Setahun Berdiri, Sekolah Rakyat Buktikan Diri: Ratusan Siswa Raih Prestasi Hingga Level Internasional
Baca dalam 60 detik
- Sepanjang 2025, siswa Sekolah Rakyat mengumpulkan lebih dari 3.500 penghargaan, termasuk empat di kancah global.
- Program unggulan pemerintahan Prabowo ini tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan kedisiplinan siswa.
- Kehadiran Sekolah Rakyat menjadi ujian nyata bagi komitmen negara dalam memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan.

Genap satu tahun beroperasi, Sekolah Rakyat yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mulai menunjukkan hasil nyata: ratusan siswa dari berbagai daerah berhasil mengukir prestasi, bahkan hingga ke pentas internasional. Menteri Sosial Saifullah Yusuf, dalam kunjungannya ke Sekolah Rakyat Sukoharjo, Jawa Tengah, Sabtu (12/7/2025), mengungkapkan bahwa capaian ini menjadi bukti bahwa anak-anak dari keluarga prasejahtera mampu bersaing jika diberi kesempatan yang setara.
Data yang dipaparkan Gus Ipul—sapaan akrab Saifullah Yusuf—menunjukkan angka yang impresif. Sepanjang 2025, tercatat 4 prestasi tingkat internasional, 674 tingkat nasional, 71 tingkat regional, 513 tingkat provinsi, 842 tingkat kabupaten/kota, 89 tingkat kecamatan, dan 1.347 tingkat sekolah. Total lebih dari 3.500 penghargaan ini, menurut Gus Ipul, adalah buah dari transformasi mental para siswa yang sebelumnya kehilangan harapan.
“Anak-anak yang dulu putus asa, sekarang tampil percaya diri dan berprestasi,” ujarnya di sela acara Open House dan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Dalam acara tersebut, para siswa tahun pertama dengan berani tampil di panggung membawakan berbagai pertunjukan—mulai dari baris-berbaris, silat, drama musikal, paduan suara, hingga pidato dalam empat bahasa asing: Inggris, Arab, Mandarin, dan Korea. Momen paling mengharukan terjadi saat seorang siswa membacakan puisi berjudul “Dari Jamu Nguter dan Gamelan Wirun Kami Belajar”, yang membuat Gus Ipul dan para hadirin menitikkan air mata.
Di balik gemerlap panggung, terdapat kisah-kisah perjuangan yang menjadi pengingat akan pentingnya program ini. Mulyadi, seorang juru kunci makam dengan penghasilan Rp350 ribu per bulan, adalah salah satu orang tua yang anaknya kini bersekolah di Sekolah Rakyat Sukoharjo. Putrinya, Khustimah, sempat berhenti sekolah selama setahun karena keterbatasan ekonomi. Kini, ia kembali duduk di bangku SMA dengan semangat baru. “Saya ingin anak saya bisa sekolah dan nanti membantu orang tuanya,” kata Mulyadi lirih. Kisah Mulyadi dan Khustimah adalah representasi dari “the invisible people”—mereka yang selama ini terpinggirkan dari proses pembangunan—yang menjadi target utama program Sekolah Rakyat.
Bagi Indonesia, keberhasilan Sekolah Rakyat memiliki implikasi yang lebih luas. Program ini bukan sekadar sekolah gratis, melainkan intervensi terpadu yang menyentuh aspek gizi, kesehatan, dan pendampingan psikososial. Dengan menyasar keluarga miskin ekstrem, pemerintah berharap dapat memutus siklus kemiskinan antargenerasi. Plt. Bupati Sukoharjo, Eko Sapto Purnomo, menyambut baik kepercayaan yang diberikan kepada daerahnya. “Ini amanah yang akan kami jaga melalui kolaborasi semua pemangku kepentingan,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa masa depan adalah hak setiap anak, tanpa memandang latar belakang sosial-ekonomi.
Namun, tantangan tetap membentang. Skala program yang masih terbatas—hanya di sejumlah kabupaten/kota—menjadi pertanyaan besar: mampukah pemerintah memperluas jangkauan tanpa mengorbankan kualitas? Selain itu, keberlanjutan pendanaan dan kesiapan tenaga pendidik menjadi variabel krusial. Jika Sekolah Rakyat mampu mempertahankan tren positif ini, bukan tidak mungkin program ini menjadi model nasional dalam penanggulangan kemiskinan berbasis pendidikan. Pertanyaannya kini: apakah pemerintah memiliki kapasitas dan konsistensi untuk membawa program ini ke seluruh pelosok negeri?



