Badan Siber AS Peringatkan Serangan ke Sistem Air Meningkat: Operator Diminta Putus Koneksi Internet
Baca dalam 60 detik
- Badan Keamanan Siber AS (CISA) mengeluarkan peringatan mendesak terkait lonjakan serangan siber yang menargetkan infrastruktur air dan limbah, mendorong operator untuk segera memutus akses internet.
- Serangan terkoordinasi di Minnesota pada akhir Juli memengaruhi lebih dari 30 sistem air, dengan dugaan keterlibatan peretas yang berafiliasi dengan Iran di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
- Para ahli memperingatkan bahwa insiden ini merupakan eskalasi dari kampanye sebelumnya, dan dampaknya bisa meluas ke negara lain, termasuk Indonesia yang tengah mendorong digitalisasi infrastruktur.

Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur Amerika Serikat (CISA) pada Kamis (30/7) mengeluarkan peringatan keras terkait peningkatan signifikan serangan siber yang menyasar teknologi pengendali sistem air dan pengolahan limbah. Lembaga tersebut secara eksplisit meminta para operator untuk segera memutus koneksi internet pada sistem-sistem tersebut guna mencegah akses ilegal yang lebih luas.
Peringatan ini muncul hanya dua hari setelah Badan Teknologi Informasi Minnesota melaporkan bahwa lebih dari 30 sistem air komunitas di negara bagian itu menjadi sasaran "serangan siber terkoordinasi" pada 26โ27 Juli. FBI dalam pernyataannya menambahkan bahwa perusahaan utilitas air dan limbah di setidaknya tujuh negara bagian telah melaporkan insiden serupa, dengan sebagian aktivitas tersebut "menurunkan operasional air".
Menurut laporan The New York Times, para pejabat dan penyidik AS menduga peretas yang terkait dengan Iran berada di balik serangan di Minnesota. Dugaan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran, yang baru-baru ini saling melancarkan serangan rudal. Meski demikian, perwakilan pemerintah Iran belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan tersebut.
Fenomena ini bukanlah hal baru. Sebelum konflik terbaru, kelompok-kelompok yang berafiliasi dengan Iran telah lama menargetkan fasilitas air AS. Namun, serangan terbaru menunjukkan eskalasi yang mengkhawatirkan. Pada Maret lalu, misalnya, perusahaan layanan medis Stryker dan otoritas transportasi Los Angeles juga menjadi korban serangan siber yang menonjol. Kini, sektor air menjadi sorotan utama, dengan dampak yang lebih langsung terhadap keselamatan publik.
Peringatan CISA menyebutkan bahwa dalam beberapa kasus, peretas berhasil mengubah kata sandi untuk mengunci operator, memutus perangkat dari jaringan, dan bahkan memicu "pemberitahuan air mendidih" serta operasi manual yang berkepanjangan. FBI juga menerima laporan tentang dampak operasional seperti hilangnya tekanan air dan banjir di sejumlah lokasi. Meskipun pejabat setempat menegaskan bahwa kualitas air tidak terancam, insiden ini memaksa sejumlah sistem untuk dimatikan sementara dan diatur ulang secara manual.
John Israel, pejabat keamanan informasi Minnesota, menyatakan bahwa investigasi masih berlangsung dan negara bagian telah memberikan informasi relevan kepada pemerintah federal untuk dievaluasi dalam konteks nasional yang lebih luas. Sementara itu, Cynthia Kaiser, mantan pejabat senior FBI, menilai bahwa kampanye ini kemungkinan merupakan kelanjutan dari aktivitas peretas Iran yang sebelumnya menargetkan PLC dan infrastruktur kritis lainnya, seperti yang tercantum dalam advisory bersama CISA, FBI, NSA pada April lalu. "Fakta bahwa advisory baru diterbitkan mengindikasikan perluasan kampanye, detail teknis baru, atau pembaruan aktivitasโmungkin kombinasi dari semuanya," ujarnya.
Chris Day, CTO sektor publik dari perusahaan keamanan siber Tenable, menambahkan bahwa insiden Minnesota konsisten dengan aktivitas Iran sebelumnya, tetapi laporan tentang sistem yang sementara waktu offline merupakan "eskalasi yang menarik" dibandingkan kejadian-kejadian sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa para peretas semakin berani dan mampu menimbulkan gangguan operasional yang nyata.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi alarm dini. Dengan semakin gencarnya digitalisasi infrastruktur, termasuk sistem pengelolaan air minum dan irigasi, risiko serangan siber terhadap fasilitas vital semakin nyata. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) perlu memperkuat koordinasi dengan operator PDAM dan pengelola waduk untuk mengidentifikasi celah keamanan, terutama pada perangkat yang terhubung internet. Selain itu, insiden ini menyoroti pentingnya berbagi informasi intelijen antar lembaga, seperti yang dilakukan AS, untuk mendeteksi dan menangkal ancaman sejak dini.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah: apakah sektor air di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, sudah siap menghadapi serangan siber yang semakin canggih? Dengan meningkatnya ketegangan geopolitik global, infrastruktur kritis seperti air menjadi target empuk yang dapat melumpuhkan layanan publik. Sudah saatnya pemerintah dan operator swasta tidak lagi menganggap keamanan siber sebagai prioritas sekunder, melainkan sebagai bagian integral dari ketahanan nasional.



