Kebakaran Kapal di Sumenep: TNI AL Kerahkan Dua KRI dan Pesawat, 30 Penumpang Selamat
Baca dalam 60 detik
- Operasi penyelamatan KM Mutiara Sentosa II melibatkan dua kapal perang dan satu pesawat udara TNI AL di perairan utara Sumenep.
- Sebanyak 30 orang berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat, sementara dua lainnya ditemukan meninggal dunia.
- KRI Bung Hatta-370 masih bersiaga di lokasi untuk mengamankan proses SAR hingga dinyatakan selesai.

Dua kapal perang Republik Indonesia dan satu pesawat udara dikerahkan TNI Angkatan Laut untuk mengevakuasi penumpang KM Mutiara Sentosa II yang terbakar di perairan utara Sumenep, Jawa Timur, Minggu (2/8). Dari operasi tersebut, 30 orang berhasil diselamatkan, namun dua orang dilaporkan meninggal dunia.
Komando Armada (Koarmada) RI merespons cepat laporan kebakaran yang masuk sekitar pukul 10.00 WIB. Panglima Koarmada RI, Laksamana Madya TNI Denih Hendrata, mengungkapkan bahwa KRI Nala-363 yang baru saja menyelesaikan latihan bersama Angkatan Laut China (PLA Navy) langsung dialihkan menuju lokasi kejadian. Sementara itu, KRI Bung Hatta-370 yang tengah bertugas patroli di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II juga diperintahkan bergeser ke titik koordinat kapal terbakar.
Selain dua kapal perang, TNI AL menerbangkan pesawat NC 212-200 Avicor U-6206 untuk memantau situasi dari udara. Kehadiran pesawat ini dinilai krusial untuk memetakan sebaran korban dan memastikan tidak ada penumpang yang tertinggal di laut. Langkah tersebut menunjukkan kesiapan alat utama sistem pertahanan (alutsista) TNI AL dalam operasi kemanusiaan, bukan sekadar latihan militer.
KRI Nala-363 menjadi garda terdepan evakuasi. Kapal tersebut berhasil mengangkut 30 korban selamat dan dua jenazah. Seluruh korban kemudian dibawa ke Surabaya untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut di posko crisis center. Sementara itu, KRI Bung Hatta-370 tetap berada di lokasi untuk melakukan pengawasan dan pengamanan hingga operasi SAR resmi dinyatakan selesai.
Insiden ini menjadi sorotan karena KM Mutiara Sentosa II merupakan kapal feri yang melayani rute antar-pulau. Kecelakaan laut semacam ini kerap menimbulkan pertanyaan tentang keselamatan pelayaran nasional. Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan telah berjanji mengevaluasi operator kapal tersebut, sementara Menko IPK memastikan investigasi menyeluruh akan dilakukan. Bagi masyarakat Indonesia yang sangat bergantung pada transportasi laut, kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya standar keselamatan yang ketat.
Menurut catatan Basarnas, total 122 korban dari kapal tersebut telah tiba di darat. Namun, operasi pencarian masih terus dilakukan untuk memastikan tidak ada korban lain yang belum ditemukan. TNI AL menegaskan kesiapan personelnya untuk terus bergerak hingga proses evakuasi dinyatakan tuntas.
Ke depan, pertanyaan besar yang mengemuka adalah bagaimana pemerintah dan operator pelayaran akan memperketat regulasi keselamatan kapal penumpang. Apakah insiden ini akan menjadi momentum perbaikan menyeluruh, atau justru tenggelam bersama berita? Publik menunggu hasil investigasi dan langkah konkret yang diambil otoritas terkait.



