Serangan Drone di Resor Laut Hitam Tewaskan Tujuh Warga Sipil, Moskow Tuding Kyiv Sengaja Bidik Wisatawan
Baca dalam 60 detik
- Sebuah serangan drone di kawasan wisata Gelendzhik, Rusia, menewaskan tujuh orang termasuk tiga anak-anak dan melukai puluhan lainnya.
- Gubernur Krasnodar menyebut insiden ini sebagai serangan terencana terhadap warga sipil, sementara Ukraina belum memberikan tanggapan resmi.
- Konflik Rusia-Ukraina kian meluas ke wilayah sipil, memicu kekhawatiran akan eskalasi yang lebih dalam dan dampak kemanusiaan yang lebih luas.

Serangan drone di kawasan resor tepi Laut Hitam, Gelendzhik, Rusia, pada Senin (3/8) menewaskan tujuh orang, termasuk tiga anak-anak, dan melukai 40 lainnya. Pemerintah setempat menuding Kyiv dengan sengaja menargetkan warga sipil yang sedang berlibur, sebuah tuduhan yang langsung memicu kecaman dan meningkatkan ketegangan di tengah perang yang telah berlangsung lebih dari dua tahun.
Rekaman video yang beredar di media sosial dan telah diverifikasi oleh Reuters memperlihatkan sebuah drone menghantam area pantai yang ramai di dekat Gelendzhik, disusul ledakan keras. Peristiwa ini terjadi di Desa Arkhipo-Osipovka, bagian dari kawasan resor Gelendzhik yang lebih luas, dan memaksa pemerintah setempat mengerahkan tim medis khusus bencana ke lokasi kejadian.
Gubernur Wilayah Krasnodar, Veniamin Kondratyev, dalam pernyataan resminya di Telegram menyebut insiden ini sebagai "serangan terencana oleh rezim Kyiv terhadap penduduk sipil yang tidak memiliki kaitan apa pun dengan infrastruktur militer." Namun, dalam pernyataan sebelumnya, ia sempat berbicara tentang "pecahan drone yang jatuh," frasa yang biasanya mengindikasikan bahwa pertahanan udara Rusia berhasil menjatuhkan drone Ukraina. Belum jelas apakah Rusia menggunakan pengacau elektronik atau metode pertahanan udara lainnya untuk mencoba mengalihkan arah drone sebelum menghantam pantai.
Kementerian Kesehatan Rusia melaporkan bahwa 21 orang, termasuk tiga anak-anak, telah dilarikan ke rumah sakit, dengan sembilan di antaranya dalam kondisi serius. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, melalui kantor berita TASS, menuduh Ukraina melakukan aksi terorisme. Sementara itu, Ukraina belum memberikan komentar resmi atas kejadian ini, meskipun kedua belah pihak selama ini sama-sama membantah menargetkan warga sipil secara sengaja.
Serangan ini menambah daftar panjang korban sipil dalam konflik Rusia-Ukraina. Rusia sendiri telah berulang kali melancarkan serangan ke Kyiv dan kota-kota Ukraina lainnya, menyebabkan jutaan orang mengungsi dan menghancurkan berbagai wilayah. Ribuan warga sipil telah tewas, sebagian besar adalah warga Ukraina yang menjadi korban serangan Rusia. Di sisi lain, Ukraina dalam beberapa bulan terakhir meningkatkan serangan jarak jauh ke wilayah Rusia, terutama menargetkan kilang minyak dan gudang e-commerce, sebagai bagian dari kampanye untuk membuat warga Rusia merasakan dampak perang.
Bagi Indonesia, konflik ini menjadi pengingat akan pentingnya perdamaian dan stabilitas global. Sebagai negara yang aktif dalam misi perdamaian PBB, Indonesia terus mendorong dialog dan penyelesaian damai. Serangan terhadap warga sipil, apa pun dalihnya, adalah pelanggaran hukum humaniter internasional dan harus dikutuk. Masyarakat Indonesia, yang mayoritas beragama Islam, juga memiliki keprihatinan mendalam terhadap penderitaan warga sipil di zona konflik, termasuk di Ukraina dan Rusia.
Ke depan, eskalasi serangan terhadap target sipil berisiko memicu spiral kekerasan yang lebih luas. Pertanyaannya, mampukah komunitas internasional menekan kedua belah pihak untuk kembali ke meja perundingan? Atau justru konflik ini akan semakin dalam, dengan korban jiwa yang terus berjatuhan? Dunia menanti langkah konkret dari para pemimpin global untuk menghentikan tragedi kemanusiaan ini.



