Savicevic Sesalkan Baresi Tak Pernah Raih Ballon d'Or: 'Itu Salah Kalian Jurnalis'
Baca dalam 60 detik
- Legenda Milan, Dejan Savicevic, menyalahkan jurnalis atas kegagalan Franco Baresi memenangkan Ballon d'Or sepanjang kariernya.
- Hanya tiga bek yang pernah meraih penghargaan individu tertinggi sepak bola tersebut, sementara Baresi dianggap layak namun terabaikan.
- Kritik ini memicu diskusi tentang kredibilitas sistem voting Ballon d'Or yang kerap mengabaikan pemain bertahan.

Legenda AC Milan, Dejan Savicevic, melontarkan kritik tajam terhadap sistem pemilihan Ballon d'Or yang menurutnya gagal mengakui kehebatan mendiang Franco Baresi. Dalam wawancara eksklusif dengan La Gazzetta dello Sport, Savicevic menegaskan bahwa ketiadaan trofi tersebut dalam lemari koleksi Baresi merupakan 'aib' yang harus ditanggung para jurnalis yang tidak memberikan suaranya.
Baresi, yang wafat pada usia 66 tahun, akan dimakamkan Selasa mendatang di Milan. Sejumlah ikon Rossoneri dari berbagai generasi dijadwalkan hadir, termasuk Savicevic yang merupakan rekan setim Baresi di era kejayaan Milan pada akhir 1980-an dan awal 1990-an. Savicevic mengenang kaptennya itu sebagai sosok yang memiliki visi permainan luar biasa dan pemahaman sepak bola yang mendalam.
โDia adalah pribadi yang hebat, rekan setim yang luar biasa, dan pemain yang luar biasa. Sepak bola mengalir dalam darahnya, dia memahami segalanya dan memiliki visi permainan yang luar biasa,โ kenang Savicevic. โSan Siro biasa bernyanyi: 'Satu kapten, hanya ada satu kapten'. Mendengar nyanyian itu merinding, memberi semangat bagi semua orang.โ
Savicevic juga mengungkapkan bahwa Baresi sering kali dianggap setara atau bahkan lebih hebat dari Franz Beckenbauer, salah satu bek terbaik sepanjang masa. Namun, dalam daftar peraih Ballon d'Or, hanya tiga bek yang pernah menang: Beckenbauer (dua kali), Matthias Sammer, dan Fabio Cannavaro. Baresi, yang memenangkan banyak gelar bersama Milan, tidak pernah sekalipun meraih penghargaan tersebut.
โItu salah satu hal yang memalukan. Bagaimana bisa Ballon d'Or tidak diberikan kepada Baresi? Tapi itu salah kalian,โ ujar Savicevic sambil menunjuk para jurnalis. โKalian tidak memilihnya, hanya pemain Belanda yang menang. Rijkaard selalu berada di depannya. Dengan segala hormat kepada Rijkaard, dia gelandang dengan umpan bagus, tapi Baresi itu fenomena lain. Jangan bicara soal Ballon d'Or, itu membuatku kesal.โ
Kritik Savicevic menyoroti kecenderungan Ballon d'Or yang selama bertahun-tahun lebih mengapresiasi pemain menyerang. Padahal, kontribusi bek seperti Baresi sering kali menjadi fondasi kesuksesan tim. Di Indonesia, fenomena serupa juga terjadi dalam pemberian penghargaan individu seperti Pemain Terbaik Liga 1, yang kerap didominasi penyerang atau gelandang serang, sementara bek dan kiper jarang mendapat sorotan.
Savicevic juga mengenang momen-momen pribadi bersama Baresi, termasuk saat ia mengalami krisis di awal kariernya di Milan. โSaya ingin pergi, tapi Franco memeluk saya dan berkata, 'Ke mana kamu mau pergi? Kita di Milan, di mana kamu bisa merasa lebih baik? Jangan marah, jangan menyerah'. Dia selalu ada untuk semua orang,โ tuturnya.
Kepergian Baresi meninggalkan duka mendalam bagi dunia sepak bola, khususnya para penggemar Milan. Namun, warisan kepemimpinan dan dedikasinya akan terus dikenang. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah sistem voting Ballon d'Or akan berubah untuk lebih menghargai pemain bertahan di masa depan? Atau akankah sejarah terus mengulang pola yang sama?



