Krisis Kepemimpinan FIFA: Infantino Terjepit, Siapa Penggantinya?
Baca dalam 60 detik
- Tekanan terhadap Gianni Infantino memuncak setelah UEFA, Concacaf, dan AFC mengancam boikot kompetisi FIFA.
- Sejumlah kandidat potensial muncul, termasuk Victor Montagliani dan Sheikh Salman, namun belum ada yang secara resmi menyatakan maju.
- Kongres FIFA di Maroko pada Maret 2026 akan menjadi penentu, dengan batas pendaftaran kandidat hingga 18 November 2025.

Gianni Infantino, presiden FIFA, tengah menghadapi tekanan terbesar dalam kariernya. Hanya berselang dua pekan setelah puncak kesuksesan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, ia kini berada dalam posisi yang sulit. Kritik tajam datang dari berbagai arah, termasuk dari Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, dan para penggemar sepak bola. Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah ancaman boikot dari UEFA, Concacaf, dan AFC yang secara terbuka menilai cara FIFA dipimpin di bawah Infantino.
Konflik ini dipicu oleh rencana kontroversial Infantino yang menuai penolakan luas. AFC, dalam pernyataannya, menyebut bahwa masalah ini bukan sekadar proposal tunggal, melainkan telah membuka kelemahan mendasar dalam proses konsultasi dan pengambilan keputusan FIFA. Sumber internal menyebutkan mayoritas anggota Concacaf telah kehilangan kepercayaan pada Infantino. Bahkan, Carlos Cordeiro, penasihat khusus Infantino yang juga ditunjuk Trump untuk gugus tugas Piala Dunia 2026, telah mengundurkan diri. FIFA sendiri mengakui bahwa administrasinya "tertipu" oleh proyek tersebut, seperti diungkapkan COO Kevin Lamour kepada Associated Press.
Mantan ketua Asosiasi Sepak Bola Inggris, David Bernstein, menilai bahwa dalam organisasi normal, kegagalan sebesar ini bisa berujung pada pemecatan. Namun, FIFA bukanlah organisasi biasa. "Jika dia masih mendapat dukungan dari cukup banyak asosiasi nasional, dia akan bertahan," ujarnya. Mantan wakil presiden FIFA, Jim Boyce, memperkirakan Infantino masih akan terpilih kembali untuk periode terakhirnya, meski ia menambahkan, "jika keadaan terus berlanjut seperti ini, siapa yang tahu?"
Infantino, yang menjabat sejak 2016, telah dua kali terpilih tanpa lawan. Ia berhasil membersihkan nama FIFA setelah skandal korupsi yang menjerat pendahulunya, Sepp Blatter. Namun, kini ia menghadapi gelombang oposisi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Surat dukungan untuk pencalonannya kembali mulai ditarik, setidaknya oleh satu anggota UEFA. Pertanyaannya kini: siapa yang berani menggantikan pria 56 tahun itu?
Beberapa nama muncul sebagai kandidat potensial. Victor Montagliani, presiden Concacaf, adalah salah satunya. Ia terpilih pada 2016 dengan janji reformasi tata kelola, dan berpengalaman dalam penyelenggaraan Piala Dunia 2026 yang pertama kali digelar tiga negara. Montagliani fasih dalam empat bahasa dan dianggap memiliki kemampuan politik yang kuat. Namun, ia belum secara resmi menyatakan maju.
Sheikh Salman bin Ebrahim Al Khalifa, presiden AFC, juga menjadi sorotan. Ia telah memimpin pertumbuhan signifikan sepak bola Asia dan baru saja terpilih untuk periode keempat. Sheikh Salman dikenal sebagai pengkritik keras Infantino, dan dengan dukungan 46 asosiasi anggota AFC, ia bisa menjadi penantang serius.
Nasser Al-Khelaifi, ketua European Football Clubs (EFC) dan presiden PSG, secara teori adalah kandidat kuat. Namun, sumber terdekatnya menyatakan bahwa ia "benar-benar tidak menginginkan pekerjaan itu". Sementara itu, Mattias Grafstrom, yang menjabat sebagai kepala staf Infantino sejak 2016, dianggap terlalu dekat dengan presiden FIFA saat ini, sehingga peluangnya tipis.
Kongres FIFA di Maroko pada Maret 2026 akan menjadi penentu. Para kandidat memiliki waktu hingga 18 November untuk mendaftar. Apakah Infantino akan mampu bertahan, ataukah ini awal dari era baru kepemimpinan FIFA? Yang jelas, tekanan yang dihadapinya saat ini adalah ujian terbesar dalam kariernya.
Bagi Indonesia, dinamika ini penting untuk dicermati. Sebagai negara dengan basis penggemar sepak bola yang besar, Indonesia memiliki kepentingan langsung dalam arah kebijakan FIFA, terutama terkait pengembangan kompetisi dan alokasi dana. Perubahan kepemimpinan di FIFA dapat membawa angin segar bagi reformasi tata kelola sepak bola global, yang pada akhirnya berdampak pada perkembangan sepak bola di tanah air.



