Pergantian Pucuk Pimpinan DSTA: Roy Chan Naik, Ng Chad-Son ke PMO
Baca dalam 60 detik
- Roy Chan akan menjabat CEO DSTA mulai 1 September, menggantikan Ng Chad-Son yang dipromosikan ke posisi strategis di PMO dan MINDEF.
- Chan membawa pengalaman panjang di bidang sistem engineering dan manajemen program besar, serta pernah meraih penghargaan internasional dari Prancis.
- Ng Chad-Son selama kepemimpinannya mendorong transformasi teknologi pertahanan seperti drone, robotika, dan AI, serta memperkuat kemitraan global.

Badan Sains dan Teknologi Pertahanan Singapura (DSTA) akan mengalami pergantian pucuk pimpinan pada awal September mendatang. Roy Chan, yang saat ini menjabat sebagai wakil CEO bidang operasi, ditunjuk sebagai chief executive baru, menggantikan Ng Chad-Son yang akan mengemban tugas di lingkungan Perdana Menteri dan Kementerian Pertahanan.
Kementerian Pertahanan Singapura (MINDEF) mengumumkan pada Kamis (30/7) bahwa Ng Chad-Son akan diangkat sebagai Sekretaris Tetap untuk Riset dan Pengembangan Nasional serta Kantor Kebijakan dan Perencanaan Sains dan Teknologi Sektor Publik di Kantor Perdana Menteri. Ia juga akan merangkap sebagai Sekretaris Tetap (Pengembangan Pertahanan) di MINDEF. Rotasi ini menunjukkan bagaimana Singapura secara konsisten memindahkan talenta terbaiknya ke posisi-posisi kunci yang berdampak luas, tidak hanya di sektor pertahanan tetapi juga di ranah kebijakan sains dan teknologi nasional.
Roy Chan, 52 tahun, telah bergabung dengan Komunitas Teknologi Pertahanan sejak 1998. Ia memiliki pengalaman mendalam di bidang rekayasa sistem dan arsitektur, manajemen program skala besar, serta interoperabilitas sistem. Chan meraih penghargaan Public Administration Medal (Silver) pada 2022 dan dianugerahi gelar "Knight of the National Order of Merit" oleh pemerintah Prancis pada 2025. Latar belakang pendidikannya mencakup gelar Bachelor of Engineering dari Victoria University of Manchester dan Master of Science dari Naval Postgraduate School.
Ng Chad-Son, 51 tahun, memimpin DSTA sejak 15 Mei 2024. Dalam masa kepemimpinannya yang relatif singkat, ia berhasil mendorong pengiriman sejumlah kemampuan pertahanan signifikan bagi MINDEF dan Angkatan Bersenjata Singapura (SAF). Menurut MINDEF, di bawah arahannya DSTA mengembangkan kapal selam kelas Invincible, Kapal Tempur Multi-Peran, Kendaraan Tempur Infanteri Titan, serta memperluas Area Latihan Shoalwater Bay di Australia. Yang paling menonjol, ia memajukan pengembangan transformasional seperti drone, robotika, sistem anti-drone, dan kecerdasan buatan.
Selain itu, Ng juga memperluas kemitraan sains dan teknologi pertahanan Singapura dengan mitra internasional serta memperkuat kapasitas inovasi DSTA. MINDEF menyatakan bahwa sepanjang masa jabatannya, Ng menjunjung tinggi budaya inovasi dan kolaborasi, serta memprioritaskan pengembangan sumber daya manusia untuk membangun tenaga kerja yang siap menghadapi masa depan. Kementerian menyampaikan apresiasi mendalam atas pengabdian dan kontribusi Ng yang berharga bagi MINDEF, SAF, DSTA, dan Komunitas Teknologi Pertahanan.
Pergantian kepemimpinan ini menarik untuk dicermati, terutama dalam konteks persaingan teknologi pertahanan di kawasan Asia Tenggara. Singapura terus berinvestasi besar dalam modernisasi alat utama sistem persenjataan dan pengembangan teknologi otonom. Bagi Indonesia, langkah ini menjadi pengingat akan pentingnya memperkuat industri pertahanan dalam negeri dan alih teknologi. Dengan pengalaman Chan di bidang sistem interoperabilitas, DSTA diperkirakan akan semakin fokus pada integrasi platform dan sistem berbasis AI. Pertanyaannya, apakah langkah ini akan diikuti oleh negara-negara tetangga dalam upaya mengejar ketertinggalan teknologi militer?



