Lisensi IP Global: Jalan Baru Kreator Indonesia Menembus Pasar Internasional
Baca dalam 60 detik
- Kolaborasi lisensi IP global dengan kreator lokal diproyeksikan membuka ekosistem bisnis baru di subsektor gim, kriya, dan desain.
- HoYo FEST 2026 menjadi bukti nyata, dengan 71 kreator dan 50 booth yang berhasil menarik lebih dari 9.500 pengunjung.
- Pemerintah menargetkan perluasan model ini untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat ekonomi kreatif kawasan.

Kolaborasi antara pemegang kekayaan intelektual (IP) global dan kreator lokal kini menjadi pintu masuk bagi pelaku ekonomi kreatif Indonesia untuk memonetisasi karya mereka secara legal dan berkelanjutan. Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, menegaskan bahwa skema lisensi resmi tidak hanya meningkatkan nilai tambah produk, tetapi juga membuka akses ke pasar yang lebih luas, terutama di sektor gim, kriya, ilustrasi, dan desain.
Pernyataan ini mengemuka di tengah gelaran HoYo FEST 2026, sebuah festival yang mempertemukan penggemar gim dengan kreator lokal. Irene menilai inisiatif seperti ini menjadi terobosan karena memungkinkan talenta Indonesia menghasilkan karya bernilai komersial tanpa kehilangan hak kepemilikan intelektualnya. "HoYo FEST menunjukkan bahwa kolaborasi antara IP global dan kreator lokal mampu menciptakan nilai ekonomi yang saling menguntungkan," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin.
Data dari penyelenggara mencatat, sejak dibuka pada 30 Juli, festival ini telah dikunjungi lebih dari 9.500 orang. Sebanyak 71 pegiat ekonomi kreatif terlibat dalam Artist Alley yang menampilkan sekitar 50 booth. Produk yang dipamerkan merupakan hasil kerja sama antara kreator Indonesia dan IP milik HoYoverse, perusahaan gim asal Tiongkok yang dikenal lewat game seperti Genshin Impact dan Honkai: Star Rail.
Bagi Indonesia, fenomena ini bukan sekadar ajang komunitas. Associate Brand Director HoYoverse Indonesia, Aswin Atonie, menyebut antusiasme publik membuktikan potensi ekonomi yang besar dari sinergi antara industri gim, komunitas, dan kreator lokal. "Kami berharap sinergi antara pemerintah, industri, dan komunitas seperti ini dapat terus berkembang," katanya. Ini sejalan dengan target pemerintah yang ingin menjadikan ekonomi kreatif sebagai salah satu pilar pertumbuhan nasional.
Namun, di balik peluang, ada tantangan yang perlu diantisipasi. Banyak kreator lokal yang masih gamang memahami seluk-beluk lisensi IP, mulai dari negosiasi royalti hingga perlindungan hukum. Irene menekankan bahwa pemahaman nilai IP menjadi kunci agar kreator tidak terjebak dalam kontrak yang merugikan. Pemerintah pun berkomitmen untuk mendorong literasi IP di kalangan pelaku usaha kecil dan menengah.
Langkah berikutnya, pemerintah berencana memperluas kerja sama dengan lebih banyak pemilik IP internasional. Jika berhasil, Indonesia berpeluang menjadi hub ekonomi kreatif di Asia Tenggara, menarik investasi asing, dan menciptakan lapangan kerja baru. Pertanyaannya, mampukah ekosistem lokal menyerap peluang ini sebelum negara tetangga seperti Thailand atau Vietnam bergerak lebih cepat?



