Studi Genetika: Manusia Purba Lebih Sering Memburu Mammoth Betina, Mengapa?
Baca dalam 60 detik
- Analisis DNA purba dari 521 mammoth mengungkap 70% tulang di situs hunian manusia berasal dari betina, sementara populasi alami didominasi jantan.
- Perilaku kawanan yang dipimpin betina, ukuran tubuh lebih kecil, dan strategi berburu menggunakan medan diduga menjadi faktor seleksi ini.
- Temuan ini membuka wawasan baru tentang interaksi manusia purba dengan megafauna dan implikasinya terhadap studi kepunahan mammoth.

Manusia purba pada Zaman Es ternyata bukan sekadar pemburu oportunistik; mereka memiliki preferensi berburu yang sangat spesifik. Sebuah studi genetika terbaru mengungkap bahwa dari tulang-tulang mammoth berbulu yang ditemukan di situs-situs hunian manusia di Eropa dan Siberia, sekitar 70 persen di antaranya berasal dari individu betina. Temuan ini memicu pertanyaan besar: mengapa para pemburu purba lebih sering menjadikan mammoth betina sebagai target?
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Current Biology ini menganalisis DNA purba dari 521 mammoth yang hidup sekitar 50.000 tahun terakhir. Seratus di antaranya berasal dari 11 situs akumulasi tulang yang merupakan tempat tinggal manusia di Polandia, Austria, Ceko, Jerman, Rusia, dan Siberia. Sebagai pembanding, para ilmuwan juga meneliti 421 mammoth dari situs-situs alami, bukan hunian manusia. Hasilnya kontras: pada situs alami, 66 persen tulang berasal dari jantan, sementara di situs manusia, 70 persen dari betina.
Hannah Moots, peneliti pascadoktoral di Centre for Palaeogenetics yang menjadi penulis utama studi ini, menjelaskan bahwa salah satu hipotesis yang paling masuk akal adalah pola pergerakan kawanan. "Jika mammoth berbulu hidup dalam kelompok yang dipimpin betina seperti gajah modern, kelompok-kelompok itu mungkin bergerak melintasi lanskap dengan cara yang lebih dapat diprediksi dan musiman," ujarnya. Gajah betina modern cenderung memiliki wilayah jelajah yang stabil, sementara jantan dewasa lebih soliter dan sering berkeliaran lebih luas. Prediktabilitas inilah yang mungkin memudahkan manusia purba untuk menemukan dan memburu kelompok betina secara berulang.
Selain itu, Love Dalén, ahli genetika evolusioner yang turut menjadi penulis senior, menambahkan spekulasi lain. "Akan lebih mudah untuk menjepit kelompok yang memiliki anak-anak, di mana betina enggan melarikan diri," katanya. Ukuran tubuh juga menjadi faktor: mammoth betina dewasa berbobot sekitar 4 ton dengan tinggi bahu 2,9 meter, jauh lebih kecil dibandingkan jantan yang bisa mencapai 6 ton dan 3,4 meter. Perbedaan ini membuat betina lebih mudah ditaklukkan.
Para peneliti juga menduga manusia purba menggunakan medan untuk menjebak mammoth, seperti memanfaatkan lumpur atau rawa untuk melumpuhkan hewan sebelum diserang dengan tombak atau panah. Beberapa tulang yang ditemukan bahkan masih memiliki mata panah tertancap. David Díez-del-Molino, ahli genetika evolusioner lainnya, membayangkan "menggunakan fitur lanskap seperti lumpur atau rawa untuk membantu melumpuhkan hewan sebelum menyerang mereka menggunakan tombak, panah, atau anak panah." Strategi ini menunjukkan kecerdasan dan perencanaan yang matang dalam berburu megafauna.
Temuan ini memiliki relevansi yang menarik jika ditarik ke konteks Indonesia. Di Nusantara, terdapat situs-situs purba seperti di Sangiran dan Trinil yang menyimpan fosil fauna besar, termasuk Stegodon, kerabat dekat gajah dan mammoth. Meskipun belum ada studi serupa mengenai seleksi jenis kelamin pada fauna purba Indonesia, penelitian ini membuka peluang bagi para arkeolog dan paleontolog Indonesia untuk meneliti lebih dalam pola perburuan manusia purba di kawasan tropis. Apakah mereka juga selektif terhadap jenis kelamin hewan buruan? Pertanyaan ini menanti jawaban dari penelitian-penelitian selanjutnya.
Studi ini juga menyoroti nasib mammoth di Pulau Wrangel, Siberia, yang menjadi populasi terakhir sebelum punah sekitar 4.000 tahun lalu. Menariknya, para peneliti menemukan satu mammoth Wrangel dengan kondisi genetik langka yang disebut X0/XX mosaicism, kombinasi kromosom seks yang membuatnya tidak sepenuhnya betina atau jantan—kondisi yang pada manusia dikenal sebagai sindrom Turner. Moots mengakui, "Tidak jelas apakah mosaikisme X0/XX ini terkait dengan ukuran populasi Wrangel yang kecil, atau hanya peristiwa perkembangan yang bisa terjadi pada populasi mammoth mana pun." Temuan ini menambah misteri tentang bagaimana populasi kecil yang terisolasi dapat bertahan hingga akhirnya punah.
Ke depannya, penelitian ini tidak hanya mengubah cara kita memandang kemampuan berburu manusia purba, tetapi juga mempertanyakan asumsi tentang peran manusia dalam kepunahan megafauna. Jika manusia memang selektif terhadap betina, dampaknya terhadap struktur populasi dan reproduksi mammoth bisa menjadi faktor penting yang mempercepat kepunahan mereka. Akankah penelitian selanjutnya mampu mengungkap lebih banyak detail tentang interaksi kompleks antara manusia dan raksasa Zaman Es ini?



