AI Menggerus Daya Pikir Pelajar: Studi Ungkap Ketergantungan yang Mengkhawatirkan
Baca dalam 60 detik
- Hampir 36% mahasiswa Jepang mengaku menyerahkan tugas terjemahan dari AI tanpa revisi, memicu kekhawatiran tentang penurunan kemampuan berpikir kritis.
- Riset Carnegie Mellon dan Oxford menunjukkan penggunaan AI selama 10-15 menit saja dapat menurunkan ketekunan dan kemandirian dalam memecahkan masalah.
- Para ahli mendesak institusi pendidikan untuk merancang metode evaluasi yang tidak bisa dijawab dengan salin-tempel, serta mendorong pembelajaran aktif tanpa ketergantungan AI.

Fenomena siswa yang menyerahkan tugas sekolah hasil generate AI secara mentah semakin marak di Jepang, memicu kekhawatiran akan terkikisnya kemampuan berpikir kritis generasi muda. Sebuah survei terhadap 535 mahasiswa mengungkap bahwa sekitar 36% responden pernah mengumpulkan hasil terjemahan mesin sebagai jawaban tugas bahasa asing tanpa melakukan perubahan berarti. Temuan ini menjadi alarm bagi dunia pendidikan, tidak hanya di Jepang tetapi juga secara global, termasuk Indonesia.
Shunya Kamei, seorang tutor yang membimbing pelajar SMP dan SMA di Osaka, menceritakan pengalamannya dengan seorang siswa yang mengumpulkan karangan bahasa Inggris berkualitas tinggi yang tidak wajar. Ketika ditanya apakah benar-benar mengerjakannya sendiri, siswa tersebut hanya menjawab singkat. Kamei kemudian memintanya untuk mencoba lagi, dan saat itulah tangan siswa berhenti bergerakโsebuah tanda bahwa ia tidak terbiasa berpikir mandiri. Kamei menilai banyak siswa kini tidak merasa bersalah menggunakan AI dan menerima jawabannya begitu saja.
Survei yang dilakukan oleh Sachiko Kimura, profesor di Fakultas Bahasa Asing Universitas Dokkyo, juga menemukan bahwa mahasiswa dengan tingkat ketergantungan tinggi pada AI justru menyadari penurunan kemampuan berpikir mereka. Kimura menekankan perlunya metode evaluasi yang tidak bisa dijawab hanya dengan salin-tempel. Di sisi lain, larangan total penggunaan AI juga dianggap tidak bijak. Kamei melihat beberapa siswa justru meningkat nilainya dengan memanfaatkan AI sebagai alat bantu belajar, sehingga peran orang tua dan guru adalah mengawasi agar potensi anak tidak hancur.
Fenomena serupa juga terjadi di ranah pemrograman. Daisuke Yamazaki, profesor di Digital Hollywood University Graduate School, sengaja melarang mahasiswanya menggunakan AI pada bulan pertama perkuliahan. Ia menemukan bahwa sebagian mahasiswa mulai menerima kode yang tidak mereka pahami dan merasa sudah bisa memprogram, padahal pemahaman mereka dangkal. Yamazaki menegaskan bahwa prioritas utama adalah berpikir dengan kepala sendiri dan tidak bergantung pada AI sejak awal.
Dampak negatif AI terhadap kemampuan kognitif juga didukung oleh penelitian ilmiah. Sebuah studi dari Carnegie Mellon University dan University of Oxford yang melibatkan sekitar 1.000 partisipan dewasa menunjukkan bahwa penggunaan AI selama 10-15 menit saja dapat menurunkan ketekunan dan kemampuan memecahkan masalah secara mandiri. Dalam tes yang dibagi menjadi dua kelompok, kelompok yang menggunakan AI awalnya memiliki tingkat jawaban benar lebih tinggi, namun begitu bantuan AI dihilangkan, akurasi mereka merosot di bawah kelompok tanpa AI. Lebih mengkhawatirkan lagi, 60% dari kelompok pengguna AI lebih memilih mencari jawaban langsung daripada mencoba memahami prosesnya.
Peneliti utama Grace Liu dari Carnegie Mellon menggarisbawahi bahwa kemudahan yang ditawarkan AI dapat mengurangi kesempatan berpikir mandiri dan melemahkan ketekunan. Ia menyarankan AI digunakan sebagai alat bantu untuk mendapatkan petunjuk, bukan jawaban instan. Sementara itu, penelitian dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang dipublikasikan pada Juni 2025 menunjukkan bahwa penggunaan AI untuk menulis esai pendek menurunkan aktivitas otak yang diukur dengan EEG. Partisipan yang menggunakan AI juga kesulitan mengingat kembali apa yang mereka tulis. Yang lebih memprihatinkan, kelompok yang pertama kali menggunakan AI tidak menunjukkan pemulihan aktivitas otak, motivasi, atau konsentrasi meskipun kemudian mencoba berpikir mandiri.
Di tengah kekhawatiran ini, sejumlah ahli menawarkan solusi. Kuniyoshi Sakai, profesor neurosains bahasa di Universitas Tokyo, merekomendasikan menulis tangan dengan pulpen untuk memaksa otak berpikir lebih dalam. Ia menekankan bahwa menulis tangan membutuhkan persiapan dan struktur yang matang, tidak seperti mengetik yang bisa langsung diedit. Sakai memperingatkan bahwa AI berisiko menghilangkan kemampuan berpikir dan kreativitas manusia, sehingga perlu ada panduan agar orang terus berpikir, bukan mengambil jalan pintas.
Shun-ichi Amari, matematikawan berusia 90 tahun yang penelitiannya menjadi fondasi deep learning, memiliki pandangan yang lebih optimis. Ia percaya AI dapat membebaskan manusia dari hafalan dan memungkinkan pendidikan fokus pada hal-hal penting seperti cara hidup berdampingan dengan orang yang berbeda pendapat. Namun, ia juga memperingatkan bahwa penggunaan AI yang salah dapat menyebabkan "domestikasi manusia", di mana orang kehilangan kemampuan berpikir dalam dan hanya mengikuti perintah AI. Pesannya bagi generasi muda: "Justru karena ada penderitaan dalam proses berpikir, kita bisa mencapai kebahagiaan. Berpikirlah."
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pelajaran berharga. Dengan penetrasi AI yang semakin luas di kalangan pelajar dan mahasiswa, penting bagi institusi pendidikan untuk segera beradaptasi. Kurikulum perlu dirancang untuk mendorong berpikir kritis dan kreativitas, bukan sekadar menghafal. Metode penilaian yang tidak bisa dijawab dengan salin-tempel, seperti presentasi lisan atau proyek berbasis diskusi, bisa menjadi alternatif. Pertanyaannya, apakah sistem pendidikan Indonesia siap menghadapi tantangan ini sebelum generasi muda kehilangan kemampuan berpikir mandiri?



