Amazon Buktikan Dominasi Cloud: Pendapatan AWS Melonjak 37%, Saham Terbang
Baca dalam 60 detik
- Pendapatan AWS kuartal II-2026 mencapai US$42,2 miliar, tumbuh 37% dan melampaui ekspektasi analis.
- Amazon menaikkan proyeksi belanja modal tahun ini menjadi US$220 miliar, didorong kebutuhan chip memori untuk AI.
- Kinerja ini meredakan kekhawatiran pasar soal investasi AI raksasa teknologi yang dinilai berlebihan.

Amazon berhasil membungkam keraguan pasar terhadap bisnis komputasi awannya. Raksasa e-commerce dan teknologi itu melaporkan pendapatan Amazon Web Services (AWS) yang melonjak 37 persen secara tahunan menjadi US$42,2 miliar pada kuartal kedua tahun ini, jauh di atas perkiraan analis yang hanya memproyeksikan kenaikan 31,21 persen. Kabar ini mendorong harga saham Amazon melonjak lebih dari 8 persen dalam perdagangan setelah jam bursa.
Pertumbuhan AWS tersebut merupakan yang tercepat dalam 18 kuartal terakhir, menurut pernyataan CEO Andy Jassy. Divisi kecerdasan buatan (AI) dan bisnis chip Amazon bahkan masing-masing telah mencapai tingkat pendapatan tahunan (run rate) di atas US$25 miliar. "AWS sedang booming," ujar Jassy, seraya menambahkan bahwa permintaan terhadap layanan AI masih jauh melampaui kapasitas yang tersedia.
Untuk mengimbangi lonjakan permintaan itu, Amazon merevisi naik proyeksi belanja modal (capex) tahun ini menjadi US$220 miliar, atau naik 10 persen dari perkiraan sebelumnya. Jassy mengungkapkan bahwa biaya pembelian chip memori menjadi faktor utama di balik peningkatan tersebut. "Bahkan dengan jumlah itu, kami masih belum memiliki kapasitas yang cukup untuk memenuhi seluruh permintaan pada 2026. Saya yakin dinamika ini juga akan terjadi pada 2027," katanya dalam konferensi dengan para investor.
Meski pendapatan menjulang, arus kas bebas (free cash flow) Amazon justru terkoreksi tajam. Perusahaan membukukan arus kas negatif sebesar US$7,6 miliar dalam 12 bulan terakhir, berbanding terbalik dengan posisi positif US$18,2 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Fenomena serupa juga dialami oleh Microsoft, Alphabet (Google), dan Meta yang tengah gencar membangun infrastruktur AI. Namun, para analis menilai bahwa tekanan arus kas ini bersifat sementara dan sebanding dengan potensi pendapatan jangka panjang.
Dan Morgan, portfolio manager di Synovus Trust, menilai bahwa hasil ini sekaligus mematahkan kekhawatiran akan tergerusnya pangsa pasar AWS. "Kekhawatiran tentang hilangnya pangsa pasar AWS kini telah sirna. Bukti ini menunjukkan bahwa keunggulan AWS masih utuh. Pasang surut AI mengangkat semua kapal di sini," ujarnya. Kinerja AWS yang solid juga mencerminkan tren serupa dari Microsoft Azure dan Google Cloud, yang sama-sama melampaui estimasi pendapatan Wall Street.
Amazon sendiri telah menjalin sejumlah kemitraan strategis tahun ini, termasuk kesepakatan infrastruktur cloud dan pasokan chip dengan OpenAI, Anthropic, Meta, Pinterest, dan Snowflake. Perusahaan sebelumnya juga mengumumkan bahwa run rate pendapatan AI tahunan AWS telah melampaui US$15 miliar dan tumbuh dalam kisaran tiga digit persentase. Analis memperkirakan pertumbuhan ini akan berlanjut seiring bertambahnya kapasitas pusat data yang akan beroperasi dalam beberapa bulan mendatang.
Di luar bisnis cloud, Amazon juga mencatatkan kinerja positif di sektor e-commerce dan periklanan. Prime Day yang digelar pada 23โ26 Juni lalu menghasilkan total belanja lebih dari US$26,4 miliar, menurut Adobe Analytics. Sementara itu, pendapatan iklan naik 26 persen menjadi US$19,8 miliar, didorong oleh semakin banyaknya pesan pemasaran yang ditampilkan di berbagai properti Amazon.
Bagi Indonesia, pertumbuhan AWS yang eksplosif menjadi sinyal positif bagi ekosistem startup dan perusahaan teknologi lokal yang banyak menggunakan layanan cloud Amazon. Dengan investasi infrastruktur yang terus digelontorkan, termasuk kemungkinan pembangunan pusat data di Asia Tenggara, akses terhadap kapasitas komputasi berbiaya kompetitif diprediksi semakin mudah. Namun, dominasi AWS juga menimbulkan pertanyaan tentang ketergantungan berlebih pada satu penyedia layanan cloud dan potensi kenaikan biaya di masa depan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah para raksasa teknologi mampu mempertahankan momentum pertumbuhan ini tanpa mengorbankan profitabilitas. Dengan belanja AI yang diperkirakan menembus US$700 miliar tahun ini, tekanan terhadap arus kas akan terus berlanjut. Namun, jika permintaan tetap setinggi sekarang, investasi tersebut bisa menjadi fondasi bagi gelombang pertumbuhan berikutnya.



