Lydia Ko Berburu Gelar Women's Open Kedua: 'Salurkan Inner Foxy'
Baca dalam 60 detik
- Pegolf asal Selandia Baru, Lydia Ko, menargetkan kemenangan di Women's Open 2026 di Royal Lytham setelah terinspirasi oleh rekan senegaranya Ryan Fox yang baru saja menjuarai British Open.
- Ko berusaha memutus dominasi Nelly Korda dan Ryu Hae-ran yang telah memenangi dua major masing-masing musim ini, sekaligus menambah koleksi gelar major ketiganya.
- Lapangan Royal Lytham yang dipenuhi bunker menjadi ujian terberat bagi Ko, yang mengandalkan akurasi pukulan lurus untuk bersaing di turnamen bergengsi ini.

Lydia Ko, pegolf putri nomor satu dunia asal Selandia Baru, datang ke Royal Lytham dengan misi ganda: merebut gelar Women's Open keduanya dan meneruskan momentum kemenangan rekan setimnya, Ryan Fox, di British Open. Dalam konferensi pers menjelang turnamen, Ko mengaku ingin menyalurkan 'inner Foxy'—semangat pantang menyerah yang ditunjukkan Fox saat menjuarai major pria di Royal Birkdale pekan lalu.
Ko, yang kini berusia 29 tahun, adalah salah satu dari hanya empat pegolf Selandia Baru yang pernah memenangkan major. Ia bergabung dengan Bob Charles (juara The Open 1963 di Lytham), Michael Campbell (US Open 2005), dan tentu saja Fox. Kemenangan terakhir Ko di major terjadi dua tahun lalu di St Andrews, saat ia juga merebut medali emas Olimpiade Paris. Kini, ia berambisi mengulang sukses itu di lapangan yang ia sebut sebagai 'venue tersulit' yang pernah ia mainkan.
“Saya tidak pernah senerves dan seantusias itu saat menonton orang lain bermain. Cara Fox bermain di sembilan hole terakhir sungguh luar biasa. Akan sangat keren jika saya bisa menyalurkan keberaniannya di lapangan beberapa hari ke depan,” ujar Ko, yang juga menjadi rekan setim Fox di tiga Olimpiade.
Musim ini, dominasi major putri dikuasai oleh Nelly Korda (AS) dan Ryu Hae-ran (Korea Selatan), yang masing-masing telah mengoleksi dua gelar. Ko sendiri sempat melewatkan cut di dua major pertama tahun ini, namun perlahan bangkit dengan finis T15 di PGA Championship dan T7 di Evian Championship—hasil terbaiknya sejak kemenangan di St Andrews. Ia berharap tren positif itu berlanjut di Lytham.
Lapangan Royal Lytham dikenal dengan bunker-bunker dalam yang mengintai di setiap sudut. Bagi Ko, yang mengandalkan pukulan lurus bak laser, akurasi menjadi kunci utama. “Bahkan di hari yang sempurna sekalipun, lapangan ini terasa sulit. Jika Anda bisa menang di lapangan sekaliber ini, Anda akan merasa sangat bangga,” katanya. Pengalamannya bermain di Lytham pada 2018—meski saat itu ia sering masuk bunker—menjadi pelajaran berharga.
Bagi penggemar golf Indonesia, perjuangan Ko di Women's Open bisa menjadi tontonan menarik, mengingat popularitas golf di Tanah Air terus meningkat. Turnamen ini juga menjadi ajang bagi pegolf Asia untuk bersaing dengan para bintang dunia. Jika Ko berhasil memenangi gelar, ia akan memperkuat posisinya sebagai salah satu pegolf putri terhebat sepanjang masa, sekaligus memberi inspirasi bagi generasi muda di kawasan Asia-Pasifik.
Pertanyaan besarnya: mampukah Ko menaklukkan Royal Lytham yang legendaris dan menghentikan laju Korda serta Ryu? Atau justru dominasi dua pegolf itu akan berlanjut? Jawabannya akan terungkap dalam empat hari ke depan.



