Menteri Keuangan AS Sebut Yen Terlalu Murah, Isyaratkan Intervensi Pasar
Baca dalam 60 detik
- Menteri Keuangan AS Scott Bessent menilai yen Jepang sangat undervalued, memicu spekulasi intervensi otoritas Jepang.
- Pernyataan Bessent muncul setelah yen menguat tajam ke level tertinggi sejak Mei, diduga karena intervensi pasar.
- Bagi Indonesia, penguatan yen berpotensi mempengaruhi nilai tukar rupiah dan arus modal asing di kawasan.

Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, secara terbuka menyatakan bahwa yen Jepang saat ini berada pada level yang sangat murah. Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara dengan FOX Business, Kamis (31/7), di tengah penguatan tajam yen yang memicu dugaan intervensi dari Bank of Japan.
Bessent, yang memiliki pengalaman empat dekade di pasar valuta asing, menilai yen telah mengalami overshoot signifikan dari nilai ekuilibriumnya. โSaya berkecimpung di bisnis mata uang selama 40 tahun, dan yen Jepang tampak sangat undervalued bagi saya. Mata uang ini sangat murah. Ekonomi Jepang berjalan baik, perdana menteri sangat populer dan menerapkan kebijakan kuat. Saya pikir fundamental akan terlihat,โ ujarnya.
Pernyataan itu muncul setelah yen menguat hampir 5 yen dalam waktu sekitar 50 menit di perdagangan New York, menembus level 157 per dolar ASโterkuat sejak pertengahan Mei. Pergerakan dramatis tersebut mendorong banyak pelaku pasar meyakini bahwa otoritas Jepang telah turun tangan menahan pelemahan yen yang berkepanjangan.
Menariknya, Bessent mengaku tidak khawatir dengan apresiasi yen terhadap dolar. Ia justru menekankan bahwa volatilitas berlebihan tidak sehat bagi perekonomian. โPasar valas cenderung overshoot. Dan saya yakin yen telah melampaui harga ekuilibrium secara substansial,โ tambahnya.
Pandangan Bessent memberikan sinyal bahwa AS tidak akan keberatan jika Jepang melakukan intervensi untuk menstabilkan yen. Sebaliknya, pernyataan itu bisa dibaca sebagai dukungan tersirat terhadap langkah Tokyo. Selama bertahun-tahun, Jepang menghadapi tekanan dari AS agar tidak memanipulasi mata uang, namun kali ini nada yang disampaikan berbeda.
Bagi Indonesia, dinamika yen-dolar memiliki implikasi langsung. Penguatan yen cenderung mendorong penguatan rupiah karena investor asing mungkin mengalihkan dana dari aset dolar ke yen dan mata uang Asia lainnya. Namun, jika intervensi Jepang berlangsung agresif, volatilitas regional bisa meningkat dan mempengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah. Bank Indonesia perlu mencermati pergerakan ini dalam menjaga keseimbangan pasar.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Bank of Japan akan terus melakukan intervensi untuk menahan pelemahan yen, atau justru membiarkan pasar menemukan keseimbangan baru. Pernyataan Bessent setidaknya memberi ruang bagi Jepang untuk bertindak tanpa kecaman dari Washington. Namun, efektivitas intervensi jangka pendek masih diragukan mengingat tekanan fundamental dari perbedaan suku bunga AS-Jepang yang masih lebar.



