Tour de France Femmes 2025: Sejarah Baru di Ventoux dan Persaingan Sengit Perebutan Mahkota
Baca dalam 60 detik
- Edisi 2025 mengaspal 1.175 km dalam sembilan etape, dengan pendakian perdana Mont Ventoux yang legendaris.
- Pauline Ferrand-Prevot, sang juara bertahan, harus mewaspadai ancaman Demi Vollering dan Kasia Niewiadoma-Phinney yang juga punya ambisi besar.
- Rute yang lebih berat dan tambahan time trial tim menjadi ujian baru yang bisa mengubah peta persaingan.

Tour de France Femmes 2025 resmi dimulai di Lausanne, Swiss, pada Sabtu (26/7). Untuk pertama kalinya dalam sejarah, pebalap putri akan menaklukkan Mont Ventoux, salah satu tanjakan paling ikonik dalam dunia balap sepeda. Momen ini tidak hanya menjadi ujian fisik tertinggi, tetapi juga simbol kesetaraan gender dalam olahraga yang selama ini didominasi pria.
Total jarak tempuh mencapai 1.175 kilometer yang tersebar dalam sembilan etape, menjadikannya edisi terpanjang sejak ajang ini kembali masuk kalender World Tour pada 2022. Puncak drama terjadi pada etape ketujuh, ketika para pebalap harus mendaki Ventoux sejauh 21,5 kilometer dengan kemiringan rata-rata 7,5 persen menuju menara telekomunikasi di puncak Provence. Tanjakan ini telah melahirkan legenda di Tour de France putra, mulai dari Eddy Merckx, Marco Pantani, hingga Chris Froome.
Bagi Pauline Ferrand-Prevot, Ventoux bukanlah medan asing. Pebalap asal Prancis itu mengaku telah beberapa kali menjajal tanjakan tersebut sejak tahu akan masuk rute. "Saya sudah cukup sering mendaki Mont Ventoux, dan sejak tahu akan ada di Tour, saya ke sana beberapa kali," ujarnya. Pengalaman ini menjadi modal berharga, mengingat Ventoux juga menyimpan tragediโkematian Tom Simpson pada 1967โyang mengingatkan betapa kejamnya tanjakan ini.
Ferrand-Prevot, yang tahun lalu menjadi wanita Prancis pertama yang menjuarai balapan ini sejak Jeannie Longo pada 1989, kembali dengan ambisi mempertahankan gelar. Namun, ia tidak sendirian di puncak. Demi Vollering dari Belanda, yang menjuarai edisi 2023 dan tiga kali finis kedua, telah berlatih keras untuk memperbaiki posisi time trial-nya. Begitu pula Kasia Niewiadoma-Phinney dari Polandia, yang memenangkan edisi 2024 dengan selisih empat detik dan selalu naik podium dalam empat edisi terakhir.
Persaingan kian menarik dengan hadirnya time trial tim pada tahun ini. Ferrand-Prevot belum pernah mengikuti disiplin ini sejak 2021, sehingga para rival akan mengawasi setiap gerakannya. Sementara itu, Niewiadoma-Phinney mengandalkan pengalamannya yang luas, setelah selalu finis di tiga besar dalam setiap edisi.
Dari kubu Inggris, Zoe Backstedt, pebalap muda berusia 21 tahun asal Wales, akan menjalani debut Tour-nya. Ia membawa tujuh kemenangan musim ini dan darah balap dari sang ayah, Magnus Backstedt, yang pernah memenangkan etape 19 Tour de France 1998. Zoe akan fokus pada etape time trial di Dijon, meski tugas utamanya adalah mendukung pemimpin klasifikasi umum timnya. Saudarinya, Elynor, juga turut ambil bagian bersama UAE Team L'imad.
Selain itu, sejumlah pebalap Inggris lain siap memberi warna, seperti Pfeiffer Georgi, Josie Nelson, Alice Towers, Millie Couzens, dan Robyn Clay. Namun, kabar duka datang dari Cat Ferguson, talenta muda Movistar yang harus batal tampil akibat dua retakan di pergelangan kakinya.
Di sektor klasifikasi, Justine Ghekiere dan Niewiadoma-Phinney akan bersaing ketat untuk jersey polkadot, sementara Lorena Wiebes menjadi favorit untuk jersey hijau. Untuk jersey putih, Marion Bunel punya peluang besar setelah dua pesaing di depannya sudah terlalu tua untuk bersaing.
Bagi penggemar sepeda di Indonesia, ajang ini menjadi tontonan yang menarik, apalagi dengan semakin banyaknya siaran langsung balapan internasional. Meski belum ada pebalap Indonesia yang tampil, persaingan di puncak klasemen bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk menekuni olahraga ini. Dengan rute yang lebih berat dan persaingan yang ketat, akankah Ferrand-Prevot mampu mempertahankan gelarnya, atau akan lahir juara baru?



