Prabowo: Hubungan Indonesia-Thailand Kunci Stabilitas Asia Tenggara
Baca dalam 60 detik
- Kunjungan PM Thailand Anutin Charnvirakul ke Jakarta menandai babak baru diplomasi kedua negara setelah 15 tahun vakum.
- Indonesia dan Thailand, sebagai pendiri ASEAN dan kekuatan ekonomi utama, dinilai memiliki pengaruh strategis terhadap dinamika kawasan.
- Peningkatan status kemitraan menjadi strategis membuka peluang kerja sama konkret di tengah ketidakpastian global.

Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa hubungan bilateral Indonesia dan Thailand memiliki bobot strategis yang signifikan bagi masa depan Asia Tenggara, terutama karena kedua negara merupakan pendiri ASEAN sekaligus pemain ekonomi utama di kawasan. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (16/2/2026).
Kunjungan Anutin kali ini bukan sekadar seremoni diplomatik. Ini adalah lawatan perdana seorang kepala pemerintahan Thailand ke Indonesia dalam 15 tahun terakhir, sebuah jeda yang cukup lama mengingat kedekatan geografis dan historis kedua negara. Prabowo menyebut momen ini sebagai bukti bahwa kemitraan kedua negara "terus berkembang dan berorientasi ke masa depan", sebuah sinyal bahwa Jakarta dan Bangkok ingin mempercepat agenda kerja sama setelah sempat berjalan di tempat.
Lebih dari sekadar simbol, pertemuan ini merupakan konsultasi tingkat pemimpin yang kedua kalinya sejak status hubungan bilateral dinaikkan menjadi kemitraan strategis pada tahun lalu. Peningkatan status tersebut bukan tanpa alasan. Di tengah rivalitas Amerika Serikat dan China yang semakin memanas, serta ketidakpastian ekonomi global, ASEAN dituntut untuk lebih solid. Indonesia dan Thailand, dengan populasi gabungan lebih dari 400 juta jiwa dan PDB yang mencapai triliunan dolar, menjadi poros utama dalam menjaga stabilitas kawasan.
Prabowo menggarisbawahi bahwa sebagai negara pendiri ASEAN, kedua negara memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga perdamaian, keamanan, dan menciptakan kemakmuran bersama. Pernyataan ini relevan mengingat kawasan Asia Tenggara tengah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari sengketa Laut China Selatan, krisis Myanmar, hingga gejolak ekonomi global. Kehadiran Anutin di Jakarta menjadi momentum untuk menyelaraskan langkah dalam merespons isu-isu tersebut.
Bagi Indonesia, penguatan hubungan dengan Thailand memiliki implikasi langsung. Thailand adalah mitra dagang terbesar kelima Indonesia di ASEAN, dengan nilai perdagangan bilateral yang mencapai puluhan miliar dolar per tahun. Sektor pariwisata, investasi, dan konektivitas infrastruktur menjadi bidang yang paling diuntungkan. Selain itu, kerja sama militer yang selama ini terjalin baik juga berpotensi ditingkatkan, seperti yang disinggung dalam pertemuan sebelumnya mengenai latihan bersama.
Namun, tantangan tetap ada. Perbedaan kepentingan nasional dalam beberapa isu, seperti kebijakan perbatasan dan perlindungan tenaga kerja, masih memerlukan negosiasi yang intensif. Meski demikian, Prabowo menegaskan bahwa komitmen untuk menjaga stabilitas kawasan adalah prioritas bersama. "Hubungan antara kita sangat mempengaruhi keadaan di Asia Tenggara," ujarnya, menegaskan bahwa kedua negara tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana kedua negara menerjemahkan retorika kemitraan strategis menjadi aksi nyata yang berdampak pada kesejahteraan rakyat. Apakah kunjungan ini akan diikuti dengan kesepakatan konkret di bidang ekonomi dan keamanan, atau hanya akan menjadi catatan kaki dalam sejarah diplomasi? Dengan dinamika kawasan yang semakin kompleks, jawabannya akan menentukan apakah ASEAN mampu tetap relevan sebagai kekuatan penyeimbang di tengah persaingan global.



