Korea Selatan dan Jepang Gelar Intervensi Valas Bersama, Won Melonjak ke Tertinggi Sembilan Bulan
Baca dalam 60 detik
- Otoritas valas Korea Selatan melakukan intervensi jual dolar AS yang langka, mendorong won ke level tertinggi dalam sembilan bulan.
- Langkah Seoul berbarengan dengan aksi serupa Jepang di New York, mengindikasikan koordinasi erat kedua negara dalam menstabilkan mata uang.
- Intervensi bersama ini berpotensi mempengaruhi dinamika nilai tukar regional, termasuk rupiah Indonesia, di tengah penguatan dolar global.

Otoritas valuta asing Korea Selatan melakukan intervensi penjualan dolar Amerika Serikat yang tidak lazim pada Kamis (30/7), mengirim won ke level tertinggi dalam sembilan bulan. Langkah ini terjadi bersamaan dengan aksi serupa Jepang di pasar New York, yang berhasil menarik yen dari posisi terendah dalam empat dekade.
"Pejabat valas melakukan intervensi penjualan dolar yang langka semalam," ujar seorang sumber pasar yang enggan disebut namanya, Jumat (31/7). Won menguat 2 persen ke posisi 1.418,0 per dolar, level terkuat sejak 20 Oktober tahun lalu. Mata uang Negeri Ginseng sebelumnya sempat menyentuh titik terendah 17 tahun di 1.561,50 per dolar pada bulan lalu. Sepanjang Juli, won telah menguat lebih dari 8 persen dan diproyeksikan mencatat lonjakan bulanan terbesar sejak Maret 2009.
Seorang pejabat valas di Kementerian Keuangan Korea Selatan menolak mengonfirmasi intervensi tersebut. Namun, seorang trader valas Korea Selatan menduga Seoul dan Tokyo bertindak bersama, mengingat kedua negara sebelumnya menyatakan akan berkoordinasi ketat. "Kami menjaga koordinasi erat dengan AS dan Jepang. Kami akan terus bekerja sama," kata Moon Ji-sung, wakil menteri keuangan untuk urusan internasional, dalam sambungan telepon dengan Reuters.
Langkah ini menandai pertama kalinya Korea Selatan dan Jepang melakukan intervensi valas secara simultan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2 Juli, wakil menteri keuangan Korea Selatan menyatakan dalam konferensi pers bahwa Seoul terus berkomunikasi dengan Jepang dan sekutu utama lainnya mengenai isu nilai tukar. Pekan berikutnya, diplomat mata uang tertinggi Jepang menambahkan bahwa Tokyo menjalin komunikasi erat dengan pejabat valas Korea Selatan karena pasar keuangan kedua negara kerap menunjukkan pergerakan serupa.
Bagi Indonesia, intervensi bersama ini menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap mata uang Asia masih tinggi di tengah kebijakan suku bunga tinggi Bank Sentral AS. Rupiah, yang sempat tertekan hingga level Rp16.400 per dolar pada Juni, kini bergerak di kisaran Rp16.200. Bank Indonesia sendiri telah melakukan intervensi ganda di pasar spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk menjaga stabilitas. Koordinasi Korea-Jepang bisa menjadi preseden bagi kerja sama serupa di kawasan, termasuk melalui forum ASEAN+3.
Ke depan, efektivitas intervensi bersama ini akan diuji oleh sentimen global. Jika dolar AS kembali menguat akibat data ekonomi AS yang solid, tekanan jual terhadap mata uang Asia bisa kembali muncul. Pertanyaannya, mampukah Korea Selatan dan Jepang mempertahankan koordinasi ini dalam jangka panjang, atau intervensi hanya menjadi solusi sementara di tengah ketidakpastian pasar?



