Ekspor RI Semester I Tembus 140,81 Miliar Dolar AS, Surplus Perdagangan Tergerus Impor
Baca dalam 60 detik
- Perdagangan luar negeri Indonesia mencatatkan surplus 3,58 miliar dolar AS pada paruh pertama tahun ini, meski impor tumbuh lebih tinggi dari ekspor.
- Industri pengolahan menjadi motor utama pertumbuhan ekspor, sementara China tetap mendominasi pangsa pasar dengan kontribusi seperempat dari total nilai.
- Defisit yang terjadi pada Juni mengindikasikan tekanan pelemahan nilai tukar dan permintaan domestik yang perlu diwaspadai pada semester kedua.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari–Juni 2026 mencapai 140,81 miliar dolar AS, tumbuh 4,13 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, di balik angka positif itu, impor yang melonjak 18,69 persen membuat surplus neraca perdagangan hanya tersisa 3,58 miliar dolar AS, bahkan Juni ditutup dengan defisit 450 juta dolar AS. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa daya saing ekspor nasional mulai tergerus di tengah kuatnya permintaan bahan baku impor.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa sektor industri pengolahan menjadi penyumbang utama pertumbuhan ekspor dengan andil 6,18 persen. Komoditas unggulan seperti minyak sawit mentah (CPO) dan batu bara masih mendominasi, masing-masing menyumbang 9,12 persen dan 8,95 persen dari total nilai ekspor nonmigas. Namun, ketergantungan pada komoditas mentah ini tetap menjadi catatan, mengingat harga global yang fluktuatif dapat langsung memengaruhi kinerja ekspor.
Dari sisi mitra dagang, China masih menjadi tujuan utama dengan pangsa 25,58 persen atau setara 34,56 miliar dolar AS, didorong oleh permintaan besi baja, nikel, dan bahan bakar mineral. Amerika Serikat menyusul di posisi kedua dengan 11,76 persen, sementara India menempati urutan ketiga dengan 6,87 persen. Produk manufaktur seperti mesin elektrik, alas kaki, dan pakaian tetap menjadi andalan ke pasar AS, menunjukkan bahwa diversifikasi produk mulai berjalan meski belum optimal.
Yang menarik, lonjakan impor yang mencapai 137,24 miliar dolar AS terutama dipicu oleh kebutuhan bahan baku dan penolong yang naik 13,15 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa industri dalam negeri masih sangat bergantung pada pasokan luar negeri, yang berisiko terhadap nilai tukar rupiah dan stabilitas neraca pembayaran. Defisit Juni yang mencapai 450 juta dolar AS menjadi peringatan dini bahwa tekanan eksternal bisa semakin terasa jika tren ini berlanjut.
Bagi pelaku usaha dan investor di Indonesia, data ini menegaskan pentingnya hilirisasi dan penguatan industri substitusi impor. Ketergantungan pada bahan baku impor yang tinggi membuat surplus perdagangan rentan tergerus, terutama saat nilai tukar rupiah melemah. Pemerintah perlu mendorong investasi di sektor pengolahan sumber daya alam agar nilai tambah dapat dinikmati di dalam negeri, sekaligus mengurangi tekanan impor.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah Indonesia mampu mempertahankan momentum ekspor di tengah perlambatan ekonomi global dan fluktuasi harga komoditas. Dengan defisit yang sudah muncul di Juni, langkah-langkah kebijakan seperti insentif ekspor nonmigas dan percepatan perjanjian dagang bilateral menjadi krusial. Jika tidak diantisipasi, bukan tidak mungkin surplus tahunan akan menyusut lebih jauh, mengancam ketahanan eksternal ekonomi nasional.



