Guncangan di FIFA: Penasihat Senior Infantino Mundur, Tolak Rencana Jual Saham Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Carlos Cordeiro, orang kepercayaan Gianni Infantino, mengundurkan diri sebagai protes atas rencana FIFA menjual hingga 20% saham anak usaha yang mengelola Piala Dunia.
- Rencana pembentukan FIFA Forward Enterprise senilai US$20 miliar dinilai mengancam kemandirian finansial asosiasi anggota dan masa depan sepak bola global.
- Keputusan ini memicu pertanyaan tentang tata kelola FIFA dan arah komersialisasi turnamen, dengan tenggat keputusan 19 September yang membayangi 211 asosiasi anggota.

Kabar mengejutkan datang dari markas FIFA di Zurich. Carlos Cordeiro, penasihat senior Presiden FIFA Gianni Infantino, mengumumkan pengunduran dirinya secara mendadak pada Jumat (31/7). Langkah ini diambil sebagai bentuk protes keras terhadap rencana kontroversial yang akan menjual sebagian kepemilikan Piala Dunia kepada investor eksternal. Cordeiro, yang sebelumnya menjabat wakil ketua di Goldman Sachs dan mantan wakil presiden Federasi Sepak Bola Amerika Serikat (US Soccer), menilai rencana tersebut sebagai "kesepakatan buruk bagi sepak bola".
FIFA memang tengah menyiapkan langkah besar dengan membentuk anak usaha baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE) yang ditaksir bernilai US$20 miliar. Anak usaha ini akan mengelola Piala Dunia dan berbagai event FIFA lainnya. Rencananya, hingga 20 persen saham FFE akan ditawarkan kepada investor luar. Langkah ini disebut-sebut untuk menggenjot pendapatan, tetapi Cordeiro justru melihatnya sebagai bumerang. Dalam pernyataannya, ia menegaskan tidak terlibat dalam penyusunan proposal dan menentangnya tanpa kompromi.
"Saya tidak punya keterlibatan dalam proposal ini, dan saya menentangnya secara tegas. Ini kesepakatan buruk bagi asosiasi anggota FIFA, buruk bagi sepak bola, dan buruk bagi masa depan olahraga ini dalam jangka panjang," ujar Cordeiro dalam keterangan resminya. Ia juga mempertanyakan logika di balik rencana menggalang dana US$4,2 miliar dengan menjual aset paling berharga FIFA, sementara organisasi tersebut tidak memiliki utang dan memiliki cadangan dana miliaran dolar.
Keputusan Cordeiro ini datang di tengah tekanan yang dihadapi 211 asosiasi anggota FIFA untuk memutuskan proposal kontroversial tersebut paling lambat 19 September. Cordeiro mengingatkan bahwa jika asosiasi tidak menyetujui, mereka berisiko "tertinggal". Namun, ia juga menyoroti bahwa FIFA sebenarnya memiliki kapasitas finansial yang cukup. "Presiden FIFA sendiri menyoroti pendapatan US$15 miliar yang dihasilkan antara 2022 dan 2026. Dengan latar belakang itu, menjual saham permanen atas aset paling berharga untuk mengumpulkan US$4,2 miliar tampaknya tidak masuk akal," tegasnya.
Konteks Indonesia: Meski berita ini berpusat di Zurich, dampaknya terasa hingga ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. PSSI sebagai anggota FIFA tentu akan terlibat dalam voting pada September mendatang. Jika rencana ini disetujui, ada potensi perubahan arus pendanaan ke asosiasi anggota, termasuk untuk program pengembangan sepak bola di Indonesia. Namun, jika ditolak, bisa terjadi ketegangan antara FIFA dan asosiasi yang menolak. Pengamat sepak bola Indonesia menilai keputusan ini akan menjadi ujian bagi kemandirian PSSI di tengah tekanan komersialisasi FIFA.
Cordeiro, yang diangkat pada 2021, memiliki tugas untuk memberikan saran strategis kepada FIFA dalam mengembangkan sepak bola di semua level. Infantino saat itu memujinya sebagai orang yang tepat untuk memodernisasi kerangka regulasi dan mengembangkan olahraga ini. Namun, kini Cordeiro justru menjadi pengkritik paling vokal dari kebijakan yang diusulkan bosnya sendiri. Dengan latar belakangnya di dunia perbankan investasi, ia memahami betul seluk-beluk nilai aset dan risiko jangka panjang.
"Menjual saham permanen atas aset paling berharga untuk mengumpulkan US$4,2 miliar tampaknya tidak masuk akal." โ Carlos Cordeiro
Langkah Cordeiro ini memicu spekulasi tentang arah kebijakan FIFA di bawah kepemimpinan Infantino. Apakah ini awal dari perombakan internal? Atau justru sinyal bahwa FIFA akan semakin agresif dalam mengkomersialkan turnamen? Yang jelas, keputusan pada 19 September nanti akan menjadi penentu. Jika proposal disetujui, FIFA akan memiliki mitra investor baru dengan kepentingan finansial yang besar. Jika ditolak, Infantino harus mencari cara lain untuk memenuhi target pendapatan. Pertanyaannya, apakah asosiasi anggota berani menolak tekanan dari pusat? Atau justru akan mengikuti arus demi menghindari risiko "tertinggal"? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal pasti: sepak bola global sedang berada di persimpangan jalan.



