Warga Singapura Hilang di Kamboja: Diduga Jadi Korban Sindikat Penipuan Online
Baca dalam 60 detik
- Seorang mahasiswi berusia 20 tahun asal Singapura dilaporkan hilang setelah terbang ke Kamboja tanpa sepengetahuan keluarga, memicu kekhawatiran akan praktik penculikan oleh sindikat penipuan.
- Sebelum berangkat, ia tercatat mentransfer ratusan dolar ke sosok misterius yang diduga teman main gim daringnya, menguatkan dugaan adanya upaya pemancingan korban.
- Keluarga kini berupaya melibatkan otoritas Singapura dan Interpol, sementara kasus ini menjadi pengingat akan maraknya penipuan daring yang menargetkan warga Asia Tenggara.

Kepanikan melanda keluarga Aishah Siregar, warga Singapura berusia 20 tahun, setelah ia tiba-tiba terbang ke Kamboja pada Selasa (28/7) dan tidak bisa dihubungi. Kepergian yang tidak biasa ini terungkap setelah sang ibu menerima pesan terakhir yang menyebut akan pergi ke kampus, namun saat keluarga menjemput, akun WhatsApp dan Telegram-nya sudah terhapus serta nomor ponselnya mati.
Kakak Aishah, Syafiq Siregar, menuturkan bahwa keluarga menemukan paspor adiknya hilang dan kemudian melacak jejak tiket penerbangan ke Kamboja di emailnya. Yang lebih mencemaskan, terdapat bukti transfer ratusan dolar ke sosok tak dikenal dalam beberapa hari terakhir. Nama penerima transfer itu diyakini sebagai teman main gim daring yang sudah setahun lebih ditemani Aishah bermain setiap hari.
“Kami pernah mendengar dia memanggil nama orang itu. Dia bermain setiap hari, jadi kami semua tahu dia bermain gim dengan orang ini. Tapi kami tidak pernah melihat atau mendengar suaranya sama sekali,” ujar Syafiq kepada CNA. Transfer mencurigakan ini memicu kekhawatiran bahwa Aishah menjadi korban modus penipuan yang menjadikan Kamboja sebagai pusat sindikat penipuan daring, yang kerap menjebak korban untuk dipekerjakan secara paksa.
Polisi Singapura telah memastikan bahwa Aishah meninggalkan negara itu pada hari yang sama. Keluarga kini berkoordinasi dengan aparat dan berupaya melibatkan Interpol. Mereka juga telah mengirimkan surel ke Kementerian Luar Negeri Singapura dan menghubungi anggota parlemen Ng Chee Meng untuk mempercepat proses. “Kami mencoba mengeskalasi masalah ini setinggi mungkin,” kata Syafiq.
Peristiwa ini menjadi alarm bagi kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang kerap menjadi titik berangkat maupun tujuan para korban penipuan daring. Modus yang sama—merayu korban lewat gim daring atau media sosial, lalu menjemputnya ke negara tetangga—pernah menimpa sejumlah WNI di Kamboja dan Myanmar. Menurut data dari berbagai LSM, ribuan orang diperdagangkan ke pusat-pusat penipuan di kawasan tersebut setiap tahunnya.
Keluarga menggambarkan Aishah sebagai sosok yang patuh dan tidak pernah menimbulkan masalah. “Dia bukan tipe yang kabur dari rumah atau memberontak. Kami punya ikatan keluarga yang sangat erat,” tegas Syafiq. Sang ibu disebut “sangat terpukul” dan kesulitan menjalani aktivitas normal. Sementara itu, unggahan di media sosial dari sang ayah memohon bantuan publik untuk menemukan putrinya. “Setiap menit terasa begitu lama. Sebagai ayah, saya mohon bantuannya. Saya hanya ingin anak saya pulang dengan selamat,” tulisnya.
Kasus ini menyoroti celah keamanan di kawasan, di mana pergerakan antarnegara yang mudah dan lemahnya pengawasan di beberapa titik menjadi peluang bagi sindikat kejahatan transnasional. Bagi Indonesia, fenomena ini relevan mengingat banyaknya pekerja migran dan pelajar yang kerap menjadi sasaran rekrutmen penipuan daring. Pemerintah Indonesia sendiri telah beberapa kali mengevakuasi warganya dari pusat-pusat penipuan di Kamboja dan Filipina.
Hingga berita ini diturunkan, polisi Singapura masih melakukan penyelidikan dan belum memberikan pernyataan resmi mengenai perkembangan kasus. Pertanyaan yang menggantung: apakah Aishah menjadi korban penipuan yang direncanakan, atau ada motif lain di balik kepergiannya? Yang jelas, kasus ini menjadi pengingat bagi para orang tua untuk lebih waspada terhadap aktivitas daring anak-anak mereka, terutama saat melibatkan transfer uang ke pihak tak dikenal.



