Januari lalu, perangkat pembelajaran pribadi milik siswa SMP diatur otomatis masuk mode tidur pada pukul 22.30. Sekolah juga mengajarkan pola tidur sehat, termasuk keteraturan jam tidur dan menghindari kafein serta gawai sebelum tidur, yang terintegrasi dalam pelajaran manajemen diri dan manajemen waktu. Di sisi lain, MOE bekerja sama dengan KK Women's and Children's Hospital untuk melibatkan orang tua melalui sesi edukasi bersama pakar medis.
Bagi Indonesia, fenomena ini relevan mengingat banyak pelajar di kota-kota besar juga mengalami kurang tidur akibat beban tugas dan penggunaan gawai. Berbeda dengan Singapura yang baru mempertimbangkan penundaan jam masuk, sejumlah sekolah di Indonesia sudah menerapkan jam masuk lebih siang, namun efektivitasnya masih diperdebatkan. Riset tentang kualitas tidur pelajar di Indonesia juga masih terbatas, sehingga kebijakan berbasis data sulit dirumuskan.
Ke depan, pemerintah Singapura perlu mempertimbangkan untuk mengukur kualitas tidur, bukan sekadar durasi, agar intervensi lebih tepat sasaran. Apakah sekolah-sekolah di Indonesia akan berani mengambil langkah serupa dengan memanfaatkan teknologi untuk memantau pola tidur siswa? Atau justru memilih pendekatan fleksibel seperti yang disarankan pejabat Singapura? Jawabannya akan menentukan arah kebijakan pendidikan yang lebih ramah terhadap kesehatan anak.



