Pabrik Baterai EV CATL-IBC di Karawang Mulai Produksi, Sinyal Ekosistem Hilir RI Menguat
Baca dalam 60 detik
- Fasilitas sel baterai PT CATIB di Karawang resmi beroperasi sejak Juli 2026 dengan kapasitas tahap awal 6,9 GWh per tahun.
- Proyek patungan IBC dan CBL (grup CATL) ini menargetkan ekspansi hingga 15 GWh dengan total investasi sekitar US$1,2 miliar.
- Beroperasinya pabrik kedua setelah HLI Green Power menandai uji nyata kesiapan Indonesia mengolah nikel menjadi produk bernilai tambah tinggi.

Pabrik sel baterai kendaraan listrik milik PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Karawang, Jawa Barat, telah memulai produksi komersial sejak Juli 2026. Fasilitas yang merupakan perusahaan patungan Indonesia Battery Corporation (IBC) dan CBL—afiliasi produsen baterai terbesar asal Tiongkok, CATL—ini menjadi pabrik baterai EV terintegrasi kedua yang beroperasi di Indonesia setelah milik Hyundai LG Indonesia (HLI) Green Power.
Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif mengungkapkan bahwa lini produksi di Karawang kini menghasilkan sel baterai untuk kendaraan listrik sekaligus sistem penyimpanan energi atau Battery Energy Storage System (BESS). "Sejak Juli fasilitas ini sudah berjalan. Sebagian output dialokasikan untuk kendaraan listrik, sebagian lagi untuk BESS," ujarnya dalam sebuah forum sosialisasi media di Jakarta, Senin (14/9/2026).
Kapasitas terpasang tahap pertama mencapai 6,9 GWh per tahun. IBC berencana menambah lini kedua sehingga total kapasitas menyentuh 15 GWh, setara dengan kebutuhan daya sekitar 250.000 kendaraan listrik. Total belanja modal untuk pengembangan hingga kapasitas penuh diperkirakan menembus US$1,2 miliar atau sekitar Rp21,19 triliun. Pembangunan pabrik di kawasan Artha Industrial Hill dan Karawang New Industry City itu dicanangkan Presiden Prabowo pada 29 Juni 2025, dan mulai berproduksi hanya dalam 13 bulan—sebuah tempo yang relatif cepat untuk proyek manufaktur baterai skala besar.
Kehadiran pabrik ini melengkapi rantai pasok hulu-hilir yang tengah dibangun Indonesia bersama Antam dan CBL. Dari enam usaha patungan yang direncanakan, sebagian masih dalam tahap konstruksi: smelter RKEF ditargetkan beroperasi 2027, smelter HPAL dan pabrik material baterai pada 2028, serta fasilitas daur ulang baterai pada 2031. Artinya, pabrik Karawang baru satu simpul dari ekosistem besar yang nilai investasi awalnya mencapai US$5,9 miliar atau sekitar Rp96 triliun.
Bagi pasar dalam negeri, beroperasinya CATIB berpotensi menekan ketergantungan impor sel baterai yang selama ini menjadi komponen biaya terbesar dalam perakitan EV. Selama ini produsen mobil listrik di Indonesia masih mengandalkan sel impor dari Tiongkok dan Korea Selatan. Kehadiran pasokan domestik dapat memperbaiki struktur biaya, meski dampaknya terhadap harga jual kendaraan listrik tidak serta-merta instan karena ditentukan pula oleh skala produksi dan kandungan lokal.
"Masukan dari pabrik ini adalah material baterai yang diolah menjadi sel, lalu dikemas di fasilitas packer. Ini bagian dari upaya membangun kemandirian industri," kata Aditya.
IBC juga menyiapkan program alih pengetahuan dengan mengirim 600 pegawai untuk pelatihan di Tiongkok. Langkah ini krusial karena industri baterai menuntut kompetensi teknis tinggi, mulai dari metalurgi hingga kontrol kualitas sel. Pada 2027, IBC berencana memasang PLTS berkapasitas 18 MWp guna menekan jejak karbon produksi—sinyal bahwa standar lingkungan mulai menjadi pertimbangan dalam rantai pasok baterai global.
Di sisi lain, proyek material baterai di Halmahera dengan investasi US$600 juta menunjukkan bahwa Indonesia tidak berhenti pada perakitan sel. Hilirisasi nikel diarahkan hingga produk prekursor dan katoda, yang selama ini dikuasai pemain Tiongkok dan Korea. Jika seluruh tahapan rampung, Indonesia berpeluang menjadi simpul produksi baterai terintegrasi terbesar di Asia Tenggara, meski tetap menghadapi tantangan berupa fluktuasi harga nikel, persaingan global, serta kebutuhan tenaga kerja terampil.
Pertanyaan besarnya kini: sejauh mana pabrik Karawang mampu menyerap bahan baku dari smelter dalam negeri dan memasok sel ke produsen EV yang beroperasi di Indonesia? Jawaban atas itu akan menentukan apakah proyek ini benar-benar mengubah lanskap industri otomotif nasional atau sekadar menjadi fasilitas produksi untuk pasar ekspor.



