Prabowo Dorong Eskalasi Latihan Militer Bersama Thailand demi Stabilitas ASEAN
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto mengusulkan peningkatan frekuensi dan level latihan gabungan TNI dengan militer Thailand dalam pertemuan bilateral di Istana Merdeka.
- Kerja sama pertahanan ini diposisikan sebagai fondasi untuk memperluas kemitraan ekonomi, digital, serta ketahanan pangan dan energi antara kedua negara.
- Langkah ini dinilai sebagai sinyal penguatan poros pertahanan ASEAN di tengah dinamika geopolitik kawasan yang semakin kompleks.

Presiden Prabowo Subianto secara eksplisit meminta peningkatan frekuensi dan level latihan bersama antara Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Angkatan Bersenjata Kerajaan Thailand, sebuah sinyal penguatan kerja sama pertahanan yang disampaikan langsung dalam pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (28/7). Permintaan itu bukan sekadar formalitas diplomatik, melainkan sebuah penegasan bahwa Jakarta menempatkan Bangkok sebagai mitra strategis dalam menjaga stabilitas kawasan Asia Tenggara.
Di hadapan PM Charnvirakul, Prabowo menggarisbawahi bahwa hubungan kedua negara harus berorientasi ke depan dan saling menguntungkan. Ia secara spesifik menyebut perlunya memperbanyak latihan gabungan, memperluas pertukaran perwira, serta meningkatkan kerja sama di bidang pendidikan militer. "Kita harus memperkuat kerja sama pertahanan dan keamanan. Kita harus meningkatkan jumlah dan tingkat pelatihan bersama antara kedua angkatan bersenjata kita," ujarnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa pertahanan menjadi pilar utama dalam arsitektur hubungan bilateral RI-Thailand ke depan.
Selain ranah militer, Prabowo juga mendorong perluasan kerja sama ekonomi yang mencakup sektor perdagangan, investasi, ketahanan pangan, dan energi. Kedua pemimpin sepakat untuk memperkuat kolaborasi di bidang teknologi digital serta meningkatkan konektivitas antar-masyarakat kedua negara. Langkah ini dinilai sebagai upaya membangun kemitraan yang lebih komprehensif, tidak hanya berhenti pada kerja sama tradisional, tetapi juga merambah sektor-sektor baru yang relevan dengan tantangan global.
Pertemuan bilateral ini merupakan rangkaian kunjungan resmi PM Thailand yang berlangsung sejak pagi. Setelah sesi tatap muka terbatas, Prabowo dan Charnvirakul bersama-sama memimpin pertemuan bilateral yang lebih luas, menyaksikan penandatanganan sejumlah dokumen kerja sama, dan diakhiri dengan jamuan makan malam di Istana. Momen ini juga dimanfaatkan Prabowo untuk menitipkan ucapan selamat ulang tahun kepada Raja Maha Vajiralongkorn, sebuah gestur yang menunjukkan kedekatan personal yang telah terjalin lama antara kedua pemimpin.
Bagi Indonesia, penguatan kerja sama pertahanan dengan Thailand memiliki arti strategis yang mendalam. Di tengah ketegangan geopolitik di Laut China Selatan dan dinamika persaingan kekuatan besar, soliditas internal ASEAN menjadi prasyarat utama untuk menjaga netralitas dan stabilitas kawasan. Thailand, sebagai salah satu pendiri ASEAN dengan kekuatan militer yang signifikan, merupakan mitra alami bagi Indonesia dalam membangun arsitektur keamanan regional yang mandiri. Peningkatan latihan bersama tidak hanya meningkatkan interoperabilitas militer, tetapi juga membangun kepercayaan yang menjadi fondasi bagi penyelesaian damai berbagai isu kawasan.
Para pengamat hubungan internasional menilai langkah ini sebagai bagian dari strategi Indonesia untuk memperkuat peran kepemimpinannya di ASEAN. Dengan menjalin kerja sama pertahanan yang lebih erat dengan Bangkok, Jakarta berupaya menciptakan keseimbangan di tengah tarik-menarik pengaruh antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Selain itu, perluasan kerja sama ekonomi dan digital juga menjadi instrumen untuk memperdalam integrasi regional yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana komitmen ini akan diterjemahkan ke dalam program-program konkret. Apakah peningkatan latihan bersama akan diikuti dengan pengadaan alutsista bersama atau pembentukan satuan tugas gabungan untuk menghadapi ancaman non-tradisional seperti terorisme dan bencana alam? Yang jelas, langkah ini menandai babak baru hubungan bilateral yang lebih erat, dan publik Indonesia perlu mencermati bagaimana kerja sama ini akan berdampak pada postur pertahanan nasional serta posisi Indonesia di kancah regional.



