Romario Kenang Baresi: Bek Terberat yang Pernah Saya Hadapi
Baca dalam 60 detik
- Legenda Brasil, Romario, menyebut Franco Baresi sebagai lawan terberat sepanjang kariernya, terutama saat final Piala Dunia 1994.
- Baresi, yang baru pulih dari cedera meniskus, tampil heroik di final tersebut dan berhasil mematikan pergerakan Romario.
- Penghormatan ini menegaskan warisan Baresi sebagai salah satu bek terbaik sepanjang masa, yang juga diakui oleh rival terberatnya.

Legenda sepak bola Brasil, Romario, memberikan penghormatan terakhir kepada Franco Baresi, bek legendaris AC Milan dan tim nasional Italia yang meninggal dunia pada usia 66 tahun setelah berjuang melawan kanker. Dalam pernyataannya, Romario dengan tegas menyebut Baresi sebagai pemain terberat yang pernah dihadapinya sepanjang karier.
Pernyataan ini muncul setelah kabar duka kepergian Baresi mengguncang dunia sepak bola. Baresi, yang dikenal sebagai simbol pertahanan Italia dan AC Milan, meninggalkan warisan yang tak terlupakan. Romario, yang pernah berhadapan langsung dengan Baresi di final Piala Dunia 1994, mengungkapkan kekagumannya melalui unggahan di media sosial.
โHari ini sepak bola bangun dengan lebih sedih atas kepergian Franco Baresi. Saya bisa katakan tanpa keraguan, dia adalah pemain terberat yang pernah saya hadapi,โ tulis Romario. Kenangan itu membawanya kembali ke laga final Piala Dunia 1994 di Pasadena, di mana Baresi, yang baru pulih dari cedera meniskus tiga minggu sebelumnya, tampil luar biasa dan berhasil mematikan pergerakan Romario hingga adu penalti yang akhirnya dimenangkan Brasil.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, sosok Baresi mungkin lebih dikenal sebagai ikon pertahanan klasik Eropa. Namun, pengakuan dari seorang striker sekaliber Romario ini menegaskan betapa hebatnya Baresi di zamannya. Romario, yang saat itu menjadi andalan Brasil, mengakui bahwa Baresi adalah lawan yang benar-benar tangguh, bahkan di tengah kondisi fisik yang tidak prima.
Pertemuan mereka tidak hanya terjadi di final Piala Dunia. Romario, yang saat itu membela PSV Eindhoven, juga pernah berhadapan dengan Milan yang diperkuat Baresi di ajang Piala Champions pada Desember 1992 dan April 1993. Kedua laga tersebut berakhir dengan kekalahan PSV. Selain itu, Romario juga menjadi bagian dari Barcelona yang kalah telak 0-4 dari Milan di final Piala Champions 1994, meski Baresi tidak bermain karena akumulasi kartu.
Dalam unggahannya, Romario juga mengenang momen mengharukan saat ia ikut serta dalam laga perpisahan Baresi pada 1997. โDia berada di level yang berbeda! Dia adalah simbol Milan dan tim Italia. Salah satu bek terhebat dalam sejarah,โ ujarnya. Romario menutup pesannya dengan doa dan penghormatan, โSemoga Bapa di Surga menyambutnya dengan damai. Selamat jalan, Baresi.โ
Kepergian Baresi tidak hanya meninggalkan duka bagi Italia, tetapi juga bagi dunia sepak bola. Pengakuan dari rival sepertinya menjadi bukti nyata betapa besar pengaruh dan kualitas Baresi di lapangan. Bagi generasi muda Indonesia yang mungkin tidak sempat menyaksikan aksinya, catatan sejarah ini menjadi pengingat akan kehebatan seorang bek yang mampu menghentikan striker-striker terbaik dunia.
Warisan Baresi akan terus hidup melalui kenangan dan penghormatan dari para legenda sepak bola. Pertanyaannya, akankah ada lagi bek sehebat Baresi di era sepak bola modern yang semakin mengandalkan kecepatan dan kekuatan fisik? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun namanya akan selalu tercatat sebagai salah satu yang terbaik sepanjang masa.



