Wisatawan China Muak dengan Instalasi Norak: 95% Keluhkan Estetika Destinasi yang Buruk
Baca dalam 60 detik
- Mayoritas wisatawan muda China menilai kualitas estetika tempat wisata domestik memburuk, dengan 95% responden mengalami instalasi yang dianggap merusak pemandangan.
- Para ahli memperingatkan bahwa komersialisasi berlebihan, seperti lampu LED dan patung plastik, justru kontraproduktif karena wisatawan kini mencari pengalaman autentik.
- Fenomena ini mendorong pergeseran preferensi wisatawan dari sekadar berfoto untuk viral menuju nilai emosional dan keaslian budaya, yang berimplikasi pada pengelolaan destinasi di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Gelombang kritik dari wisatawan domestik China terhadap instalasi dekoratif yang dianggap berlebihan di tempat-tempat wisata semakin menguat. Sebuah survei yang dirilis media pemerintah China Youth Daily pada 18 Juni mengungkap, 95 persen dari 1.000 responden berusia 20-40 tahun pernah menjumpai destinasi dengan kualitas estetika buruk. Temuan ini menjadi sinyal peringatan bagi pengelola pariwisata di tengah perubahan preferensi wisatawan yang mulai meninggalkan daya tarik artifisial.
Fenomena ini bukan sekadar soal selera pribadi. Patung hati merah muda raksasa di Danau Garam Chaka, Qinghai, yang viral pada Mei lalu, memicu perdebatan sengit di media sosial. Banyak netizen menyebut instalasi itu 'berlebihan' dan 'tidak perlu', merusak keindahan alam danau yang terkenal dengan air biru kristalnya. Padahal, danau tersebut menyambut lebih dari dua juta pengunjung pada 2025. Kritik serupa juga dialamatkan pada lampu LED pelangi di gua-gua kuno Chengdu dan bunga plastik raksasa di pagoda Hangzhou.
Krisa Chen, mahasiswi 24 tahun dari Hangzhou, bahkan membatalkan rencananya mengunjungi Qufu, kampung halaman Konfusius di Shandong, setelah melihat foto-foto vlog perjalanan yang menampilkan kota bersejarah itu dipenuhi lampu neon dan kerumunan wisatawan berbusana hanfu. Menurutnya, kota tua berusia berabad-abad seharusnya menawarkan pengalaman arsitektur, tekstur jalan, kehidupan lokal, dan kedalaman sejarah, bukan sekadar panggung foto. Ia menyayangkan banyak tempat di China yang semakin 'terkomersialisasi', dengan pertunjukan cahaya, air terjun buatan, dan instalasi foto yang sengaja dipasang untuk menarik influencer.
Para akademisi menilai praktik ini berisiko menggerus daya tarik jangka panjang destinasi. Lina Zhong, profesor dari Beijing International Studies University (BISU), menggarisbawahi bahwa ketika instalasi plastik atau properti yang minim kaitan dengan tempat mulai mendominasi lanskap, persoalan bergeser dari selera pribadi menjadi perencanaan dan pengelolaan ruang publik. Namun, ia juga mengakui bahwa bagi destinasi yang tertekan secara finansial, dekorasi semacam itu dapat menciptakan fokus visual yang menarik pengunjung dan menghasilkan eksposur online. Selera memang subjektif, tetapi pertanyaan kuncinya adalah apakah kreasi tersebut bijaksana, menghormati tempat, dan sesuai dengan target pengunjung.
Sam Huang, profesor pariwisata dan pemasaran di Edith Cowan University, Perth, menilai banyak perencana pariwisata China didorong oleh kepentingan komersial dan kurang memahami preferensi serta estetika wisatawan. Padahal, wisatawan China semakin mencari pengalaman yang otentik dan transformatif. Komersialisasi berlebihan justru bekerja melawan keinginan tersebut dan dapat menjadi bumerang. "Jika wisatawan merasa terganggu dan tidak puas dengan keburukan ini, mereka akan menjauhi tempat-tempat itu dan menyebarkan citra negatif dari mulut ke mulut," ujarnya.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pelajaran berharga. Industri pariwisata Tanah Air yang tengah gencar membangun destinasi baru sering kali tergoda untuk menambahkan instalasi serupa demi mengejar viralitas. Namun, tren di China menunjukkan bahwa wisatawan, terutama generasi muda, semakin menghargai keaslian dan pengalaman bermakna dibandingkan sekadar latar foto. Pengelola destinasi di Indonesia perlu berhati-hati dalam merancang atraksi agar tidak merusak keindahan alam dan nilai budaya yang menjadi daya tarik utama.
Ke depan, industri pariwisata China dan kawasan lain dituntut untuk beradaptasi. Zhong mencatat bahwa wisatawan kini lebih bersedia membayar untuk pengalaman personal, keaslian, dan nilai emosional. Mereka semakin tidak menyukai ketika aktivitas komersial menggantikan budaya, bukan mendukungnya. Pertanyaannya, mampukah para pengelola destinasi beralih dari pendekatan instan menuju pembangunan pariwisata berkelanjutan yang mengedepankan harmoni antara alam, budaya, dan kepentingan ekonomi?



