Shiho Kuwaki Juara British Open: Gelar Major Pertama, Jepang Makin Mendominasi Golf Putri
Baca dalam 60 detik
- Pegolf Jepang Shiho Kuwaki merebut gelar mayor pertamanya di Women's British Open setelah menaklukkan Esther Henseleit lewat playoff dramatis.
- Kemenangan ini menegaskan hegemoni Jepang di golf putri dunia, dengan tujuh gelar mayor sejak 1977 dan tiga kemenangan beruntun di ajang ini.
- Dominasi Jepang bisa menjadi sinyal bagi perkembangan golf Asia, termasuk Indonesia, yang mulai melirik potensi atlet mudanya.

Pegolf Jepang Shiho Kuwaki menorehkan sejarah baru dengan memenangkan Women's British Open di Royal Lytham & St Annes Golf Club, Inggris, Minggu (3/8). Kemenangan ini menjadi gelar mayor pertamanya sekaligus menegaskan dominasi Jepang di kancah golf putri dunia.
Kuwaki, yang baru berusia 23 tahun, harus melewati babak playoff dramatis melawan pegolf Jerman Esther Henseleit. Setelah kedua pemain menyelesaikan putaran final dengan skor sama, Kuwaki akhirnya keluar sebagai pemenang di hole playoff kedua. Ini merupakan kemenangan mayor ketiga beruntun bagi Jepang di ajang ini, setelah Miyu Yamashita tahun lalu dan Hinako Shibuno pada 2019.
"Sulit dipercaya," ujar Kuwaki, yang tahun lalu gagal lolos cut di turnamen yang sama. "Bermain di panggung ini saja sudah suatu kehormatan. Saya menghadapi setiap hole dengan segenap kemampuan dan berusaha menikmatinya sampai akhir."
Kuwaki memulai putaran final dengan tertinggal tiga pukulan dari pemimpin klasemen. Ia mencatatkan tiga birdie dan dua bogey untuk skor 70 (1-under), dan total 279 (5-under). Henseleit sempat memaksa playoff dengan birdie panjang di hole 18, namun di playoff ia harus menyerah setelah gagal menyelamatkan par.
Kemenangan ini menambah daftar panjang sukses pegolf Jepang di ajang mayor. Hisako Higuchi menjadi pelopor pada 1977, disusul Shibuno pada 2019, lalu Yuka Saso (2021 dan 2024), Ayaka Furue (2024), Mao Saigo (2025), dan Yamashita (2025). Kuwaki menjadi yang ketujuh.
Dominasi Jepang di golf putri bukan kebetulan. Mereka memiliki sistem pembinaan usia dini yang solid, kompetisi domestik yang ketat, serta dukungan sponsor yang kuat. Keberhasilan para pegolf muda seperti Kuwaki menunjukkan bahwa Jepang konsisten melahirkan talenta baru.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pelajaran berharga. Meski golf belum menjadi olahraga populer di kalangan muda, potensi atlet Indonesia di kancah internasional mulai terlihat. Beberapa pegolf Indonesia telah menembus turnamen internasional, namun belum ada yang mampu bersaing di level mayor. Keberhasilan Jepang bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan golf nasional, terutama dalam hal pembinaan usia dini dan mental bertanding.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah mampukah Jepang mempertahankan dominasi ini? Dengan generasi muda yang terus bermunculan, bukan tidak mungkin mereka akan semakin menguasai panggung golf putri dunia. Sementara itu, bagi Indonesia, saatnya mulai serius membangun ekosistem golf yang mampu melahirkan juara-juara baru.



