Everton Jual Calvert-Lewin Penerus Seharga £10 Juta, Kini Menyesal?
Baca dalam 60 detik
- Everton menjual Youssef Chermiti ke Rangers dengan harga £10 juta pada musim panas lalu, padahal ia kini bersinar di Liga Skotlandia dengan 15 gol.
- Kegagalan mendatangkan striker baru di bursa transfer musim panas membuat lini depan Everton hanya mengandalkan Thierno Barry yang inkonsisten.
- Dengan jendela transfer Januari masih jauh, Everton berisiko kehilangan peluang bersaing di kompetisi Eropa jika tidak segera menemukan solusi di lini serang.

Everton menghadapi dilema besar di lini depan setelah keputusan kontroversial menjual Youssef Chermiti ke Rangers dengan harga hanya £10 juta pada musim panas lalu. Penyerang berusia 22 tahun itu kini menjelma menjadi mesin gol di Scottish Premiership dengan 15 gol dari 30 penampilan, sementara The Toffees justru kesulitan menemukan pengganti sepadan untuk Dominic Calvert-Lewin yang hengkang ke Leeds United secara gratis pada 2025.
Keputusan manajemen The Friedkin Group untuk melepas Chermiti tampak semakin keliru ketika upaya mendatangkan Folarin Balogun dari AS Monaco dan Joshua Zirkzee dari Manchester United menemui jalan buntu pada hari batas transfer. Alhasil, manajer David Moyes hanya memiliki Thierno Barry sebagai penyerang tengah murni, sosok yang performanya masih naik-turun sejak didatangkan dari Villarreal seharga £27 juta.
Ironi ini semakin terasa mengingat Everton sempat memiliki Beto, striker yang konsisten mencetak gol selama dua tahun terakhir, namun ia dilepas ke Fiorentina pada akhir bursa transfer. Kini, dengan hanya Barry sebagai ujung tombak, Everton seperti berjalan di atas tali tipis hingga jendela transfer Januari tiba.
Chermiti, yang dibeli dari Sporting Lisbon pada 2023, memang gagal bersinar di Goodison Park dengan hanya 25 penampilan dan tanpa gol. Namun, potensinya sebagai target man setinggi 6 kaki 4 inci dengan kemampuan duel udara dan mobilitas menjanjikan sebenarnya cocok dengan gaya permainan Premier League. Di Rangers, ia membuktikan diri sebagai penyerang komplet yang mampu menciptakan peluang dan mencetak gol krusial.
"Everton seharusnya bisa menahan Chermiti setidaknya satu musim lagi untuk melihat perkembangannya. Melepasnya dengan harga £10 juta adalah kesalahan strategis yang mahal," ujar seorang analis transfer yang enggan disebutkan namanya.
Kegagalan di bursa transfer ini bukan hanya soal kehilangan pemain, tetapi juga berdampak pada ambisi Everton untuk kembali ke kompetisi Eropa. Saat ini, The Toffees berada di peringkat sembilan Premier League setelah empat pertandingan, terpaut poin dari Liverpool dan baru sekali kalah. Namun, tanpa penyerang tajam, menjaga konsistensi sepanjang musim akan menjadi tantangan berat.
Moyes masih bisa mengandalkan pemain seperti Tyrique George dan Brennan Johnson untuk mengisi lini depan, tetapi keduanya bukan penyerang tengah alami. Opsi ini jelas tidak ideal untuk tim yang ingin bersaing di papan atas. Hingga Januari, Everton harus memaksimalkan sumber daya yang ada, meski peluang untuk finis di zona Eropa semakin mengecil.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kasus Everton ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya perencanaan transfer yang matang. Klub-klub Liga 1 seperti Persija Jakarta atau Persib Bandung juga kerap menghadapi situasi serupa ketika melepas striker produktif tanpa pengganti sepadan. Dampaknya langsung terasa pada performa tim di kompetisi domestik dan Asia.
Ke depan, Everton harus segera mencari solusi di lini depan, baik melalui pasar transfer Januari atau mengembangkan pemain muda. Jika tidak, mimpi untuk kembali ke Eropa bisa pupus sebelum musim berakhir. Apakah manajemen The Friedkin Group akan belajar dari kesalahan ini, atau justru mengulangi blunder serupa?



