Franco Baresi Tutup Usia: Legenda Milan yang Terakhir Kali Tampil di San Siro Membawa Obor Olimpiade
Baca dalam 60 detik
- Legenda AC Milan dan tim nasional Italia, Franco Baresi, meninggal dunia pada usia 66 tahun setelah menjalani perawatan imunoterapi.
- Penampilan publik terakhir Baresi terjadi pada 6 Februari 2026, saat ia membawa obor Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina di San Siro bersama Beppe Bergomi.
- Ucapan belasungkawa mengalir dari seluruh klub Serie A, termasuk rival sekota Inter dan Juventus, serta mantan rekan setimnya Paolo Maldini.

Franco Baresi, salah satu bek terbaik dalam sejarah sepak bola Italia dan dunia, meninggal dunia pada usia 66 tahun. Kabar duka ini mengejutkan publik sepak bola, terutama setelah penampilan publik terakhirnya yang mengharukan di San Siro pada awal Februari lalu, ketika ia membawa obor Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina.
Baresi, yang menghabiskan seluruh karier profesionalnya di AC Milan, telah menjalani operasi pengangkatan nodul paru-paru pada pertengahan 2025 dan memulai imunoterapi sejak Agustus tahun yang sama. Meski kondisinya menurun, ia tetap tampil dalam upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin yang digelar di San Siro, sebuah momen yang diakuinya sebagai pengalaman paling emosional dalam hidupnya.
Dalam wawancara dengan surat kabar Italia, La Repubblica, sehari setelah acara tersebut, Baresi mengungkapkan betapa mendalamnya momen itu. โSaya tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Obor itu bukan sekadar benda; ia membawa sejarah olahraga dan peradaban manusia. Ini adalah simbol yang sangat kuat,โ ujarnya. Ia juga menceritakan bahwa undangan untuk menjadi pembawa obor datang dari presiden Komite Olimpiade Italia (CONI) sekitar enam minggu sebelumnya, dan ia sempat ragu karena kondisinya yang tidak prima. Namun, ia akhirnya menerima kehormatan itu bersama Beppe Bergomi, legenda Inter yang juga menjadi rival abadinya di lapangan.
Kepergian Baresi meninggalkan duka mendalam tidak hanya bagi Milan, tetapi juga bagi sepak bola Italia secara keseluruhan. Seluruh klub Serie A, termasuk Inter dan Juventus, menyampaikan belasungkawa resmi. Paolo Maldini, yang pernah menjadi rekan setimnya di Milan, menulis di Instagram: โKau melindungiku saat aku kecil, membimbingku saat muda, dan menginspirasiku saat dewasa. Kau adalah pemain terhebat yang pernah aku mainkan bersamanya.โ
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, nama Franco Baresi mungkin tidak sepopuler generasi berikutnya seperti Maldini atau Alessandro Nesta, tetapi warisannya sebagai bek tengah yang cerdas dan loyal tetap menjadi rujukan. Gaya bermainnya yang tenang, kemampuan membaca permainan, dan dedikasinya pada satu klub selama 20 tahun adalah nilai-nilai yang jarang ditemui di era sepak bola modern yang penuh dengan transfer spektakuler. Di Indonesia, di mana klub-klub lokal seringkali kehilangan pemain bintangnya ke luar negeri, kisah Baresi bisa menjadi pengingat akan arti kesetiaan dan profesionalisme.
Momen Baresi membawa obor Olimpiade bersama Bergomi juga memiliki resonansi khusus: dua legenda dari klub yang berseteru, berdiri berdampingan dalam damai. Ini adalah simbol persatuan yang kuat, terutama di tengah rivalitas sengit yang seringkali memecah belah. Bagi Indonesia, yang memiliki rivalitas sepak bola yang tidak kalah panas, momen seperti ini bisa menjadi pelajaran bahwa olahraga pada akhirnya mampu menyatukan, bukan memecah.
Kepergian Baresi menandai akhir dari sebuah era. Namun, pertanyaannya sekarang: akankah ada lagi pemain dengan loyalitas dan kualitas seperti Baresi di masa depan? Ataukah sepak bola modern yang serba cepat dan pragmatis akan melahirkan tipe pemain yang berbeda? Yang jelas, nama Franco Baresi akan selalu dikenang sebagai salah satu ikon terbesar yang pernah dimiliki Italia.



