Prabowo Buka Kartu Kedekatan dengan Raja Thailand di Depan PM Anutin
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo memanfaatkan momen bilateral untuk menegaskan ikatan personal lama dengan Raja Vajiralongkorn, sebuah sinyal penguatan hubungan diplomatik Indonesia-Thailand.
- Kunjungan Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul ke Jakarta menjadi yang pertama dalam 15 tahun, menandai babak baru dalam hubungan kedua negara.
- Prabowo menyoroti potensi kolaborasi ekonomi yang belum tergarap optimal, terutama di sektor komoditas dan populasi besar, sebagai fondasi kemitraan ASEAN yang lebih kokoh.

Presiden Prabowo Subianto secara terbuka mengakui kedekatan personal yang telah lama terjalin dengan Raja Thailand Maha Vajiralongkorn dalam pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul di Istana Merdeka, Jakarta, Senin sore. Pengakuan ini bukan sekadar basa-basi diplomatik, melainkan fondasi emosional yang dinilai dapat memperkuat kerja sama kedua negara di kawasan ASEAN.
Di hadapan PM Anutin, Prabowo menceritakan bahwa dirinya dan Raja Vajiralongkorn sama-sama mengabdi sebagai tentara di masa muda. Kenangan masa muda itu, menurut Prabowo, menciptakan ikatan yang terasa seperti pertemuan antara dua veteran yang bernostalgia. "Kami berdua mengabdi sebagai tentara semasa muda. Jadi, kami punya kenangan yang indah," ujarnya, menggambarkan hubungan yang lebih dari sekadar hubungan kepala negara.
Momen ini menjadi semakin signifikan karena kunjungan PM Anutin merupakan kunjungan pertama seorang perdana menteri Thailand ke Indonesia dalam 15 tahun terakhir. Prabowo sendiri menyoroti kelangkaan ini dengan nada reflektif. "Mungkin karena kita begitu dekat, dan tidak punya masalah, kita menganggap semuanya sebagai hal biasa," katanya, menyiratkan bahwa kedekatan justru membuat intensitas pertemuan resmi menjadi jarang.
Selain nostalgia, Prabowo juga menitipkan pesan ucapan selamat ulang tahun untuk Raja Vajiralongkorn melalui PM Anutin. "Semoga Yang Mulia Raja terus diberkati dengan kesehatan, kebahagiaan, dan kekuatan dalam memimpin Kerajaan Thailand," tuturnya. Gestur ini tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menunjukkan perhatian pribadi yang dapat memperkuat diplomasi antarnegara.
Lebih jauh, Prabowo menegaskan keyakinannya bahwa Indonesia dan Thailand, sebagai dua kekuatan ASEAN, memiliki potensi besar untuk memperluas kerja sama. Ia menyebut populasi yang signifikan dan komoditas unggulan yang serupa, seperti karet dan timah, sebagai modal dasar. "Saya sangat optimistis kita dapat meningkatkan hubungan dua negara di semua bidang," tegasnya, membuka ruang bagi percepatan kolaborasi ekonomi dan strategis.
Bagi Indonesia, kedekatan personal antara Prabowo dan Raja Thailand dapat menjadi aset diplomasi yang berharga. Di tengah dinamika geopolitik kawasan, hubungan yang hangat dengan Thailand dapat memperkuat posisi Indonesia dalam forum ASEAN. Selain itu, potensi kerja sama ekonomi yang disebutkan Prabowo, terutama di sektor komoditas, dapat membuka peluang investasi dan perdagangan yang lebih besar bagi pelaku usaha dalam negeri.
Kunjungan PM Anutin ini juga menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali hubungan bilateral yang selama ini mungkin dianggap biasa. Dengan adanya niat untuk lebih sering bertemu dan berkoordinasi, kedua negara diharapkan dapat mengatasi hambatan yang ada dan mengoptimalkan potensi kerja sama yang selama ini belum tergarap maksimal. Pertanyaannya, akankah momen ini diikuti dengan langkah konkret di bidang ekonomi dan politik?



