Gempa Kumamoto: 34 Tewas, Ribuan Mengungsi di Tengah Terik dan Krisis Air Bersih
Baca dalam 60 detik
- Korban jiwa gempa Kyushu bertambah menjadi 34 orang, dengan puluhan lainnya masih hilang dan proses evakuasi terus berlanjut.
- Lebih dari 79.000 rumah kehilangan pasokan air dan sekitar 800 rumah tangga tanpa listrik, diperparah kelangkaan bahan bakar di tengah suhu ekstrem.
- Gangguan pada pabrik TSMC di Kumamoto berpotensi memperlambat rantai pasok semikonduktor global, berdampak pada industri elektronik termasuk di Indonesia.

Gempa berkekuatan magnitudo 7,1 yang mengguncang Pulau Kyushu, Jepang barat daya, pada Selasa lalu telah menewaskan sedikitnya 34 orang. Ribuan warga yang selamat kini bertahan di tempat pengungsian atau tidur di dalam mobil, di tengah keterbatasan air, listrik, dan bahan bakar, serta cuaca panas yang menyengat. Otoritas setempat masih terus mencari korban hilang, sementara skala kerusakan rumah di wilayah terdampak belum sepenuhnya terpetakan.
Pemerintah Prefektur Kumamoto mengonfirmasi angka korban jiwa tersebut pada Jumat, dengan satu kematian lain masih dalam penyelidikan. Puluhan lainnya dilaporkan luka-luka. Tim penyelamat dengan anjing pelacak masih bekerja di sejumlah lokasi, termasuk di Aeon Mall di Kota Kashima yang runtuh dan menewaskan tujuh orang. Di pabrik Nippon Paper Industries di kawasan Yatsushiro, sembilan orang tewas setelah cerobong asapnya roboh, sementara 11 lainnya berhasil dievakuasi.
Menyandang status sebagai pusat industri utama, Kumamoto menjadi sorotan karena potensi gangguan rantai pasok semikonduktor dan komponen otomotif yang bisa berlangsung berbulan-bulan. Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), raksasa chip global yang memiliki pabrik di Kumamoto, sempat mengevakuasi pekerja setelah guncangan kuat. Perusahaan menyatakan seluruh personel aman dan operasional berangsur pulih setelah inspeksi awal menunjukkan struktur bangunan kokoh, meski kajian dampak terperinci masih berjalan.
Di tengah upaya pemulihan, warga menghadapi dilema kemanusiaan. Hirokazu Sato, yang kehilangan rumahnya, memilih bertahan di mobil bersama istri dan tiga anaknya. "Kami harus menyalakan AC sepanjang hari, itu menghabiskan bensin," ujarnya. Kelangkaan bahan bakar membuat banyak korban kesulitan menjalankan pendingin udara di dalam kendaraan, sementara suhu di Kota Kumamoto mencapai 36 derajat Celsius pada Jumat, memicu peringatan panas ekstrem dari badan meteorologi setempat.
Ayako Sudo, warga berusia 70-an, mengaku trauma dengan guncangan susulan. "Rumah kayu ini bergetar hebat, bahkan gempa kecil pun terasa menakutkan," katanya. Ia dan suaminya memilih tidur di mobil, pengalaman yang pernah ia jalani selama dua pekan saat gempa besar 2016. "Kami kurang tidur, ini melelahkan," tambahnya. Banyak warga lain memilih bertahan di luar rumah karena khawatir bangunan roboh, meski harus berhadapan dengan panas dan keterbatasan fasilitas.
Dari sisi infrastruktur, layanan kereta peluru Shinkansen rute KumamotoโFukuoka mulai beroperasi kembali dengan frekuensi terbatas, sementara rute ke Kagoshima di selatan masih ditutup. Kereta lokal di wilayah terdampak juga belum beroperasi. Pemerintah Jepang menyebut Jumat sore sebagai titik krusial dalam operasi penyelamatan, mengingat peluang bertahan hidup menurun drastis setelah tiga hari pertama. Namun, jumlah pasti korban hilang belum diumumkan secara resmi.
Bagi Indonesia, bencana ini menjadi pengingat akan kerentanan rantai pasok global. Sebagai salah satu pemasok utama komponen elektronik, gangguan produksi di Kumamoto dapat berdampak pada industri manufaktur dalam negeri yang bergantung pada impor semikonduktor. Pertanyaan yang mengemuka: seberapa cepat Jepang mampu memulihkan infrastruktur vitalnya, dan akankah industri otomotif serta elektronik Indonesia merasakan getarannya dalam beberapa bulan ke depan?



