Prabowo dan PM Thailand Resmikan Komisi Perdagangan Bersama, Target Tembus 20 Miliar Dolar AS
Baca dalam 60 detik
- Indonesia dan Thailand sepakat membentuk Joint Trade Commission (JTC), mekanisme bilateral pertama untuk mengatasi hambatan dagang dan membuka peluang bisnis.
- Pemerintah menargetkan nilai perdagangan tembus 20 miliar dolar AS pada 2030, dengan peta jalan kemitraan strategis sebagai pendorong utamanya.
- Kesepakatan ini juga mencakup kerja sama di bidang ketahanan pangan dan energi, membuka peluang investasi baru bagi pelaku usaha kedua negara.

Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul menandatangani kesepakatan untuk membentuk Joint Trade Commission (JTC), sebuah mekanisme bilateral yang belum pernah ada sebelumnya, dalam pertemuan di Istana Merdeka, Jakarta, Senin. Langkah ini diambil untuk memperkuat hubungan ekonomi kedua negara yang selama ini kerap menghadapi hambatan perdagangan.
JTC dirancang sebagai forum resmi untuk membahas peluang bisnis sekaligus menyelesaikan berbagai kendala yang menghambat arus perdagangan. Menurut Prabowo, forum ini merupakan yang pertama dalam sejarah hubungan bilateral Indonesia-Thailand, menandai babak baru dalam kerja sama ekonomi kedua negara. "Joint Trade Commission yang pertama kali dalam sejarah sebagai mekanisme untuk membahas peluang bisnis dan mengatasi berbagai hambatan perdagangan," ujarnya dalam pernyataan pers bersama.
Ambisi yang lebih besar tertuang dalam target nilai perdagangan yang dipatok mencapai 20 miliar dolar AS pada 2030. Angka ini bukan sekadar wacana; pemerintah meyakini target tersebut dapat direalisasikan melalui implementasi peta jalan kemitraan strategis yang telah disepakati. "Kerja sama ekonomi tetap menjadi pilar utama hubungan bilateral kita. Kami optimistis target perdagangan sebesar 20 miliar dolar AS pada tahun 2030 dapat dicapai melalui implementasi Roadmap Kemitraan Strategis," kata Prabowo.
Selain perdagangan, kedua negara juga sepakat untuk memperluas investasi, meningkatkan akses pasar, dan mempererat kemitraan antarpelaku usaha. Di sektor ketahanan pangan, kerja sama akan difokuskan pada pengembangan teknologi pertanian, logistik, pengolahan pangan, serta penguatan rantai pasok. Sementara di sektor energi, Indonesia-Thailand Energy Forum akan digelar sebagai wadah untuk memperkuat ketahanan energi dan mempercepat transisi menuju energi berkelanjutan.
Bagi Indonesia, kesepakatan ini memiliki arti strategis di tengah upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan dan transisi energi. Thailand, sebagai salah satu lumbung pangan dunia, menawarkan peluang besar bagi Indonesia untuk belajar dan berkolaborasi dalam teknologi pertanian. Di sisi lain, forum energi bersama dapat menjadi katalis bagi investasi di sektor energi terbarukan, yang sejalan dengan target net zero emission Indonesia.
Para pengamat menilai bahwa pembentukan JTC merupakan langkah konkret yang jarang terjadi di kawasan, mengingat kedua negara selama ini lebih banyak berinteraksi dalam kerangka ASEAN. "Ini menunjukkan komitmen nyata untuk memperdalam integrasi ekonomi bilateral," ujar seorang analis ekonomi yang enggan disebutkan namanya.
Ke depan, tantangan terbesar adalah bagaimana menerjemahkan kesepakatan ini menjadi aksi nyata di lapangan. Hambatan regulasi, perbedaan standar, dan logistik masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Pertanyaannya, apakah kedua pemerintah mampu menjaga momentum ini dan memastikan JTC tidak hanya menjadi wacana seremonial?



